
"Rupanya kau yang disebut-sebut anak indigo itu ya?" Itu si jutek sekolah, Safrina. Sekujur tubuhku terasa dingin kaku, aku menggenggam kedua tanganku mencoba memberi kekuatan untuk diriku sendiri.
"Oh ya aku ingat, kau yang waktu itu satu meja dengan Alfath dikantin itu kan?" Dia sedikit mendekatkan wajahnya padaku, aku pucat pasi, seketika tubuhku seperti kadaver, mayat yang diawetkan itu, aku tak bisa menjawab apa-apa, karena rahangku dalam cengkraman tangannya.
Aku hanya menggelengkan kepala, terasa sakit, aku ingin ia melepaskan tangannya dari rahangku.
"Ada hubungan apa kau dengan Alfath?" sekali lagi dia terus bertanya, dan kali ini ia melepaskan tangannya dari wajahku, aku terengah, nafasku menjadi tak beraturan.
"Saya tak kenal siapa dia.. waktu itu dia memang kehabisan tempat duduk.." parauku, nada bicaraku begitu gemetar.
"Kau tidak sedang membohongiku kan?" suara Safrina sudah mulai sengau.
Aku hanya tertunduk menggelengkan kepala. Tubuhku makin gemetar.
"Jangan mengganggu dia!" tiba-tiba saja ada suara dari pihak pembela, berada di belakangku, namun aku tak tau siapa.
Safrina tersenyum kecut menaikkan bola matanya dan mengarah pada seseorang yang ada di belakangku itu. Safrina mendekatkan langkahnya padaku, dan mendekatkan mulutnya pada telinga kananku.
"Dengar! Alfath itu adalah kekasihku," bisiknya. Entah, aku tak memikirkan apa-apa lagi, yang terpenting Safrina sudah menjauh pergi. Aku menarik nafas dalam-dalam menenangkan diriku dari si jutek itu.
"Kau baik-baik saja?" Aku lupa menoleh dan lupa ada seseorang yang menghentikan kekejaman Safrina barusan.
Aku membalikkan badan, Aldo? Anak donator itu ada disana, dengan rambutnya yang acak-acakan, meskipun kadang aku tak suka celotehannya, tapi kali ini dia berjasa. Tapi mengapa ia ada disini? Bukankah seharusnya ia bersama orang-orang itu, orang-orang yang mentertawakanku dan melemparkan ceomohan-cemoohan itu.
"Jangan hiraukan mereka." Senyumnya mengambang, aku masih saja kelu, kamus elektronik di otakku tiba-tiba saja terjadi gangguan dan tak bisa menemukan kata "terimakasih‟. Tapi dia terlihat tak menuntutku untuk mengucapkannya.
"Hei..!!" dia menggerakkan telapak tangannya berjarak beberapa jari dari wajahku. Aku tersontak.
"Rupanya kau masih trauma ya? Aku akan mengantarmu pulang.." aku menaikkan sedikit pandanganku. Dan wajahnya terlihat seperti ketika kami berada di depan toko buah beberapa hari yang lalu.
__ADS_1
"Ta-tapi.." aku mencoba mengelak.
"Ayolah.. anggap saja itu adalah ucapan terimakasihmu karena aku telah menyelamatkanmu lagi barusan," dan kali ini ia mengatakan hal yang sama dengan waktu itu.
Aldo menarik pergelangan tanganku, kami menjadi pusat perhatian, Aldo adalah seseorang yang di segani di sekolah ini karena ayahnya, dan sekarang dia akan mengantarku pulang, Apakah dia tak takut prioritasnya turun disekolah ini? Apakah ia tak takut akan dianggap sama hinanya denganku? Sepertinya lain kali aku lebih baik menghindar dari anak donator ini, aku tak mau dia juga akan menjadi korban bulan-bulanan karena aku.
*****
"Kenapa kau lakukan ini?" pertanyaan itu lantas terlontar dari mulutku ketika kami sedang menuju jalan pulang, menuju rumahku yang lumayan jauh dari sekolah.
"Kau pikir semuanya sama ya?" Ia menoleh sesaat, lalu kembali berkonsentrasi pada jalanan
"Bagiku itu hal yang wajar, Tuhan memang menakdirkan manusia berbeda-beda, dan itulah yang ditakdirkan pada dirimu.." aku menelan ludah, menundukkan sedikit kepalaku, ternyata ada orang seperti Aldo ditengah-tengah para penggosip dan pengunjing itu.
Aku mengalihkan perhatianku dibalik jendela, melihat susunan gedung- gedung disana.
Cuacanya panas, udaranya terlihat berdebu, pepohonan juga jarang terlihat, mereka sibuk mengurus pekerjaan dan membangun berbagai macam fasilitas, namun ada sesuatu yang terlupakan, oksigen dunia, atmosfer bumi, segala sesuatu yang ada dibalik kulit bumi yang menuntut diperlakukan dengan sebagaimana mestinya.
