Kirana Gadis Panti Asuhan

Kirana Gadis Panti Asuhan
Kirana Gadis Panti Bab 18 #Kembali ke panti#


__ADS_3

Pagi harinya Ibu Ratih bingung, tidak ada yang bisa di sajikan untuk makan anak anak panti, karna uang pemberian para donatur telah di rampas oleh pak Hendro..


Dengan terpaksa bu Ratih memberanikan diri membuka laci meja belajar milik kirana, bu Ratih menemukan kalung emas dan cincin peninggalan ayah dan ibu kirana


*Mungkin ini bisa membantu* pikir Bu ratih.


tapi kemudian ibu Ratih mengurungkan niatnya


*Oh tidak tidak, sama saja aku mencuri. Apa lagi kirana sekarang masih ada di rumah sakit* bu ratih meletakan kembali perhiasan itu pada tempatnya dan mencari cari barang lainya. kemudian menemukan beberapa lembar uang pecahan 10000 dan 5000an berjumlah 120.000


*mungkin kirana akan mengerti bila hanya ini yang bisa aku pakai untuk makan adik adik pantinya*bisik Bu Ratih lagi dalam hati


Kemudian bu Ratih bergegas menuju warung sembako dan membeli beberapa kilo beras dan mi instan dan juga telur. rasa sedih berkecamuk dalam hati bu Ratih, menenteng kantong belanjaanya memasuki dapur sambil sesekali menyeka air matanya. para anak perempuan yang ikut memasuki dapur untuk membantu Ibu ratih saling bertukar pandang melihat ibu ratih yang berurai air mata. karna selama ini tak pernah melihat ibu Ratih menangis.


salah seorang yang paling besar di antara anak anak itu bernama Lala memdekati bu Ratih


"Bu, kenapa ibu menangis" tanya lala


"Tidak apa apa sayang, maafkan ibu hari ini hanya bisa menyiapkan mi instan untuk kalian" jawab Bu Ratih masih berlinang air mata


"jangan menangis bu, kami mengerti" jawab Lala di ikuti anggukan anak anak yang Lain.


Bu ratih menatap anak anak itu dengan tersenyum walau hatinya getir, Lala memeluk pinggang bu ratih di ikuti anak anak lainya. seakan mereka ingin mengurangi kesedihan ibu Ratih.


*Di mana dirimu mbak Maya, kenapa tak kunjung kembali, aku tak mampu mengendalikan panti yang kacau akibat ulah Hendro seperti ini* bisik Bu Ratih dalam hati


***


Selesai menyiapkan mi instan Lala memangil anak anak panti yang lain untuk makan.


pada saat mereka tengah menikmati mi instan di piring masing masing, pak Hendro dan dua temanya itu masuk dan Duduk dikursi yang biasa mereka tempati.


" Ratih mana makanan kami?" tanya pak Hendro kala melihat makanan tak tersedia di meja makan untuk mereka


"Uang panti sudah kalian rampas, apa yang bisa saya hidangkan untuk kalian" ucap bu Ratih mulai kesal


Pyarrr...


"Hai, berani sekali nada bicaramu kasar pada saya, kamu pikir kamu siapa?" hardik pak hendro pada bu Ratih sambil membanting gelas yang ada dihadapanya kelantai


anak anak panti ketakutan dan bergumul menjadi satu di ujung ruangan


"Apa kalian sama sekali tidak punya hati, kalian merampas hak anak anak yatim" ucap bu Ratih dengan nada suara semakin keras


Plakk...


sebuah tamparan dari pak Hendro mendarat di pipi Bu Ratih. membuat semua anak anak panti menangis dan berlari dan bergumul mengelilingi dan memeluk Bu Ratih


"iibuu..hu..hu.." tangis mereka pilu

__ADS_1


"Jika sekali lagi berani menentangku aku seret kalian keluar, kalian tahu panti ini juga milik saya" ucap pak Hendro sambil menunjuk wajah bu Ratih. kemudian pak Hendro dan teman temanya berlalu pergi meninggalkan ruang makan dimana anak anak panti masih dalam ketakutan.


***


Di rumah sakit kirana merasa tak tenang. Entah kenapa dalam pikiranya terlintas kecemasan pada anak anak panti. mungkin itu semacam firasat.


*Ah tidak tidak Bu Ratih pasti menjaga adik adik panti dengan baik* bisiknya dalm hati.


"Kiranaa.."


sapa shela mengejutkanya. sambil mendorong pintu.


