
Kirana masih duduk termenung di Kamarnya memikirkan Kehadiran Pak hendro dan kawananya di tengah panti. Tentu saja masih memikirkan bekas sayatan di tangan pak Hendro. Hatinya masih penuh dengan pertanyaan tentang pak Hendro. paerlawananya terhadap perampok yang menyatroni rumahnya di masalalu kembali membayangi ingatanya..
"Kirana!"
Seketika lamunanya buyar saat tiba tiba terdengar suara Ibu Ratih sambil menepuk halus pundaknya. Kirana menoleh kepada Bu ratih dengan senyum tipisnya.
"Apa yang kamu fikirkan Kirana? apa kamu takut pada ancaman pak Hendro tadi? " tanya Bu Ratih penuh selidik melihat kirana yang melamun barusan.
Kirana menggeleng dan berkata
"Tidak Bu, Beberapa minggu lagi ujian nasional di sekolah, saya sedang memikirkanya" jawabnya berbohong
"Oh.., sebaiknya banyak belajar agar nilaimu sbg juara dan Biaya siswa masuk perguruan tinggi benar benar dapat kamu raih" ucap bu ratih tersenyum manis pada kirana sembari mengusap pundak kirana lembut.
"Ya Bu" jawab kirana sambil memperhatikan paperbag milik Bu Ratih yg ada di Kamarnya.
"Ibu Mau pindahan?" tanyanya kemudian sambil mengerutakan keningnya
"Iya, Ibu mau pindahan, tidak jauh kok, cuma pindah ke kamar Kirana, karna sekarang kamar Ibu di tempati oleh pak Hendro" jawab Bu Ratih sambil tetap menyungging senyum di bibirnya.
"Owh, mari Bu, Kirana bantu menata pakaian Ibu" ucap kirana yg kemudian turun dari ranjang dan membantu Bu Ratih menata pakaianya di Lemari pakaian
***
Pagi ini semua berkumpul di meja makan menikmati sarapan Pagi. ada juga pak Hendro dan 2 orang temanya yang tak pernah jauh dari pak Hendro yang juga ikut sarapan di meja itu.
"makan yang banyak Bargo.. Leman, kapan lagi kita menikmati makan gratis begini" ucap Pak Hendro pada kedua temanya itu sambil terkekeh.
Baik Bu Maya, Bu Ratih dan semua anak2 panti saling bertukar pandangan merasa ada ketidak nyamanan di hati mereka sejak kehadiran Pak Hendro dan kedua temanya itu. Namun mereka berusaha acuh
"Ratih, nanti siang berangkatlah ke pasar dan membeli perlengkapan lebih banyak dari biasanya, kebutuhan dapur bertambah sekarang" ucap Bu Maya pada Bu Ratih
"Baik Mbak"Jawab Bu Ratih sambil melirik ke arah pak Hendro dgn tatapan masam namun pak Hendro tak memperhatikan dan acuh sambil terus menyuap kembali menyendok nasi porsi jumbo di ikuti kedua temanya
__ADS_1
"Seperti orang sudah seminggu tidak makan"
bisik bu Ratih pada kirana yang ada di sampingnya dan Kirana pun hanya tersenyum masam
Tiit..tiit..
"Kirana.."
Terdengar suara kelakson dari luar dan suara shela berteriak
"Kirana segera mengambil tas sekolahnya dengan terburu buru dan berpamitan dengan Bu Maya dan Bu Ratih
"Bu, seperti biasa kirana pulang telat" ucapnya sambil mencium pungung tangan Bu Maya dan Bu Ratih dan dibalas anggukan keduanya
"Ayo anak anak segera kalian juga berangkat nanti telat" titah Bu Maya pada anak anak panti setelah kirana berlalu
***
"Aku sih sudah menduga kamu bakal bilang begini, tapi tu.. pak sopir ngotot mau jemput kamu" jawab shela sambil melempar lirikan ke arah Darwis abangnya.Darwis pun hanya tersenyum namun dalam hatinya tersipu malu pada shela yang seakan berniat mengodanya di hadapan Kirana
"Oh, sopirnya istimewa pasti bayaranya mahal ya shel" ucap Kirana membalas senyum shela
"Nggak kok, malah sopirnya setiap hari ngasih aku uang jajan, katanya yang penting bisa liat Kirana setiap hari xi..xi..xi.. "jawab kirana sambil cekikikan..
