Kisah Cinta Indigo

Kisah Cinta Indigo
Part 1


__ADS_3

Setelah menara Eiffel Paris, setelah Taj Mahal India, yang indah di dunia ini adalah kenangan..


Entah itu masa dimana ada kebahagiaan atau kepahitan, tapi sungguh semua itu akan terasa indah saat kita mengingatnya.


Tapi bagaimana jika kenangan itu tidak ada?


Bagaimana aku bisa tersenyum mengingat siklus waktu yang bagiku tidak melibatkanku di dalamnya?


Waktu dan dunia yang serentak menjawab ada, tapi hatiku bilang tidak ada.


Aku melewati lorong-lorong sekolah, melangkah sendirian membiarkan pajangan-pajangan di majalah dinding itu memberikan penghormatan karena aku datang paling awal. Lantai keramik ini terlihat kedinginan. Siswa-siswa yang lain belum datang untuk menginjaknya dan membuatnya hangat.


Kebiasaan baikku, datang paling awal. Agar bus yang ku tumpangi tidak penuh dan jejal. Agar menghindari jalanan yang macet. Walau alasanku yang sebenarnya bukan itu. Aku sengaja selalu datang lebih awal agar menghindari orang-orang. Maksudku, kakak-kakak senior dimana aku harus melewati kelas-kelas mereka untuk menuju kelasku yang berada di ujung sana.


Entah mengapa di sekolah ini, siswa-siswa perempuan kebanyakan berasal dari kaum sosialita. Mereka hanya memandang seseorang dari penampilan, menebak harga, dan merek yang digunakan orang lain. Jikalau itu murah, maka akan mendapat pandangan-pandangan yang merendahkan.


Sebenarnya aku tidak suka dengan keadaan seperti itu. Aku cukup menutup mata dan menyimpan rasa empatiku jauh di dalam sana, di dalam sanubariku. Aku tak dapat membayangkan kemarahan Tuhan saat mengetahui makhluk ciptaannya yang menilai dunia hanya dari harga. Kemarahan Tuhan akan manusia yang tidak sesuai dengan ajaran dari hati nurani.


*****


Bel istirahat berbunyi, aku tak akan keluar kelas, aku sengaja membawa roti bakar yang diolesi dengan peanut butter kesukaanku. Berada dalam ranselku, ransel coklat pemberian ayahku sebagai kado ulang tahun beberapa bulan yang lalu, disana kotak makananku terselip di antara beberapa buku tulis dan buku mata pelajaran hari ini. Ia seakan menjadi sesuatu yang asing dari sekian buku-bukuku, benda yang bukan terbuat dari kertas dan bukan alat sekolah.


Kotak makananku, penyelamat fungsi tubuhku pada bagian pencernaan di jam istirahat.


Ada yang bergaung di dekat telingaku, suara yang sudah ke sekian kalinya ku dengar, begitu jelas hingga menyamarkan suara-suara pembicaraan teman sekelasku ataupun tawa mereka. Aku mencoba menutup telingaku dengan kedua telapak tangan, tidak mempan, suaranya terlalu jelas, bahkan lebih jelas dari biasanya.


"Naumi..." Dia menepuk pundakku, teman akrabku sejak semester 1 kemarin, Clara. Teman mungilku, tinggi badannya 6 sentimeter di bawahku, rambutnya keriting gantung hasil olahan salon, Clara adalah anak blasteran, mamanya berkebangsaan Jerman, papanya asli dari etnis Indonesia.


Aku beruntung bertemu dengannya di kelas ini, sebelumnya aku tak punya teman akrab, aku lebih senang menyendiri, tetapi Clara mampu membuatku berteman. Clara berbeda dari teman-temanku yang lain, dia menyenangkan, pembicaraan kami tidak membahas merek atau harga, meskipun dia berasal dari golongan orang kaya.

__ADS_1


Aku tersontak kaget saat ia memanggil namaku. "Kau terlihat kebingungan, ada apa?" Rupanya Clara memperhatikanku dari tadi.


Aku tipe orang yang tidak berbagi masalah dengan orang lain. Namun masalah ini sudah beberapa kali menimpaku. Clara sahabatku yang terdekat, mungkin kali ini aku bisa berbagi sesuatu.


"Apakah kau mendengar sesuatu barusan?" Akhirnya aku menemukan pertanyaan untuk memulai pembicaraan.


"Suara sorakan dari lapangan basket ya?" Clara mencoba menebak jawaban untuk pertanyaanku.


"Tidak, tapi suara gaungan yang menggema, entah itu bersumber darimana, namun begitu jelas terdengar.." Aku mencoba menjelaskan karakteristik suara yang selalu menggangguku itu.


"Tidak..." Clara menggelengkan kepalanya. "Mungkin kau salah dengar Mi..."


