
Seminggu berlalu, masa liburan anak sekolah telah habis, Kirana dan shela pun telah mendapatkan panggilan kuliah di sebuah universitas kedokteran. Hari pertama mereka menjalani Mos..
"Gi mana luka jahitanmu Kirana?"
tanya shela saat berada di aula kampus.
"Sudah kering kok shel, sudah tidak terasa sakit sama sekali"jawab shela sambil berjalan hendak bergabung dengan teman teman barunya di kampus.
Sepasang mata dari kakak senior memperhatikan Kirana dari kejauhan. Pemuda itu seperti mengenal Kirana. Kemudian pemuda itu berlari lari kecil mendekati Kirana dan Shela yang baru saja berjalan
"Hai tunggu" panggil pemuda itu
Kirana dan shela menoleh kebelakang mereka tempat suara itu berasal.
Mengetahui siapa yang memanggil mereka Kirana mengeryitkan kening mencoba mengingat ingat siapa orang yang sepertinya tak asing baginya. Kemudian ingatanya yang tajam membuatnya tersenyum
"Syahid, kak syahid ya..?"tanya kirana sambil menghampiri pemuda itu
"Syukaurlah masih di ingat sama kamu Kirana" jawab pemuda itu.
"bagaimana mau lupa sama kakak, alisnya saja nggak pernah di cukur" ucap kirana meledek alis pemuda itu yang lebat dan nyaris bersambung dari sisi kedua matanya yang menjadi ciri khas pemuda tampan itu, yang ternyata adalah mantan anak panti yang dulu di adopsi oleh seorang pemilik restoran masakan padang.
Senyum terkembang di bibir pemuda itu mendapati Kirana yang mengingatnya dengan jelas, sebab beberapa tahun yang lalu mereka di besarkan di panti yang sama.
"Apa kabar Ibu Maya dan Ibu Ratih kirana"
Tanya syahid kemudian..
"Ibu Ratih baik, tapi Ibu Maya..." jawaban kirana terhenti. Syahit mengerutkan kening
"Ibu maya sakit?" tanya Syahid lagi kala kirana tak kunjung menyelesaikan kalimatnya.
Kirana menggeleng kemudian menjawab
"Ibu Maya ke Luar kota sudah beberapa minggu ini, dan belum juga kembali" ucap Kirana
"Oh, syukurlah. aku kira beliau kenapa" ujar syahid lagi
"Oh ya sampai lupa, kenalkan kak, ini shela temanku sejak aku SMA" ucap Kirana memperkenalkan shela yang dari tadi hanya diam menunggu Kirana mengobrol dengan mantan kakak pantinya itu, sambil menatap kagum pada ketampanan Syahid..
"Syahid" ucap pemuda itu sambil mengulurkan jabat tangannya
Tapi shela yang masih bengong hingga tak memperhatikan uluran tangan Syahid. Hingga kirana menyenggolnya dengan siku tanganya sabil tersenyum senyum seakan mengerti kalau shela sedang terpana pada saat melihat Syahid
"Oh, eh iya saya Shela" ucapnya kemudian gugup dan menerima jabatan tangan syahid yang melempar senyum ke arahnya. namun menjabat beberapa detik seakan tak ingin melepaskan tangan syahid hingga kirana kembali menyenggolnya dengan siku untuk yang kedua kali, tentu saja membuat shela tersentak dan melepaskan tangan syahid.
__ADS_1
"Ayo ayo kumpul" teriak seseorang senior lain dari kejauhan
Kemudian syahid pun meminta kedua gadis di hadapanya untuk berkumpul dengan mahasiswa baru yang lain.
"Baiklah saya bergabung dengan Kakak kakak yang lain, dan kalian bergabung dengan teman teman baru kalian, sampai jumpa lagi nanti Kirana" ucapnya sambil berjalan meninggalkan keduanya.
"Xi..xi..xi.". Sambil berjalan kirana tertawa cekikikan membuat shela mengalihkan pandangan kearahnya.
"Kenapa Ran?" tanya Shela
"Ternyata ada seorang gadis yang jatuh hati pada pandangan pertama" ucap Kirana sambil bola matanya melirik shela
"He..he.. Sumpah Ran, Ganteng banget.." ucap shela jujur mengakui kekagumanya pada Syahid.
parcakapan mereka pun terhenti karna mereka sudah sampai di perkumpulan mahasiswa mahasiswi baru..