" Ya Ampun Shela bikin malu abang" ucap Darwis semakin malu sambil fokus mengemudi. niatanya mendekati Kirana di bongkar adiknya habis habisan
***
Seperti kemarin kemarin sepulang sekolah Darwis selalu lebih awal menungu di gerbang sekolah, seolah tak ingin kehilangan kesempatan bersama Kirana dan keduluan bang Ojek. sedang shela membiarkan abangnya dengan senang hati mereka berpisah di gerbang sekolah dan shela pun selalu pulang di jemput sopir pribadinya yaitu pak Mamat
"Kamu kelihatan bersemangat hari Ini Kirana" ucap darwis di perjalanan menuju tempat latihan, melihat wajah Kirana yang dari tadi begitu berseri seri
"Ya kak, hari ini aku akan kembali bertemu Rama" Jawab kirana dengan mata berbinar
__ADS_1
Darwis resenyum ikut bahagia melihat Kirana yang hari ini tak seperti biasanya.
Apa sebenarnya yang terjadi hingga kamu terpisah dengan Adikmu Kirana?" tanya Darwis kemudian. seketika wajah kirana memerah dan menampakan wajah sedihnya, matanya seakan seperti langit yang mendung mendengar pertanyaan Darwis. Darwis yang melihat wajah Kirana demikian segera menepikan mobinya, kemudian meraih tangan gadis yang duduk disebelahnya itu, rasanya tak rela membiarkan kirana menghadapi semua masalah berat yang menimpa gadis yang di Cintainya itu
"Kirana maaf, aku tak bermaksut.. " Darwis tak melanjutkan kata katanya, menatapi kedua bola mata kirana yang sudah banjir membasahi pipinya
Namun Kirana tersenyum kearah darwis. Darwis mengulurkan tanganya berusaha menyibakan air mata di pipi kirana dengan ibu jarinya
*hidupmu pasti begitu berat Kirana* Bisiknya dalm hati.
"Apa kamu mau menceritaknya padaku? Aku mohon bagi aq sedikit saja penderitaanmu Kirana" Ucap Darwis lagi sambil kedua tanyanya yang tadi memegang kemudi kini menempel di pipi Kirana dan mbelainya lembut
Kirana menganguk dan memindahkan tangan darwis lalu mengahpus airmatanya sendiri dengan tisyu yang dia bawa.
"Lanjutlah mengemudi kak, aku akan menceritakanya sambil di perjalanan, kita harus sampai dengan cepat, yang lain pasti sudah menungu"ucap kirana
Darwis pun mengangguk dan kembali mengemudikan mobilnya. Sementara di perjalanan kirana menceritakan semua dari awal Kematian orangtuany ditangan perampok dan tentang Rama yang di adopsi seorang pengusaha.
Kini Darwis mengerti, begitu banyak misteri yang membuat Kirana selama ini menutup diri, dan terkesan besikap dingin pd orang lain. Kini tekat Darwis menghangatkan kebekuan hati Kirana semakin kuat, bahkan seiring berjalanya waktu, Cintanya pada kirana semakin tak mampu di tepisnya lagi.
***
Di tempat latihan, Kirana masih selalu mencuri pandang terhadap Rama. bahkan terkesan Kirana begitu perhatian terhadap Rama, hal yang tak di sadari oleh orang lain, tapi Darwis dapat melihat hal itu. sesekali darwis beradu pandang dengan Kirana sambil mengangguk sebagai bahasa isyarat dan melihat binar mata kirana yang nampak begitu bahagia. bahkan mungkin lebih bahagia dari pada mendapatkan medali pada setiap pertandinganya.
***
Sore hari saat Kirana pulang, dan segera membersihkan diri. Kemudian Ke Dapur membantu Ibu Ratih yang sibuk memasak untuk makan malam. Tapi anehnya sedari tadi Kirana tak melihat keberadaan Ibu Maya. biasanya setiap Kirana ikut kedapur sudah ada Ibu maya dan Ibu Ratih bersama sama..
"Bu, Ibu maya kemana?" tanyanya pada Bu Ratih
Ibu Ratih hanya menggeleng pelan sambil menatap nanar kearah kirana. Kemudian melanjutkan memasak dan mempersiapkan hidangan di meja makan. Kirana pun mengikuti bu Ratih, namun hatinya kini merasa tak tenang. sesekali pandangan matanya mengarah ke pintu kamar milik Bu Maya dan berharap Bu maya segera membuka pintu dan keluar kamarnya menikmati makan malam bersama seperti biasanya. Namun tak ada tanda tanda keberadaan Bu Maya
yang ada selera makan Kirana hilang kala melihat Pak Hendro dengan kedua temanya yang selalu dengan rakusnya menyantap hidangan di meja hingga kadang Kirana berfikir mungkin yg di perut mereka berisi kanduk hinga tak pernah habis tempat menyimpan makanan yang di sajikan. itu membuat geleng geleng kepala setiap mata anak anak panti yang menyaksikan..
__ADS_1