Seketika aku tergemap, bagaimana mungkin suara senyaring itu tidak terdengar oleh Clara, bahkan barusan tidak ada seorang pun di kelas ini yang terlihat mendengarnya.


"Kita ke kantin yuk!!" dengan impulsif Clara menarik tanganku agar aku beranjak dari tempat duduk.


"Tapi Ra..." aku menahan tarikan tangan Clara.


"Bolehkah aku duduk disini? Tempat duduk di kantin ini sudah penuh..." suara maskulin itu tiba-tiba saja merambat di udara lalu masuk ke ruang pendengaranku tanpa permisi.


Aku memutar leherku dengan gerakan rotasi, memastikan apakah gelombang suara itu tertuju padaku atau tidak. Pertama ku lihat adalah selembar dasi yang ujungnya membentuk sudut 120 derajat, terikat rapi di kerah bajunya.


Astaga..!!


Itu Alfath, idola di sekolah ini, kini ia tampak jelas berada tepat di depanku. Aku terkesiap namun tetap memasang wajah tanpa ekspresi. "Jadi aku boleh duduk disini, kan?" Dia mengajukan pertanyaan untuk yang kedua kalinya, sedikit membungkukkan badan dan mendekatkan wajahnya kepadaku.


"Boleh..." satu kata itu keluar dari mulutku dengan spontan, tanpa ada demonstrasi atau kata-kata yang dapat digolongkan ke dalam himpunan hiperbola.


Senyumannya terlihat kaku saat aku mempersilahkannya duduk di sebelahku, dia agak pucat, pucat seperti orang sakit atau lebih kepada orang ketakutan. Mungkin dia telat makan atau cemas karena kantin penuh.

__ADS_1


Entahlah... sementara aku masih tanpa ekspresi. Makhluk ini terlalu tampan, fisiknya dapat dikategorikan hampir sempurna, terlalu mempesona, terlalu digemari, itu saja yang aku tau, selebihnya aku tak memiliki data ataupun informasi tentang dirinya, termasuk nama panjangnya.


"Mi..??" Clara menyenggol siku kiriku.


"Sepertinya kita jadi pusat perhatian disini..." bisiknya.


Lalu aku mencoba mencari kebenaran atas apa yang dikatakan Clara.


Aku menoleh dan melihat sekelilingku. Mata-mata sinis tergambar dari setiap wajah mereka, membuat kami merasa terusik. Menurutku ini adalah hal yang wajar, Alfath benar, tempat duduk disini memang sudah penuh dan hanya tempat duduk di sebelahku yang kosong, apa salahnya berbuat baik untuk orang lain. Lagian aku juga sibuk dengan makananku dan tidak mengambil keuntungan dengan si idola ini. Toh aku juga tidak mengidolakannya, maksudku aku tidak mengidolakan siapa-siapa.


Aku mengalihkan perhatianku kembali melahap bakso pesananku, menikmati aromanya yang mengunggah selera, kuhirup kuah yang ditaburi daun seledri yang tinggi antioksidan, sepertinya aku akan ketagihan dengan bakso ini.


Apakah Clara akan mengajakku ke kantin ini lagi besok, atau aku yang akan menyelinap sendirian. Tapi... aku tak menjamin, benakku tak menjamin untuk keberanian akan hal itu. Hal yang sederhana untuk dilakukan, tetapi sulit bagiku.


Aku tidak tau dimana mereka, tentang masa kecilku bersama orang tua atau kerabat terdekat, tentang teman-teman se-SD atau SMP-ku. Hal-hal yang menyangkut bahagiaku atau sebaliknya, semisal peristiwa yang penting. Mereka tidak ada, singkat memang, tak ada lembaran apa-apa, dan kuakui umurku sudah 17 tahun. Mama sering bercerita, tapi tetap saja. Bagaimana aku berada di siklus waktu yang menurutku tidak melibatkanku di dalamnya, waktu dan dunia yang serentak menjawab ada, tapi hatiku bilang tidak ada.


Tanpa kusadari senior yang tadi ada di sebelahku sudah tak ada lagi. Entah kapan ia beranjak pergi, menghilang begitu saja sekilas layaknya dalam hitungan trik sulap beraliran illusionist. Ia tak bicara apapun barusan atau semacam ucapan terimakasih.


*****


"Kau beruntung sekali berada di sampingnya, lalu dapat memandanginya sesuka hatimu..." Pandangan Clara berubah jadi sinis.


Aku terkekeh.


"Memangnya kenapa?"


"Jelas saja kau membuatku iri" Dia menggerutu.


"Kenapa bukan aku yang berada di posisimu..."

__ADS_1


"Memangnya kenapa dengan posisiku? Bukannya itu hal yang wajar?" ucapku.


__ADS_2