
Berselang sekitar 15 menit gedung rumah sakit sudah terlihat dari sini, Aldo menepikan mobilnya dan memarkirnya di antara halaman beraspal dekat taman-taman yang ada di depan rumah sakit.
"Makasih sudah datang untuk menengok mama ya, Mi..." Clara duduk di samping ranjang sambil menoleh padaku.
"Bagaimana keadaan beliau, Ra?" tanyaku pelan agar tak mengganggu istirahat Tante Jane.
"Kata dokter, mama harus ditangani lebih intensif. Mi, ada yang harus ku beritahu padamu..." Clara berdiri dari tempat duduk dan menarik tanganku dengan lembut. Lantas aku mengikuti langkahnya menuju bagian sudut ruangan.
"Besok mama akan dibawa ke Jerman, Ra. Kami akan melakukan pengobatan di sana. Papa sudah mengurus kepindahan kerjanya, dan aku..." Clara menghentikan bicaranya, menunduk terlihat sedih, tapi aku mulai menerka apa yang akan dikatakannya.
"Lalu kau juga pindah sekolah?"
Clara mengangguk, lalu ia memelukku erat.
"Maafkan aku ya, Mi. Aku tak bisa menemanimu lagi disini..." ucapnya terdengar parau.
"Tak apa, Ra. Semoga setelah kalian pindah dan Tante Jane berobat disana, ia akan segera sembuh, aku akan selalu mendoakan.
Jangan lupa untuk terus mengabari ku..." Aku berpura-pura tidak apa-apa, walau sebenarnya ada kesedihan disini, terasa ada yang berkurang. Batinku terasa memiliki rongga setelah mendengar rencana kepergian Clara, sahabat mungilku.
*****
Aku keluar dari kamar inap Tante Jane. Aldo terlihat duduk di depan sana, di depan kamar inap.
"Katanya kau juga ingin menengok seseorang, kenapa dari tadi kau hanya duduk disini?" Kecurigaan Ku mulai muncul.
"Tidak ada, aku hanya ingin menemanimu. Jika ku bilang hanya untuk mengantarmu, kau pasti akan menolak. Maafkan aku..." Dia menatapku lalu tersenyum. Orang yang baru ku kenal ini sudah pandai berbohong padaku.
"Kenapa kau lakukan itu?" Nada bicaraku setengah marah,
"Aku hanya bosan di rumah. Aku tak ingin pulang. Tak salahnya ku habiskan waktu untuk menemani seseorang untuk beberapa jam. " Setelah ini kau mau kemana?"
Aku takut dibohongi nya lagi.
"Aku ingin pulang..." Langtang ku.
"Aku akan mengantarmu, di mana rumahmu?" Aldo mengeluarkan kunci mobilnya dari dalam saku celana.
"Aku bisa pulang sendiri, aku sudah memenuhi syaratmu kan?"
__ADS_1
"Tidak baik perempuan pulang sendirian hampir sore seperti ini, biarkan aku mengantarmu." Dia membujuk lagi, aku ingin membantah tapi tak sempat. Dia menarik tanganku dan kali ini aku terpaksa menuruti bujukan anak donator ini lagi.
*****
Tak kusangka kemarin adalah waktuku terakhir bersama Clara di sekolah, dan semuanya kembali seperti dulu, aku tak punya teman seakrab Clara.
Aku melangkah melewati pekarangan rumah dengan lesu, membuka gagang pintu, pintunya dikunci dari dalam.
"Mah... Naumi pulang..." Aku berteriak agar mama mendengar, tidak ada sahutan dari dalam. Namun terdengar ada langkah kaki yang mendekati pintu, gagang pintunya bergerak.
"Silahkan masuk nona..."
Fariz !! aku mengenal betul bagaimana suaranya walau pintunya tak sepenuhnya terbuka. Aku menghambur masuk dan memeluknya.
"Rupanya kau rindu sekali padaku?" Fariz setengah menyindir, lantas aku cemberut dan melepaskan pelukanku. Dia menertawakanku.
Kadang Fariz memang menyebalkan, dia terlihat puas apabila berhasil membuatku marah.
"Gubrakkkk!!!" sebuah truk tangki bensin menyelundup Fariz yang menaiki motornya. Fariz tergeletak di jalan raya dan berlumuran darah tak sadarkan diri, truk itu kabur, berselang beberapa detik orang-orang mulai menggeromboli nya.
