Kisah Cinta Indigo

Kisah Cinta Indigo
Part 10


__ADS_3

Lalu untuk apa, untuk apa mereka yang merasa tinggi hati, menginjak yang lebih lemah, dan tidak mensyukuri segala karunia. Bukankah kita hidup saling mengasihi agar alam menjadi seimbang. Bukan untuk bersaing.


*****


Patung kecil ballerina ini terus menari berputar-putar mengikuti alunan musik yang berbunyi, rambutnya dibentuk sanggul, yang laki-laki meletakkan tangannya di salah satu pinggul ballerina, tangan mereka yang satunya saling berpegangan, saling menatap layaknya sepasang kekasih yang begitu saling mencintai, tak sia-sia komposer terkenal itu menciptakan musik ini, maksudku komposer yang memiliki nama panjang Ludwig Van Beethoven, musiknya yang tak lekang dimakan zaman, dan menarik pecintanya dari berbagai penjuru dunia.


Kotak musik ini warnanya agak mulai pudar, sepertinya umurnya sudah lama, ini milik Alfath, aku masih tak punya jawaban mengapa ia memiliki kotak musik piano kecil ini, mungkin benda ini berarti baginya, dan sekarang benda ini ada ditanganku, aku akan mengembalikan ini padanya, tapi sekarang setidaknya aku telah melindungi benda ini dari embun dedaunan itu.


"Kau tampak murung... ada apa?" aku lupa mengunci pintu. Lagi-lagi Fariz masuk ke kamarku tanpa permisi terlebih dulu. Kamar ini seperti kamarnya sendiri saja.


"Mereka mengetahuinya, Kak..." Aku menunduk, duduk di kursi belajar di depan laptopku, layarnya masih menyala, aku seusai mengunduh file dengan format pdf materi matematika yang menurutku lebih lengkap dan mudah dipahami daripada modul yang dibagikan di sekolah.


"Mengetahui apa?" Fariz menelantangkan tubuhnya di kasurku, kasurnya jadi berantakan lagi, padahal baru saja ku rapikan.


"Identitasku..." parauku, sambil memutar kursi berkaki dengan empat roda yang ada di bawahnya.


"Maksudmu?" Fariz bangkit dan mengambil posisi duduk.


"Tadi di sekolah ada pakar pembaca aura yang datang, aku terjebak disituasi itu dan akhirnya saat sensor dipasangkan pada jariku, mereka mengetahui aura yang keluar berwarna nila, dan sekarang orang-orang telah mengetahuinya.." Fariz menyimak ucapanku dengan baik.


"Bagus kalau begitu.." rupanya Fariz tak mengerti apa maksudku.


"Tapi lingkungan sekolahku berbeda, Kak... mereka bukan tipe orang yang berfikir secara kuno, pemikiran mereka hanya pada masa modern. Hal-hal yang seperti itu akan dianggap aneh dan tabu, dan.. gosip di sekolah biasanya beredar cepat, mulut mereka sepertinya terbuat dari bahan elastis, aku bisa dibuli habis-habisan dan akan menjadi bulan- bulanan mereka..." Aku mencoba mengutarakan kepada Fariz tentang sesuatu yang berkecamuk di pikiranku.


"Kenapa harus takut? Mereka hanya tak mengetahui dirimu yang sebenarnya, mereka hanya belum bisa berfikir secara rasio.."


"Nah, maka dari itu masalahnya kakak." Aku mengadu lagi, pada si mancung Fariz, yang sampai sekarang belum mendapatkan wanita yang cocok untuknya.

__ADS_1


"Kau berpikir terlalu jauh, semoga saja tidak terjadi seperti itu, berpikir positiflah, Nona." Fariz mengacak-ngacak rambutku, dia membuat masalah lagi, dan pergi keluar tanpa permisi pula.


Setidaknya Fariz selalu ada untukku, membuatku sedikit tenang dari masalah yang ku hadapi. Memberiku saran dengan pikirannya yang lebih dewasa walau terkadang dia agak kekanak-kanakan.


Bulan sabit menampakkan dirinya di balik jendela. Malam ini aku terasa bernafas, mencintai malam. Itulah yang aku tau dari hatiku, mencintai kedua orang tuaku dan Fariz. Selebihnya aku masih belum menemukan sejatinya.


*****


Dengan langkah ragu aku kembali menghadiri ekstrakulikuler sastra dan drama sore ini. Walau masih menghindar dari orang-orang karena kesulitanku dalam lingkungan sosial, namun setidaknya keberanianku sudah mulai muncul.