***
Di tempat yang berbeda*
"Gimana Ndro udah ketemu sama pak Tomi yang pemilik kartu nama itu"Tanya Bargo pada pak Hendro yang baru tiba di markas mereka
"Sudah, ankanya baru berumur 13 tahun" ucap pak Hendro
Kemudian tampak guratan senyum jahat di bibir pak Hendro merangkul kedua temanya itu untuk bergerumul hingga kepala mereka berhimpitan dan mebisikan sesuatu
"Hah yakin lhu ndro" tanya bargo kemudian
pak Hendro tertawa sambil menepuk nepuk pundak bargo
"Mau duit banyak nggak lhu" ucapnya kemudian
"Tapi kalau ketahuan Kirana habis kita" ucap leman menimpali
"Hahahh.. Tahu apa gadis itu, yang penting kita pintar pakai otak" ucap pak hendro sambil menunjuk kepalanya sendiri.
mereka pun bertukar pandang sambil mengangguk angukan kepala..
***
Keesokan harinya saat jam anak anak pulang sekolah,pak Hendro sudah berada tak jauh dari gerbang sekolah smp tempat anak anak panti menuntut ilmu..
nampak Bagas dan Lala yang satu kelas baru keluar dari gerbang sekolah
"Bagas, lala.." panggil pak Hendro sambil melambaikan tanganya ke arah anak anak itu.
__ADS_1
Bagas dan lala saling beradu pandang. wajah mereka nampak pucat karna ketakutan pada pak Hendro. pak hendro kemudian mengampiri anak anak itu dengan menyungging senyum palsu
"saudara saudara kalian yang lain belum pulang?" tanya pak Hendro dengan suara yang ramah
"Belum pak, sebentar lagi mereka pulang, kami beda beda kelas" jawab Bagas mulai merasa tenang karna melihat senyum palsu pak Hendro
"Oh ya, berapa orang kalian di SMP Ini?" tanya pak Hendro
"kami 6 orang pak, saya dan lala kelas 3 budi kelas 2, Ica dan mely kelas 1" jawab lala
"Oh.. begitu" ucap pak Hendro sambil mangut manggut
"Ada apa ya pak? " tanya Bagas
"Hemmm, begini kita tunggu adik adik kalian yang lain berkumpul, nanti bapak jelaskan, sekarang ayo kita tunggu di mobil sambil bapak belikan minuman dingin" ucap pak Hendro sambil menggandeng anak anak itu masuk ke mobil yang di sewanya dari tempat rental mobil..
***
setengah jam kemudian setelah Budi, Ica dan mely sudah pulang dan diajak pula berkumpul di mobil pak hendro kembali melancarkan aksi sandiwaranya
" Nah anak anak, berhubung kalian sudah berkumpul, bapak akan menyampaikan kabar gembira untuk kalian" ucap pak Hendro
"kabar apa pak?"tanya Bagas mewakili anak yang lain..
"Hari ini Ibu maya ingin bertemu kalian" jawab pak Hendro
"Hah, ibu maya?" ucap anak anak itu
"Iya" jawab pak Hendro sambil manggut manggut.
"Di mana beliau pak?" tanya Lala
"Beliau ingin bertemu kalian tapi tidak boleh bilang ke ibu Ratih ataupun Kirana.. jawab pak Hendro terus berbohong dengan senyum palsunya
"Lho, kenapa begitu pak? " tanya budi.
"Yaa.. bapak sih tidak tahu, hanya itu pesan beliau, kalau kalian tidak mau bertemu ibu maya seceara rahasia ya sudah kalian turun saja dari mobil" ucap pak hendro seakan menekan anak anak itu untuk percaya padanya
Anak anak itu saling bertukar pandang, kemudian Lala mengangguk
"Saya mau pak" ucap lala
kemudian anak anak lain pun ikut menyetujuinya. mereka setuju sebab jika pak Hendro berniat menculik mereka, tidak mungkin pak hendro mengumpulkan mereka satu persatu dan menampakan diri seperti orang baik2. karna biasanya penculik menggunakan semacam topeng atau penutup wajah.
Sayangnya mereka tidak sadar itu hanya jebakan pak Hendro demi meraup keuntungan dari mereka..
__ADS_1