"Terimakasih.." akhirnya kata itu dapat keluar dari mulutku. "Untuk apa?" Aldo menoleh.
"Untuk semua ini.." aku masih saja tak berani berbicara sambil menatap matanya, entah sampai kapan aku berbicara sambil menunduk seperti ini. "Kurasa terimakasih saja tidak cukup." Aldo berdeham, pandangannya fokus ke depan, ucapannya barusan terdengar datar membuatku kembali kaku dan kelu.
*****
Laki-laki dengan motor sport hitamnya, berada disana, di taman kecil di seberang kompleks, seperti biasanya, tanpa melepas helm atau membongkar sedikit identitasnya, pandangannya tertuju pada kami, rupanya dia dapat mengenaliku dibalik kaca mobil.
Aldo menepikan mobilnya dan membanting setirnya ke arah kanan, memasuki gerbang kompleks, aku melihat laki-laki itu dengan kaca yang tertutup, kami mengitari jalanan kompleks, dia masih terlihat di balik kaca mobil bagian belakang.
"Apa yang kau lihat?" Aldo bertanya, dahinya terlihat berkeringat, mungkin karena cuaca panas dan di dalam mobil terasa pengap, katanya AC mobilnya sedang rusak.
__ADS_1
"Tidak apa-apa.." ucapku, lalu aku membalikkan pandanganku dan kembali pada posisi seperti sebelumnya.
Pekarangan rumahku sudah terlihat dari depan, kami berada di depan pagar kayu sederhana, mama sedang menyapu di teras, lantas kedatangan kami menyela pekerjaannya. Aku keluar dari balik pintu mobil, Aldo tetap berada di atas kursi dengan setiran yang ada di depannya.
"Suruh masuk dulu temanmu itu Mi!" lantang mama dari teras, Aldo membuka pintu mobil di sampingnya dan keluar.
"Saya langsung pulang saja tante, mungkin Naumi butuh istirahat setelah ini." Aldo menurunkan sedikit kepalanya lalu menaikkannya lagi, senyumnya yang ramah lantas membuat mama juga membalas senyumnya.
Kekasih? Benarkah apa yang dikatakan Safrina? Jika itu benar, berarti kotak musik ini adalah miliknya, dan bagaimana jika ia tau kalau benda ini ada padaku?
Aku terus saja bergumam di dalam hati, dan kebiasaan baruku, aku selalu memandangi kotak musik ini sebelum tidur dan menikmati musiknya, membuatku melupakan semuanya, melupakan tentang biru keungu-unguan itu, tentang betapa terpuruknya aku di sekolah, dan tentang sesuatu yang belum dijawab.
Besok hari sabtu, aku bingung harus sekolah atau tidak, menghindari penghinaan itu atau menghadapinya dan menahan emosiku di dalam sana, dan sayangnya besok ada pelajaran matematika, lantas apa kata Pak Zaid kalau ada siswanya yang tidak mengikuti pelajarannya.
Kotak musik ini terus saja tergeletak di samping bantalku, pasangan dansa yang terus mengitari bagian badan piano tak kunjung terlihat lelah, membuat mataku meminta izin untuk segera tidur.
*****
Bunga tulip lagi, secarik karton merah muda lagi, dibawah mejaku, seseorang meletakkannya sebelum kedatanganku, atau mungkin juga ketika sepulang sekolah saat keadaan sudah sepi. Bunga ini sudah jelas bunga tulip, tapi kertasnya?
Racikan kertasnya sembarang, ada sisi lain yang memang dipotong menggunakan gunting, sekarang sudah ada 3 carik kertas, seperti potongan puzzle yang tidak beraturan.
Aku meletakkan semuanya diatas meja, 2 bunga yang sudah layu dan 1 bunga yang masih segar, sepertinya aku harus menyimpannya hingga bunga lainnya tak ada lagi di laci mejaku secara misterius.
*****
"Naumi, bisa ikut bapak ke kantor sebentar?" pak Zaid tiba-tiba saja menghampiriku ke tempat duduk saat aku mengerjakan soal latihan matematika.
"Iya pak" aku lantas mengikuti langkahnya menuju pintu kelas, aku tak tau mengapa dia memintaku untuk kesana.
__ADS_1
"Pasti karena keindigoannya itu dan mungkin dia akan di skor karena Pembuat gempar sekolah." Bulian itu kembali ku terima dari salah seorang teman sekelasku, lalu mereka tertawa, mentertawakanku dengan sekehendak mereka.
Aku menunduk dan menyingkirkan diriku dari kelas ini, jika aku dibuli di luar sana, itu mendingan, tapi mendapat hinaan dari teman sekelas sendiri, itu lebih menyakitkan.