
Darwis ingin memberikan waktu pada Rama untuk melepas kerinduanya pada Kirana dan meningalkan ruangan tempat kirana dirawat. Lagi pun Darwis berjanji untuk segera memberikan kabar pada Bu Ratih tentang keadaan Kirana. Sekalian juga Darwis ingin memberitahu shela dan keluarganya. Diluar ruangan masih nampak beberapa pengawal yang setia menunggu untuk menjaga keamanan keluarga Pak Danu.
Sementara di ruang ICU Rama mengajak kirana berbincang walaupun tahu Kirana masih belum bisa memberi respon apa apa, karna masih juga belum siuman.
"Master Kirana, kenapa tidak memberitahuku sebelum ini terjadi, kenapa tidak mengatakan apapun padaku, kenapa membiarkanku bertemu denganmu dalam keadaan seperti ini, hu..hu..hu.." Ucap Rama lirih.. Tangisnya kembali pecah buliran bening kembali membasahi pipinya
Pak Danu di bimbing istrinya karna masih lemah seusai mendonorkan Darah untuk Kirana juga berniat menjenguk Kirana keruangan, namun sebelum masuk pak Danu terlebih dulu mengintip Rama dari kaca yang menempel di pintu Ruang ICU. mendapati putra angkatnya yang tengah menyandarkan kepalanya di pundak kirana yang masih belum tersadar dari komanya, hati pak Danu pun turut bersedih.Dia tahu Rama yang telah di asuh seperti putra kandungnya sendiri pasti sedang merasa sangat terpuruk atas apa yang di alami Kirana. apalagi setelah tahu bahwa Kirana adalah kakak kandungnya. Pak Danu menghela nafas panjang dan mengurungkan niatnya untuk masuk..
"Ma, sebaiknya kita pulang Dulu biarkan Rama di sini dulu bersama Kirana, masih juga ada Darwis dan beberapa pengawal yang menjaga mereka di sini" ucap pak darwis di susul anggukan Istrinya
***
"Apa bang, Kirana di rumah sakit, apa yang terjadi" tanya shela kaget setelah menerima panggilan telfon Darwis
Pak Danu dan Istrinya ikut terkejut dan merapatkan duduknya ke dekat shela
"Lospeker, Lospeker..!" pinta pak Bayu pada Shela yang kemudian di iyakan oleh shela
"Benar shel, besok saja abang cerita bagaimana kronologinya" jawab darwis dari ujung terlfonya
"Shela kesana sekarang ya bang?" tanya shela
" Jangalah, ini sudah larut malam, besok pagi saja kesininya" jawab darwis lagi
"Baik lah bang besok shela ke sana secepatnya..
***
Malam ini Darwis dan Rama berjaga di ruangan itu.. tak sedikit pun Rama bergeser dari kursinya dan tertidur dalam keadaan duduk dengan kepala masih bersandar di tepi ranjang dimana Kirana terbaring. Tanganya masih tak lepas dari jemari lentik Kirana. senang sekaligus hancur melihat keduanya dalam balutan rindu yang saat ini hanya bertemu tanpa bertegursapa.
Darwis membiarkan Rama dan tak ingin membangunkanya, mungkin Rama pun juga sangat kelelahan setelah insiden yang terjadi bersama kirana kemarin.
***
"Rama..Rama.." bisik Darwis sambil menguncang tubuh rama pelan
Rama membuka matanya perlahan, menatap Kirana kemudian mengalihkan pandanganya ke Darwis yang membangunkanya.
"Master.." ucapnya masih dengan mata layu
Darwis tersenyum tipis ke arah Rama
"Sudah pagi, sebaiknya Rama pulang dulu diantar sopir dan para pengawal, bukankah semalaman lelah menjaga Kak Kirana" ucap Darwis dengan suara lirih
__ADS_1
"Tapi Master.." ucapnya terhenti. Darwis tahu pasti sangat berat bagi rama meninggalkan Kirana yang belum juga siuman
"Kamu bisa kembali lagi nanti kemari, tapi kamu harus istirahat dulu, jika kak Kirana tahu kamu seperti ini Dia pasti sangat sedih, apalagi kalau Rama sampai ikut sakit"bujuk Darwis kemudian
Terdiam , kemudian Rama menatap Kirana sejenak hingga akhirnya Rama mengangguk ke arah Darwis. lalu Darwis pun membimbing Rama keluar dari ruangan ICU kemudian mengatakan pada penjaga Rama, agar membawanya pulang terlebih dahulu.
Setelah Rama dan para pengawalnya pergi Darwis pun kembali masuk Ruangan ICU dan duduk di tempat di mana Rama tadi menjaga Kirana.
*Di alam mimpi*
"Kirana.. kirana.. " pangil pak Arman dan bu Hana
kirana mendekati kedua orang tuanya yang menggandeng seorang anak berusia 2thn kemudian menyerahkanya pada kirana. Itu adalah Rama kecil..