"Hai Shel.." balas Kirana tersenyum


shela masuk masih berpakaian seragam abu abunya dan buru buru menyodorkan sebuah kertas pada kirana dan sebuah piagam untuk Kirana


"Seperti biasa kamu primadona dan bintang kelas" ucap shela sambil tersenyum


Kirana membalas senyum, rupanya Shela sudah menerima SKHU dari sekolah begitu juga milik kirana


"Trima Kasih shel" ucap kirana di balas angukan shela


"Kak darwis Mana?" tanya shela yang tak bertemu darwis sejak memasuki rumah sakit tempat Kirana di rawat


"Katanya pulang dulu mandi"


"Oh"


***


Dikamar anak anak panti bergumul merencanakan sesuatu untuk membantu Ibu Ratih, namun mereka bicara sambil bergumul dan berbisik bisik agar tidak terdengar oleh Bu ratih


"Kasihan Ibu Ratih, pasti bingung dengan uang belanjanya yang di rampas oleh pak Hendro" bisik bagas


"Iya benar" ucap Lala


" Gimana kalo selama kita libur sekolah kita bantu Bu Ratih cari uang" ucap Bagas lagi


"Caranya gi mana?" tanya Lala


Bagas diam sejenak dan memikirkan


"Kita ngamen" ucapnya kemudian


"Hah, kalau bu Ratih tahu nanti bisa marah" ucap anak yang lain


"sstttt... jangan keras keras nanti bu Ratih dengar dari kamar sebelah" ucap bagas


"Gimana gimana" lala penasaran

__ADS_1


"besok bilang saja kita mau ke taman bermain, supaya Bu Ratih tidak curiga"


yang lain mengangguk angguk setuju


***


keesokan paginya seperti yang mereka rencanakan, anak anak itu pamit pada Bu Ratih, bu Ratih tak menaruh curiga sama sekali karna mereka memang biasanya bermain di taman yang memang terletak beberapa ratus meter dari panti.


Anak anak sepakat berkumpul di taman pada jam yang mereka tentukan untuk pulang bersama agar bu Ratih tak menaruh curiga. kemudian anak anak itu berpencar dari jalan ke jalan dan lampu merah..


Sayangnya aksi mereka di jalanan di ketahui oleh pak Bargo dan pak Leman yang kemudian melapor pada pak Hendro.


Hingga tiba saat mereka hendak pulang dan berkumpul di taman. mereka mengumpulkan dan menghitung uang hasil mengamen mereka menjadi satu. uang itu di pegang oleh bagas dengan gembira ingin segera pulang dan menyerahkanya pada Ibu Ratih. tapi pada saat mereka hendak beranjak dari taman pak Hendro dan kedua temanya itu menghadang mereka


"Heh, serahkan uang itu" hardik pak Hendro


"Jangan pak uang ini untuk bi Ratih"jawab bagas dan anak anak lain ketakutan


"Haaahhh..banyak omong, cepat serahkan" volume suara pak Hendro semakin mengeras


Anak anak itu saling bertukar pandang dan menoleh kepada bagas yang menyembunyikan uang mereka di balik pungungnya. Namun pak hendro yang mengetahui akan hal itu menarik tangan bagas dengan paksa untuk merampas uang hasil jerih payah anak anak itu dengan paksa


"aaa..jangan pak.." teriak bagas sambil mempertahankan uang itu.


plakk...


tamparan mendarat di wajah bocah malang itu dan sudut bibirnya berdarah. uang itu pun berhasil di rampas oleh pak Hendro. sedang anak anak yang lain mulai menangis


"Diam" hardik pak Hendro.


"Besok kalian kembali lagi kesini dan mengamen lagi, kalu ada yang melawan akan saya culik kalian satu persatu dan akan saya tenggelamkan kalian di sungai agar tidak bisa kembali lagi ke panti" ancam pak Hendro


anak anak itu tak berdaya dan menangis kembali ke panti dengan hampa dan sedih. Namun sesampainya di panti, bagas meminta anak anak lainya berpura pura tidak terjadi apa. takut kalau Ibu Ratih tahu akan semakin sedih.


dan benar saja saat mereka masuk ke halaman panti Ibu Ratih sudah menunggu di depan pintu.


" Aduh..anak anak ibu kok baru pulang, ayo masuk dan cuci tangan kalian, ibu sudah siapkan telur goreng dan nasi untuk kalian" kata Bu Ratih sambil memandangi anak anak asuhnya satu persatu. dan tatapanya terhenti ke wajah Bagas yang memerah kebiruan. dengan cepat bagas memalingkan wajahnya berharap ibu Ratih tak melihat pipinya yang memar. tapi sayangnya Ibu Ratih sudah terlanjur mengetehuinya. kemudian mendekati Bagas dan menyentuh pipinya


"Lhoh bagas kok memar begini kenapa?" tanya bu ratih sambil memandangi Bagas


"Ehh.. anu Bu.. tadi Bagas tepeleset dan jatuh" jawab Bagas berbohong


"Benar begitu" tanya Bu Ratih pada anak anak yang lain.


Bagas menyengol pundak Lala sambil mengedipkan mata agar mengiyakan, sebab tak ingin bu Ratih bersedih..


"Iya bu" jawab lala di ikuti anggukan anak anak lain.


"Ya sudah, ayo masuk cuci tangan kalian!" titah Bu Ratih lagi.

__ADS_1


Kemudian anak anak itu pun masuk dengan hati sedih yang berusaha mereka sembunyikan. Bahkan penderitaan mereka tak cukup sampai di situ, ancaman dari pak Hendro yang mereka terima tadi, esok mereka harus kembali mengamen dan harus menyerahkan hasil uang mereka mengamen untuk pak Hendro dan teman temanya


__ADS_2