Kirana Gadis Panti Asuhan

Kirana Gadis Panti Asuhan
Kirana Gadis Panti Bab 21 # wajah Kirana mengingatkan pak Danu pada Seseorang#


__ADS_3

Setelah Kirana ikut bergabung bersama Pak Danu dan Istrinya beserta Bu Ratih di ruang tamu kemudian pak Danu memulai perbincangan.


"Seingat saya dulu pengurus di panti ini adalah Bu Maya, ke mana beliau?"


Kirana dan Bu Ratih saling melempar pandang


" Betul pak, dulu Bu maya yang mengurus semuanya, dan saya hanya membantu seperlunya saja tapi sekarang kami juga tidak tahu Ibu Maya ada di mana pak Danu"Jawab Bu Ratih mulai menampakan kesedihanya, begitupun Kirana


"Lho kok bisa, bagaimana ceritanya?" tanya bu wanda istri Pak Danu ikut penasaran


" Dua bulan yang lalu Bu Maya pergi ketika kami semua tidak ada di panti, bahkan tidak ada yang tahu beliau kemana, dan hanya meninggalkan pesan pada secarik kertas bahwa beliau ke luar kota, namun sampai sekarang kami juga tidak dapat informasi apa apa lagi bahkan nomor ponsel beliau juga tidak aktif" tutur Bu maya menjelaskan semua pada pak Danu


"Aneh, sepertinya ini bukan hal sepele, jika Ibu maya pergi keluar kota dan minim jaringan seluler, dia bisa saja mengirim surat atau apa mungkin?" tanya pak Danu merasa ada yang tak beres


Lagi lagi Bu ratih dan Kirana hanya menggeleng


"Saya dan kak Darwis juga sudah melapor ke kantor polisi, namun sampai sekarang hasilnya pun nihil" ucap kirana


Pak Danu menangkap sorot mata Kirana yang berkaca kaca, Tiba tiba menatap mata dan wajah Kirana membuat pak Danu teringat pada seseorang


"Mudah mudahan Ibu maya segera memberi kabar atau cepat ketemu" ucap pak Danu berusaha mengurai kesedihan


"Terima kasih doanya pak Danu" ucap ibu maya


pak Danu dan istrinya mengangguk pelan


"Oh ya ibu Ratih, saya sudah dengar semuanya dari Darwis tentang masalah di panti ini" ucap pak Danu


"Masalah, masalah apa ya pak?"tanya bu ratih


"Tentang kesulitan di panti ini, dan tentang adik Ibu maya yang bernama pak Hendro" jawab pak Danu


Kirana dan Bu Ratih kembali bertukar pandang


"Oh itu ya pak" ucap Bu Ratih


"Begini Bu, saya paham kalau sampai sekarang belum ada yang melaporkan pak Hendro karna menghormati bu Maya, tapi kita harus mencari jalan keluarnya sekarang" tutur pak Danu

__ADS_1


"Iya pak"jawab bu Ratih


"Setiap seminggu sekali saya akan menyuruh beberapa kayawan saya untuk memasok sembako ke panti ini, karna jika saya membantu dalam bentuk tunai, saya takutnya akan terjadi perampasan lagi" ucap pak Danu menegaskan


"Oh.. Trima kasih pak" ucap Bu maya merasa gembira


"Iya bu, Lagi pula ini amanah dari seseorang" ucap pak Danu


"Seseorang siapa pak?" tanya Bu Maya


Namun pak Danu hanya tersenyum dan menjawab


"Seseorang yang juga tidak saya ketahui keberadaanya Bu"


Setelah itu pak Danu terdiam dan nampak murung. Tak ada yang Tahu siapa orang yang di maksut oleh pak Danu. kemudian pak Danu melirik jam tangan mahalnya lalu menoleh dan mengangguk pada istrinya seakan memberi Isyarat


"Baiklah bu Kami pamit dulu" ucap Bu wanda istri pak Danu


"Oh, kalau begitu biar saya panggil Rama di kamar anak anak" ucap Bu Ratih kemudian beranjak masuk ke dalam.


