Kisah Cinta Indigo

Kisah Cinta Indigo
Part 22


__ADS_3

Hari ini aku akan kembali ke sekolah yang sudah mulai terasa asing bagiku. Kalau saja Pak Zaid tidak meminta kehadiranku, aku tak akan datang.


"Hari ini adalah hari olimpiade," kata pak Zaid aku harus on time jam 8 pagi.


Aku duduk di ruang tamu yang ada di ruang guru namun dibatasi oleh dinding merah jambu, setidaknya aku agak terlindung disini, sesuai saran pak Zaid, katanya jika aku tak ingin berada di kelas, aku bisa menunggunya disini.


Ada beberapa orang guru yang datang setelah itu, mungkin aku agak terlihat saat mereka melewati dinding pembatas ini, sebagian menatapku seakan ada yang mereka cari tahu, dan aku mengerti, sama seperti siswa-siswa di luar sana, hanya saja mereka orang dewasa yang lebih matang pemikirannya dan memiliki sudut pandang yang mungkin berbeda.


*****


Pak Zaid membuka pintu belakang mobil dan mempersilahkanku untuk masuk, kemudian ia menuju tempat setirannya, tapi ia tak menutup pintu dimana aku masuk barusan, aku menggeser badanku dan mendekati pintu mobil, kupegangi gagangnya dan bermaksud akan menutupnya.


"Jangan ditutup pintunya!" entah mengapa pak Zaid melarangku.


Aku kembali ke posisi semula dan membiarkan pintu itu terbuka.


"Ayo cepat masuk! Nanti kita terlambat." Ia setengah teriak, seperti berbicara pada seseorang di luar sana.


Terdengar suara seseorang yang sedang berlari dari kejauhan.


"Maaf pak" suaranya terengah, lantas pak Zaid mulai menhidupkan mesin mobilnya.


Aku menoleh, dia terkekeh, Alfath? Kenapa ia juga berada disini.


Alfath segera masuk ke dalam mobil dan menutup pintu, dan sekarang ia duduk di sebelah kiriku, agak berkeringat, dan agak gelisah karena terburu-buru.


Pak Zaid menarik pedal gas dan kami meninggalkan area sekolah.


Sepanjang jalan aku tak bicara apa-apa padanya, sesekali pak Zaid menanyakan tentang olimpiade itu aku hanya menjawabnya singkat dan dengan perkataan "iya‟. Begitu juga Alfath, menyilangkan kedua pergelangan tangannya di bawah dadanya yang terlihat berbidang, tidak bicara, tidak tersenyum, tidak apapun, tanpa ekspresi.

__ADS_1


Kami menuju ke Dinas Pendidikan yang ada di kota ini, sesuai wacana olimpiade akan dilaksanakan di aulanya.


"Kau tak mengajak Safrina, ya?" Pak Zaid memulai pembicaraan dan jelas saja pertanyaan itu ditujukan untuk Alfath.


"Tidak pak, saya rasa saya sendirian sudah cukup sebagai perwakilan" kini dia agak berekspresi.


Perwakilan? Mungkin si idola ini memang ada keperluan, setidaknya aku tau dia punya tujuan mengapa ada disini.


*****


"Masuklah, dan cari tempat yang menurutmu nyaman" dia mengucapkan sesuatu dari belakangku saat aku berdiri di depan pintu ruang aula yang besar ini, menatap banyaknya peserta yang sudah ada di sana, sebagian ada yang memakai kacamata, terlihat seperti orang-orang yang memiliki intelegensi yang tinggi.


Aku menoleh padanya, pada seseorang yang di kata-katai sebagai idola di sekolah ini, dia tersenyum dan tak lupa kebiasaannya, memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana.


Aku mengangguk pelan, lalu kembali menatap ke dalam ruangan, "Mereka terlihat pintar, aku merasa tidak ada apa-apanya" parauku. "Pintar?" dia tersenyum kecut "memangnya pintar itu dilihat dari penampilan ya?" sambungnya membuatku terkekeh.


Lalu ada sesuatu yang hangat di pundakku, Alfath meletakkan tangannya disana.


Masuklah, dan cari tempat yang menurutmu nyaman" dan sekali lagi ia mengulangi kalimat itu.


Aku menghela nafas, memalingkan wajahku sebentar kepada Alfath, melihat ada semangat disana. Lalu aku meninggalkannya.


*****


Dengan langkahku yang agak ragu, bukan karena cemas, tapi kebiasaanku pada situasi yang ramai, semacam phobia. Dan ini adalah sesuatu yang buruk yang seharusnya tidak terjadi pada diriku.


Aku melihat sekelilingku, mencari tempat duduk yang masih kosong, tanganku mulai dingin, pori-porinya terasa mengecil. Disana di dekat dinding, ada satu yang kosong kira-kira kursi ke-7 atau ke-8 dari depan, setidaknya menyerupai tempat dudukku di kelas, hampir berhimpitan dengan dinding.


Aku mendekatinya, aku sudah masuk ke ruangan ini dan menemukan tempat yang paling nyaman. Di leherku sengaja ku gantungkan tanda pengenal dan nomor peserta, disana bertuliskan Naumi Destiana, nama lengkapku dengan nomor 41 yang tertera di bawahnya, dan aku agak menyukai nomor yang menempel di tubuhku ini.

__ADS_1


Aku menoleh ke arah pintu luar, dimana aku berdiri sebelum aku masuk barusan, lalu Alfath tiba-tiba ada di belakangku, dan ia tidak lagi terlihat disana. Banyak hal darinya yang aku tidak mengerti, bahkan sampai sekarang ia tak pernah menanyakan siapa namaku, ia selalu datang setelahku ke tempat itu, ia selalu ada secara tiba-tiba dan begitu juga kepergiannya.


*****


Acaranya sudah dimulai, diawali dengan sambutan-sambutan, lalu panitia membacakan beberapa peraturan yang harus kami taati, seperti tidak boleh menggunakan kalkulator atau alat elektronik lainnya.


Lalu sebagian dari panitia sibuk membagikan lembaran kertas buram untuk coretan menghitung, dan sebagian lagi membagikan lembar soal dan lembar jawaban.


Hingga kertas-kertas itu kini juga berada di atas mejaku, terlihat berserakan disana dan harus ku rapikan.


Entah bagaimana ada beberapa objek yang datang...


Menciptakan garis melengkung setengah lingkaran...


Garis vertikal di bawahnya dan berakhir dengan tanda titik...


Kemudian sesuatu berporos begitu saja...


"Bagaimana olimpiadenya?" dia tiba-tiba saja ada di samping pintu saat aku keluar dari ruang aula.


"Lumayan sulit" sahutku di tengah-tengan keramaian peserta lain yang sibuk lalu lalang di depan pintu. Soalnya memang cukup sulit, pilihan jawabannya pun banyak yang mengecoh, toh deskripsi soalnya juga menggunakan bahasa Inggris.


Aku menepi bersamanya.


"Kenapa kau juga ada disini?" tanyaku karena rasa penasaranku belum terjawab.


Dia menoleh lalu tersenyum.


"Menurutmu apa?" rupanya dia menantangku dengan tebakan.

__ADS_1


Aku terkekeh, sewaktu di mobil dia bilang tidak perlu bersama Safrina, dia sendiri sudah cukup untuk perwakilan, itu yang dikatakannya pada saat ia mengobrol dengan pak Zaid beberapa jam yang lalu.


"Aku tidak tau," gumamku.


__ADS_2