"Jaga adikmu baik baik sayang" ucap Ibunya dengan senyum dan wajah yang bercahaya
"Ibu..Ayah mau kemana? " tanya Kirana sabil memeluk Rama kecil
Ibu dan Ayahnya kembali tersenyum kearahnya
"Ibu dan Ayah pergi dulu sayang, kita akan berkumpul di suatu tempat yang indah jika waktunya telah tiba" jawab Ayahnya
"Iya sayang, sekarang bawa adikmu bersamamu" timpal Ibunya
***
Darwis menggengam jemari kirana lembut seraya membisikan ketelinga Kirana
"Hai putri tidur yang cantik, bangunlah, bicaralah padaku dengan sikap dinginmu yang aku rindukan" ucap darwis dengan air mata yang berlinang..
Tiba tiba dari sudut mata kirana yang masih terpejam pun meneteskan air mata dan perlahan jemarinya yang di genggam oleh Darwis pun memberi respon dan bergerak satu demi satu. Darwis yang terkejut pun tersenyum dan segera menghapus air matanya. di letakanya tangan Kirana perlahan kemudian terburu buru berlari keluar ruangan untuk mencari perawat atau Dokter agar bisa mengabarkan perkembangan Kirana.
Baru saja keluar dari pintu
Brruukk...
"Aauuu..."
bertabrakan dengan shela. Ternyata shela baru tiba. keduanya terjatuh dan segera bangkit.
"Bang Darwis, kok lari sih? " runtuk shela
"Shel..shel..Jagain kirana ya, Abang ke ruang Dokter dulu.." ucapnya sambil menyentuh kedua pundak adiknya itu..
__ADS_1
"Hah, Kirana kenapa kak?" tanya shela ikut panik
"Nggak, Kirana barusan mengerakan tanganya"ucap darwis sambil terburu buru pergi meninggalkan shela, Darwis ingin segera bertemu dengan dokter..
***
" Syukurlah.., pasien sudah melewati masa kritisnya" ucap dokter sambil tersenyum menghibur seusai memeriksa keadaan Kirana
"Jadi bagaimana dokter, kenapa Kirana belum membuka matanya" tanya darwis harap harap cemas
"Mungkin butuh waktu beberapa jam lagi, biarkan pasien terlepas dari pengaruh obat biusnya terlebih dahulu, nanti setelah pasien bangun jangan boleh terlalu banyak bicara dulu, nanti kami kembali lagi untuk memeriksanya" ucap Dokter itu kemudian..
"Alhamdulilah" bisik Shela lirih sambil mengelus dadanya
"Trimakasih Dokter" ucap Darwis sambil melempar senyum ke arah Dokter
Dokter membalas senyuman Darwis dan mengangguk kemudian bersama para perawat meninggalkan ruangan itu.
Darwis yang gembira menghampiri Kirana yang masih belum membuka matanya lalu membelai lembut kepala gadis yang di cintainya itu yang masih berbalut perban. di ikuti Shela yang di sampingnya menggengami tangan Sahabat karibnya itu.
Setelah beberapa jam kemudian Keluarga pak Danu dan Rama yang sudah di kabari oleh Darwis pun Tiba di sana ada juga Ayah dan ibu Darwis, serta Ibu Ratih yang turut berkumpul. dengan sabar menunggu Kirana bangun. terlebih Rama yang tak ingin melewatkan momen itu berada tepat di samping kepala Kirana
Perlahan lahan mata bulat itu terbuka, pertama kali dalam bangun tidur panjangnya Kirana melihat Rama. Senyum Rama tersunging di bibir namun air mata haru menetes bening di pipi bocah laki laki itu.
"Rrrama" ucap lirih Kirana dengan wajah yang masih pucat
Rama tak dapat menahan dirinya, mengalungkan lenganya dileher kirana dan menciumi pipi kirana bertubi tubi. setiap pasang mata yang menyaksikan adegan keduanya tak kuasa menahan linangan air mata haru mereka. Begitupun pak Danu yang biasanya tampak berwibawa pun pipinya basah oleh linangan Air mata..
"Aku sangat takut kak Kirana tidak bangun lagi" ucap Rama lirih
"Kakak.., kamu tak panggil master lagi?" tanya kirana terbata, airmata pun mengalir di sudut matanya
Rama menggeleng pelan dan kembali memeluk Kirana
" Aku adikmu, kak kirana sangat ingin aku memanggil kak Kirana, kak kirana melakukan semua ini karna kak Kirana tahu bahwa aku Adikmu" ucap rama yang masih terisak haru
*Ya Allah, apa mereka sudah tahu semuanya, bagaimana jika pak Danu marah dan memisahkanku lagi dengan Rama* bisik Kirana dalam hati
Pak Danu yang sedari tadi diam diam menangis segera menghapus air matanya, kemudian mendekati kirana dan menyentuh lenganya
"Jangan khawatir Kirana, saya tidak akan memisahkanmu lagi dengan Rama" ucap pak Danu menegaskan sambil tersenyum
Kirana menatap pak Danu yang kemudian menganguk pelan, dibalas senyum oleh kirana. seakan pak danu tahu apa yang berkecamuk di hati kirana barusan.
__ADS_1
Drama itupun akhirnya terhenti ketika dokter dan beberapa perawat masuk untuk kembali memeriksa Kirana