Aku datang terlambat, acaranya sudah dimulai di dalam aula. Aku masuk melalui pintu belakang agar langsung ke susunan kursi. Untungnya banyak kursi yang belum ditempati. Ucapan Fariz kemarin benar, peminatnya pasti berkurang, tadi di sekolah tak ada caci maki, teman- teman sekelas hanya menatapku dengan cara yang berbeda, tapi itu tak masalah, aku sudah sering menerima tatapan seperti itu sebelumnya, keadaan diluar kelas sama seperti biasanya, tidak ada yang berbeda.


Kurasa semuanya aman-aman saja.


Di dalam ranselku, kotak musik itu sengaja kubawa, barangkali aku bertemu Alfath dan menyerahkannya. Alfath pasti mencarinya, tapi dimana dia. Di jejeran senior pengurus di depan sana tak ada terlihat batang hidungnya. Aku mencoba memutar-mutar pandanganku, dia tidak ada di ruangan ini.


Kami tak diperbolehkan memanggilnya dengan sebutan Pak atau semacamnya, dia bilang kami cukup memangilnya "Kos‟, dia tak menyebutkan nama panjangnya. Katanya semua orang mengenalnya dengan sebutan itu.


Beliau menjelaskan tentang sastra. Pertama-tama tentang sastra daerah seperti syair, pantun dan gurindam. Aku mulai tertarik pada gurindam, syair yang hanya terdiri dari dua kalimat dengan akhiran bersajak pola yang sama. Gurindam yang berasal dari bahasa Tamil (India) yaitu kirindam yang berarti perumpamaan.


Belajar sastra dengan Kos tidak membosankan, setiap kali penjelasannya selalu dibumbui oleh humor, ia menjadi hiburan kami sore ini. Meskipun dia sudah tua, seleranya masih muda. Dari gaya bicaranya hingga sindiran-sindiran untuk anak muda zaman sekarang.


Tapi tawa lepasku sepertinya tak akan bertahan lama. Mereka yang duduk di sekitarku mulai saling berbisik. Aku tak dapat mendengar apa yang mereka bicarakan. Seketika mereka beranjak dan mencari tempat duduk lain.


Wajahku terasa dibasuh dengan air cuka.


Sepertinya ini bukan tempatku lagi. Aku berusaha untuk seperti mereka, tapi mereka membuatku ingin berhenti.

__ADS_1


Aku mencarimu...


saat senja akan berganti menjadi malam...


namun waktu itu terlalu singkat...


tak memberiku sedikit kesempatan...


biarkan aku terus sembunyi...


suatu saat kau akan tau siapa aku...


Aku memilih keluar dari ruang aula. Sepertinya hari ini adalah hari terakhirku mengikuti sanggar itu dan mengembalikan buku sastra Fariz, mengatakan padanya bahwa mereka membuatku menjadi asing.


Tak ada yang mencegahku atau menanyakan kenapa aku keluar dari ruangan. Karena pergerakan di aula paling belakang tidak tampak dari depan, toh ada pintu cadangan di belakang memudahkanku untuk meninggalkan tempat ini.


Di seberang sana, sepasang pintu berada di kejauhan, di depannya ada dua tiang layaknya bertugas sebagai pengawal istana, pikirku melayang pada perpustakaan itu, tempat dimana para siswa mencari sumber pengetahuan, di dalam ranselku, kotak musik itu.


Alfath tak ada di ruang aula, apakah mungkin dia ada disana? Mencari- cari benda miliknya yang sekarang ada padaku?


Tempat itu membuatku tertarik, bukan karena fungsi ruangannya, tapi karena penemuan tempat baruku yang ada di belakangnya, disana terdapat beberapa pohon yang rindang dan lumayan besar, semacan pepohonan di Bregagh Road yang ada di Irlandia itu. Aku tak menyangka ada tempat seindah itu di lingkungan sekolah. Kenapa tidak dari dulu saja aku menemukannya.


Tak ada siapa-siapa, tak ada Alfath, bisa jadi dia memang tak masuk hari ini. Aku membuka zipper ranselku, maksudku resleting yang diserap dari bahasa Belanda ritssluiting itu. Mengacak-acak isinya dan menemukan benda yang aku cari, replika benda yang berjenis grand piano itu, dimana jenis itu adalah piano yang sebenar-benarnya. Memiliki 88 tuts, kotak akustik yang ditidurkan dan senar-senar yang diketuk hammer. Hanya saja ini hanya replika kecil dan tidak dapat difungsikan.


Aku menyandarkan punggungku ke dinding belakang perpustakaan, membuka bagian penutup tuts, pasangan dansa terlihat sudah siaga berada di bagian atas tubuh piano.


Musiknya dimainkan, entah kenapa aku begitu menyukainya, komposisi musiknya yang begitu melegenda yang diciptakan oleh seorang komposer yang tuna rungu, menurut cerita Beethoven meninggal dunia pada 26 Maret 1827.

__ADS_1


__ADS_2