Setelah Di halaman nampak Rama yang masih asyik ber cengkrama dengan Kirana yang juga turut mengantarnya sampai di depan pintu mobil. Kedekatan keduanya membuat pak Danu terbayang masa kecilnya, di mana pak Danu juga memiliki adik perempuan yang pergi bersama lelaki yang di cintainya dan tak pernah kembali lagi kerumah mereka..


pak danu mengangguk pelan dan tersenyum pada istrinya, kemudian masuk dan hanya tinggal Rama yang belum


"Rama, pakai lagi kalungnya" ucap Kirana sambil menyodorkan kalung Ibunya dan cincin pernikahan bersemat nama ayah dan ibu mereka yang pernah di hadiahkan pada Rama.


Rama tersenyum,


"Kakak saja yang pakai, dulu Rama tidak pernah memakai kalungnya, tapi selalu membawanya kemana mana kak, kini kalung ini lebih baik di tangan kakak"ucap Rama sambil memeluk Kirana. kirana pun membalas pelukan adiknya, setelah itu Rama pun masuk ke mobil bersama pak Danu dan istrinya.


Rama menurunkan kaca mobil dan melambaikan tangan ke arah kirana dan juga anak anak panti yang juga ada di belakang kirana..


***


Di tempat berbeda pak Hendro dan teman temanya tengah menikmati makanan di warung makan.


"Sial, gara gara gadis itu kita jadi kehilangan sumber uang kita" Ucap pak bargo

__ADS_1


"Kalo begini terus kita kapan bisa senang senang punya duit banyak" ucap si leman lagi


"Benar, lain kali kita buat perhitungan denganya"jawab pak hendro..


"Caranya gi mana ndro, kita pingin ngehajar anak itu, malah kita yang babak belur" ucap bargo lagi


"Hah, sudahlah nanti kita cari jalan keluarnya" jawab pak Hendro. sambil menikmati makanan mereka yang belum habis


Tiba tiba pak Hendro mendengar percakapan 2orang yang duduk di bangku dan meja di belakangnya.


"iya, lagian si bos nyuruhnya ada ada saja, nyuruh nyari donor ginjal, emang ada orang mau jual ginjalnya" ucap salah seorang diantara mereka..


"Iya ya, secara kalo orang waras mana ada yang mau ginjalnya di bagi" ucap temanya lagi.. Kemudian pak Hendro meninggalkan kursinya dan beralih ke kurasi kosong di samping dua orang itu.


"Eh permisi bapak bapak, saya boleh gabung duduk di sini?" tanya pak Hendro Ramah


Leman dan bargo yang saling bertukar pandang, tak tahu apa yang di rencanakan oleh pak Hendro.


"Silahkan" jawab dua orang itu


kemudian pak Hendro pun duduk di antara dua orang itu.


" Eh begini bapak bapak, saya tadi tak sengaja mendengar percakapan kalian berdua, saya jadi penasaran siapa yang butuh donor ginjal?"tanya pak hendro


"Bos kami, putra semata wayangnya sakit parah gara gara gagal ginjal, dan butuh donor" ucap salah satu diantara 2 orang tadi.


"Oh kalo begitu saya bisa bantu siapa tahu saja keluarga saya ada yang berminat mendonorkan ginjalnya"


"wah.., Bisa bisa..bos kami menawarkan Dua ratus juta bagi orang yang mau mendonorkan ginjalnya pada anak bos kami" ucap orang itu.


seketika mata pak Danu terbelalak mendengar nominal yang di sebutkan orang itu.


"Silahkan hubungi nomor ini jika ada pendonor yang bersedia" ucap seorang lagi sambil menyodorkan kartu nama milik bosnya.


Pak hendro menerima kartu nama itu dan tersenyum. kemudian permisi kembali ke tempat duduknya semula


"Siapa ndro, kayak kenal saja kamu, sok akrap" ucap Leman

__ADS_1


"Halah diem aja Lhu, nanti saya kasih tahu di jalan" jawab pak Hendro menyungging senyum jahat. Otaknya bekerja merencanakan sesuatu yang dapat membuatnya bermandikan uang untuk saat ini..


__ADS_2