Kisah Cinta Indigo

Kisah Cinta Indigo
Part 17


__ADS_3

Terdengar ada yang membuka pintu rumahku, pasti mama yang ada disana, aku menoleh, kini ia berada di teras, dia agak cemas, mungkin karena aku pulang telat dari biasanya. Bagaimana mungkin aku pulang dengan keadaan kotor seperti tadi, aku hanya tak ingin membuatnya bersedih karena keadaanku buruk di sekolah.


Aku membuka pintu pagar kayu yang sederhana, menginjak pekarangan kerikil hingga menghasilkan bunyi yang sampai ke pendengaranku. Sebenarnya aku masih berfikir, apa alasan yang baik kenapa aku pulang telat. Sebenarnya aku tak pandai berbohong, aku lebih senang berkata apa adanya, tapi kali ini keadaannya berbeda, dan konsekuensi ini harus kulakukan untuk menjaga perasaan mama.


"Mah..." aku menyapanya, meraih tangan kanannya lalu menciumnya dengan penuh rasa hormat seorang anak kepada seorang ibu yang telah mengandung dan melahirkanku. Dia mempersilahkanku melakukannya dan si anak donator ini juga mengikuti apa yang ku lakukan.


"Kamu kok pulangnya telat Mi?" akhirnya pertanyaan mama itu membuatku menghela nafas.


"Tadi ada sedikit pengarahan dari sanggar tante, jadi kami agak telat" Aldo menyela saat bibirku mulai ingin bergerak mengatakan sesuatu meskipun agak kelu. Dan kali ini ia membantuku membuat alasan. Aku tak berani menatap mama setelahnya, aku telah menutup-nutupi sebuah keadaan.


Aku lelah, aku tak bisa terus seperti ini, aku tak berani melawan, aku tak berbakat di bidang itu, sungguh. Ini menggangguku, membuat susunan pemikiranku menjadi kacau, aku tak dapat berkonsentrasi belajar di kelas, aku susah tidur karena merasa sesuatu yang begitu membebaniku, dan aku sulit untuk tersenyum akhir-akhir ini.


Sekolah itu mengusirku secara perlahan, apakah mungkin lebih baik aku pindah sekolah saja? Tapi itu terasa berat, masalah biru keungu-unguan itu memang berat, tapi ada sesuatu yang lebih dari itu.


Aku mengacak-acak rambutku, menutup kepalaku dengan selimut, mencoba menenangkan diri dan menyingkirkan semuanya.


Aku mengambil ranselku, ada sesuatu yang kubawa dari sekolah. Benda baru yang asing. Bunga dan secarik kertas itu. aku mengeluarkannya dari dalam ransel, menyisakan wanginya disana.


Kumasukkan benda itu ke dalam kotak bersama 3 bunga dan 3 carikan kertas sebelumnya, mengumpulkan mereka menjadi satu relasi di dalam benda yang berbentuk balok dengan penutup atas yang lebih besar dari kotaknya.


Ku letakkan kotak itu ke bagian lemari bawah, awalnya benda itu ku anggap tak berguna dan hampir ku buang, tapi aku memungutnya kembali dan menyimpannya.


Aku sempat curiga pada si pembujuk itu, selama ini dia agak selalu ada, bisa dibilang akhir-akhir ini kami dekat meski tak terlalu akrab, tapi rasanya tidak mungkin, dia bukan pria seperti itu, cerewet dan keras kepala, blak-blakan dan pemikir modern.


*****


Kriingggg...


Alarmku berbunyi, aku tersontak dari tidurku, kalau boleh memilih, aku lebih suka dibangunkan mama daripada suara yang sama sekali tak berirama itu.

__ADS_1


Jarum pendeknya mengarah ke angka 5, biasanya aku langsung bangun, tapi tidak kali ini. Hari ini aku tak akan masuk sekolah, penghinaan kemarin sudah cukup bagiku, hari ini tak ada penghormatan dari pajangan-pajangan di majalah dinding karena aku datang paling awal, tak akan ada sapaan untuk lantai keramik yang dingin, dan aku tak tau apakah ada bunga dan kertas lagi di bawah mejaku. Aku tak akan berbohong dengan alasan sakit atau izin karena ada acara keluarga atau semacamnya, ku biarkan ketidak hadiranku tanpa keterangan.


Tok tok tok...


Mataku terbuka perlahan, ada yang mengetok pintu dari luar, pandanganku masih agak buram.


"Naumi.." itu suara mama, aku menoleh ke arah jam weker, menggosok- gosok mataku saat jarum pendeknya mengarah ke angka 6.


"Kamu sakit?" mama mendekatiku lalu aku duduk di samping ranjang. Aku hanya diam, bingung menunduk, aku tak tau harus bicara apa, kelemahanku, tak pandai menyusun rencana dan berada di balik kebohongan.


