
"Mi, sepertinya rencanaku untuk ke rumahmu sore ini batal..." Ada yang berbeda dari suara Clara, seperti suara seseorang yang sedang terkena flu.
"Kenapa Ra?" Aku bertanya penasaran.
"Mama tiba-tiba terkena serangan jantung. Sekarang kami di rumah sakit..."
Aku terkesiap.
"Di rumah sakit mana Ra? Aku akan segera kesana untuk menengok mamamu..." Aku mengambil posisi berdiri dan keluar untuk mengabarkannya pada orang tuaku.
Bagaimanapun juga Clara sudah seperti saudara bagiku, orang tuanya juga harus kuperlakukan seperti orang tuaku sendiri, sama seperti cara perlakuan Clara kepada orang tuaku ketika ia sering berkunjung kesini.
*****
Kami berada di depan ruang UGD, suasana sudah mulai dingin senja. Posisi matahari sebentar lagi akan digantikan oleh satelit alami bumi itu. Aku ditemani papa dan mama kesini. Clara terlihat cemas di sampingku. Air matanya tak henti-henti keluar, aku mengerti bagaimana jadi dia.
Aku merangkul Clara dan memeluk lengannya, mencoba membuatnya tenang, tanpa ku sadari air mataku juga turut ingin keluar.
Seorang laki-laki separuh baya melangkah dengan cepat menuju tempat kami berada, mengenakan dasi abu-abu dan sepatu hitam mengkilat. Jas hitam yang sengaja sudah dilepas terlihat bergantung di pergelangan tangannya. Itu ayah Clara. Aku mengenalinya dari fotonya yang pernah Clara tunjukkan padaku. Walaupun aku tak pernah bertemu langsung dengannya.
Dia baru saja datang karena barusan sedang bekerja. Ayah Clara memang super sibuk, ia bekerja sebagai direktur di salah satu perusahaan asing.
Clara menghambur memeluk ayahnya yang juga terlihat cemas, kami bertiga turut bersedih atas kejadian ini dan berdoa atas kesembuhan orang yang sangat berarti dalam hidup Clara.
Setelah angin berhembus, sebelum hujan turun...
Ada gerimis yang terlupakan...
Dia berada di sana, diantara kulit bumi dan gravitasi...
Menyelinap dibalik dinding yang buram...
Dibalik pertanyaan yang tak pernah dijawab...
__ADS_1
"Terimakasih" satu sumber suara tiba-tiba saja ada di depanku. Saat aku duduk di bangku panjang di depan kelas melepaskan lelah usai memenuhi tugas giliran membersihkan kelas.
Aku menunduk memandangi lantai keramik putih dan sepasang sepatu sneakers ada disana, dengan ikatan talinya yang rapi. Seketika aku memandanginya semakin ke atas. Celana abu-abu dan baju seragam putih yang sengaja dikeluarkan. Seketika aku mengenali wajahnya, idola sekolah kemarin.
Alfath berdiri di depanku, menyandarkan tubuhnya ke salah satu tiang di teras sekolah.
"Untuk apa?" aku melontarkan pertanyaan. Hanya itu yang terlintas di pikiranku.
"Aku lupa berterima kasih kemarin ketika di kantin..." Ia tersenyum.
Senyuman yang terlihat tulus tidak seperti senyuman kakunya ketika di kantin kemarin. Mulutku terasa berada di alam bawah sadar, tidak ada satu katapun yang keluar setelah itu. Hanya bisa menatap Alfath dengan heran.
Alfath membalikkan badannya dan melangkah pergi dari depan kelasku.
Aku menatap punggungnya yang semakin jauh dan menghilang di balik lorong-lorong sekolah. Hanya untuk itu, ia barusan dengan sekejap ada di depanku, dan dalam sekejap pula ia pergi.
Hari ini Clara tidak masuk kelas, ia harus menemani mamanya di rumah sakit. Katanya, penyakit yang di derita Tante Jane semakin parah. Terjadi gangguan pada katup jantungnya.
Sementara suasana di sekolah masih sepi, seperti biasa aku datang paling awal, dan yang kedua datang hari ini adalah Alfath. Ternyata dia tak sedingin yang ku kira, tidak seperti gosip-gosip yang beredar.