Mama meletakkan telapak tangannya ke dahiku, memastikan aku tidak apa-apa, dan memang kesehatanku tidak ada gangguan. Bukan disitu yang terganggu, tapi jauh di dalam sana, bathinku, ada beban yang tak terlihat.


"Kamu tidak enak badan?" dan lagi-lagi mama mengajukan pertanyaan yang jawabannya lebih sulit dari ulangan matematika.


Aku menggelengkan kepala,


Dan masih tertunduk, melindungi bola mataku, melindungi ada sesuatu yang kusembunyikan, yang ku harap mama tidak akan mengetahui masalah itu, anak nila dan cibiran-cibiran yang sudah menyangkal di tenggorokanku.


"Mah, Naumi hanya tak ingin sekolah hari ini.." ucapku pelan, kuharap mama tak akan menanyakan sesuatu yang tak bisa kujawab.


"Kamu ada masalah?" mama mengkerutkan keningnya.


"Naumi hanya ingin istirahat hari ini.." aku menghela nafas, perasaan yang lelah, lelah menutupi sesuatu dari mama, lelah menahan tekanan ini sendirian.


Mama mengelus-elus punggungku, membuat penatku sedikit buyar.


*****


A-minor itu kembali memenuhi membran timpani-ku, menembus selaput tipis yang berfungsi sebagai partisi itu, setidaknya memenuhi kriteriaku disana, ketenangan.

__ADS_1


Tapi aku tak bisa mengatakan itu secara keseluruhan, ada sesuatu yang masih mengganjal, terselip diantara gravitasi dan kulit bumi, kotak musik ini, pemiliknya, tempat yang ku sebut-sebut sebagai Bregagh Roads itu, juga bunga-bunga di bawah meja dan semua yang belum terjawab.


Aku menutup bagian tutsnya, musiknya berhenti, dan aku mencoba melupakan pikiranku. Ku anggap tidak pernah terjadi apa-apa, dan aku baik-baik saja. Meninggalkan apa yang membuat sedih, dan mempertahankan apa yang membuat bahagia.


Walau aku tak tau hal apa yang dapat membuatku tersenyum selain melihat kebahagiaan mama, papa dan keceriaan Fariz, selebihnya aku tidak tau, aku hanya menghadapi dunia di luar sana, merasa asing, dan tak begitu mengenal mereka.


*****


Mama sudah menyerahkan kartu berobatku ke loket, aku memeriksa kesehatanku secara rutin, sekitar 1 sampai 2 bulan sekali, pada seorang dokter spesialis saraf, dokter Saendra Harun. Sejauh ini sudah membaik, maksudku saraf otakku, peninggalan tragedi 2 tahun yang lalu, ketika aku mengalami pendarahan di otak dan mengalami disosiatif amnesia.


Kami duduk di jejeran kursi di depan ruang spesialis saraf, agak dingin, telapak tanganku mulai mengering, alat pendinginnya 19 derajat, berada diatas fentilasi yang tertutup.


Tak lama namaku dipanggil untuk segera memeriksakan neurologisku,


"Hindari stress ya" dokter itu memberi saran sambil sibuk menulis sesuatu pada selembar kertas buram, mungkin resep obat untuk diberikan ke apotik, rupanya agak memburuk dari sebelumnya.


Aku tertegun...


Semoga mama tidak akan curiga mengapa dokter itu berkata barusan.


"Kau banyak pikiran akhir-akhir ini ya?" pertanyaan itu dilontarkan mama ketika kami menuju halaman rumah sakit.


"Tidak, Ma. Naumi akan mewakili sekolah untuk olimpiade matematika" aku masih tak berani menatap mama, aku tak mengatakan keadaan sebenarnya secara keseluruhan.


"Bagus kalau begitu, tapi belajarnya jangan terlalu dipaksakan ya sayang"


Aku mengangguk...


Untungnya mama mengerti, memberikan dukungan padaku, dan membuatku merasa sedikit lega.

__ADS_1


Kami berjalan menyusuri halaman rumah sakit, mama sudah menelpon papa dan sebentar lagi ia akan menjemput kami. Seseorang terlihat berjalan dari parkiran, aku seperti mengenalnya, tapi jaraknya masih jauh dan aku belum bisa memastikan. Celana abu-abu SMA, baju seragam yang sengaja di keluarkan.


Perpindahan tempatnya agak mendekat, dia terlihat juga menatap ke arah sini, itu Alfath? Cara berjalan yang santai, dan aku dapat mengenali tangannya yang sengaja dimasukkan ke dalam saku celana. Bukankah ini adalah jam sekolah, rupanya ia bolos dari kelas.


__ADS_2