"Berapa semuanya mas?" tanyaku sambil membuka ranselku untuk mencari dompet.
"72 ribu rupiah, nona." Di tangannya masih memegang satu keranjang buah-buahan yang sengaja ku beli untuk menengok Tante Jane.
Aku mengacak-acak isi tasku, dompetnya tidak ada.
"Sebentar ya mas..." aku mendekati kursi yang ada di luar toko, membongkar isi tasku, dan dompetnya hilang. Mungkin tercecer di sekolah pikirku.
"Mas, dompet saya tidak ada, saya akan ke sekolah untuk mencarinya setelah itu saya akan kesini lagi." Aku mulai cemas, membayangkan tidak bisa menengok Tante Jane dan tidak bisa bayar bus untuk pulang jika dompet itu tidak ditemukan.
Aku membalikkan badanku menuju jalan raya. Untungnya toko buah ini berada dekat dengan sekolah, aku hanya perlu jalan kaki atau berlari jika ingin cepat sampai ke sekolah.
"Kau mencari ini?" Seorang siswa laki-laki tiba-tiba menahan ku ketika aku berada di tepi jalan di depan toko buah. Dompetku ada di tangannya, kalau tidak salah namanya Aldo, anak donator tetap di sekolah. Kelasnya bersebelahan dengan kelasku, kami setingkat.
__ADS_1
Dia juga bisa di kategorikan sebagai siswa yang banyak di gemari di sekolah, hanya saja mungkin dosisnya lebih rendah dari Alfath. Aldo yang dikenal suka melanggar aturan, walau tidak begitu sering.
"Iya.." aku terengah karena cemas, dia menyodorkan barang itu padaku. Aku meraih dompet itu dari tangannya.
"Terimakasih..." Aku menunduk malu atas keteledoran ku.
"Dompetmu jatuh di depan kelasku, untungnya aku tak kehilangan jejak, jadi aku bisa mengikuti mu untuk menyerahkan dompet ini... Kau mau kemana? Terlihat bergegas sekali..."
"Aku mau ke rumah sakit, menengok seseorang..." Aku mulai berani melakukan kontak mata.
"Menengok siapa? Pacarmu ya?" Aldo setengah menyindir.
"Tidak... aku menengok ibu dari temanku, dia sakit parah..." Aku membenarkan.
"Siapa namamu?" Dia mulai menginterogasi ku.
"Naumi, kamu?" Aku menanya balik, walau sebenarnya aku sudah tau siapa namanya.
"Aldo, aku juga mau ke rumah sakit. Kita bisa berboncengan..." Dia memberikan tawaran itu.
"Terimakasih, aku akan naik taksi..." Aku tersenyum ringan, dia masih berdiri di depanku menatap dengan tatapan protes.
"Ikutlah denganku, anggap saja itu sebagai ucapan terimakasih mu padaku. Lagian akhir-akhir ini sering terjadi tindakan kriminal di dalam taksi..." Dia membuatku sedikit cemas sehingga aku harus menyetujui tawarannya.
Aku kembali ke toko buah, sementara Aldo kembali ke sekolah mengambil kendaraan pribadinya. Clara pasti senang aku datang kesana, setidaknya aku bisa mengurangi perasaannya yang gelisah.
*****
"Aku tak tahu kalau kita satu sekolah, aku tak pernah melihatmu di sekolah. Kau siswa baru ya?" Aldo melontarkan pertanyaan.
"Tidak, aku sudah lama bersekolah di sana, mungkin karena aku jarang keluar kelas..." Aku menatap jalanan yang lumayan macet. Aldo di sampingku menyetir mobil sport biru malamnya.
"Kenapa?" Aldo terlihat serius.
__ADS_1
"Tidak apa-apa, aku hanya lebih suka di kelas, menikmati waktuku sendiri..."
"Oh.. tapi sekarang aku sudah melihatmu..." Aldo mulai menggoda membuatku terkekeh. Entah mengapa ia terlihat leluasa berbicara denganku, mungkin karena ia sudah terbiasa berbicara pada wanita. Tidak seperti aku yang merasa begitu canggung.