Aku berlari ke kamar, bukan karena marah kepada Fariz, tapi karena apa yang terjadi barusan, kenapa tiba-tiba aku seperti membayangkan sesuatu yang sebenarnya tidak ada dan aku sendiri dalam keadaan tidak mengkhayal. Jantungku berdegup kencang, insiden itu mengerikan. Fariz menyusul ku ke kamar,
"Kapan kau pulang?" Aku melontarkan pertanyaan. "Dari tadi pagi... kenapa kau pulang terlambat hari ini?"
"Bukan itu, maksudku kapan kau kembali ke luar kota?" Aku masih merasa cemas, tak memperdulikan pertanyaannya kenapa aku pulang terlambat.
"Sore ini.. memangnya kenapa?" Aku semakin cemas padanya. "Jangan, kak. Kuharap kau bisa tinggal beberapa hari lagi disini." Fariz mengkerutkan keningnya.
"Kau terlihat cemas? Kenapa?" Akhirnya pertanyaan itu membuatku harus mengatakan sesuatu kepada Fariz,
"Aku melihat kau berlumuran darah barusan, sebuah truk tangki menabrak mu... entah itu seperti hayalan. Namun aku melihatnya nyata...
aku takut itu sebagai pertanda buruk..." parau ku.
Fariz terdiam sesaat.
"Kupikir semuanya hilang, namun ternyata masih ada..." Aku tak mengerti apa yang di katakan Fariz.
"Maksud kakak?" Aku mengernyitkan keningku.
__ADS_1
"Sejak kecil terjadi keanehan pada dirimu, seperti berbicara sendiri. Kau sering mengatakan kejadian-kejadian yang tidak pernah terjadi. Apabila menatap seseorang kau melihatnya dengan tajam, setelah itu kau menceritakannya pada kami tentang watak seseorang itu, dan banyak lagi..." Aku terkejut mendengar sesuatu yang dikatakan Fariz yang sebelumnya tidak ku ketahui, pun papa dan mama juga tidak pernah menceritakannya.
"Kami pikir terjadi gangguan psikologis pada dirimu. Kami membawamu ke dokter, katanya memang ada kelainan. Kau mengidap ADHD (attention-deficit hyperactivity disorder) atau sering disebut sebagai anak indigo..." Tubuhku terasa di setrum aliran listrik bervoltasi tinggi setelah mendengar penjelasan dari Fariz.
Ini benar-benar berita yang mengejutkan bagiku.
"Kami pikir setelah kau amnesia, ke indigoan itu juga hilang, karena tidak pernah terjadi sesuatu yang aneh lagi pada dirimu. Frekuensi otak anak indigo lemah, sehingga gelombang dari luar mudah masuk dan diserap dengan cepat. Oleh karena itulah, kau tetap cerdas seperti dulu walau setelah mengalami amnesia.
Perkembangan otakmu kembali stabil, tidak ada yang menyangka bahwa kau adalah seseorang yang pernah mengalami hilang ingatan..." sambung Fariz. aku mencoba menelan ludah, mencerna penjelasannya dan menerimanya ke dalam logikaku.
"Semuanya tetap terjadi, Kak. Hanya saja aku tak menceritakannya pada siapapun..." jawabku parau.
Sekarang aku mengerti atas apa yang selalu menimpaku akhir-akhir ini. Entah yang dikatakan Fariz merupakan suatu kebenaran atau tidak, pikiranku masih belum dapat memastikannya.
Aku hanya gadis biasa, aku juga individu yang merupakan makhluk sosial yang membutuhkan orang lain dalam hidupku.
"Jadi rencana mu pulang hari ini batal, kan?" Aku memastikan Fariz setuju dengan pendapatku. Fariz duduk di samping ranjang ku, mengelus kepalaku dengan sayang.
"Iya Tuan putri, aku akan tinggal disini beberapa hari." Fariz tersenyum lalu ia meninggalkanku di kamar dan menutup pintu kamarku dari luar mempersilakan ku untuk beristirahat.
*****
Seperti biasa, aku datang ke sekolah pagi-pagi sekali, daun-daun berguguran dari pepohonan. Terdengar kicauan burung yang bersahut- sahutan. Ada suara dari lapangan basket, suara pantulan bola, dan suara gemerincing ring basket.
Ada seseorang di sana, ini pertama kalinya ada siswa yang datang sebelum aku.
Aku melangkah pelan, siswa laki-laki itu menghadap ke arah ring. Aku menepi di tepi lapangan, langkahku mungkin terdengar oleh siswa itu karena aku menginjak dedaunan yang kering.
"Kau selalu datang lebih awal? Kenapa?" Dia melemparkan bolanya dengan tepat ke ring basket. Seketika langkahku terhenti, aku terkesiap setelah ia membalikkan badan. Itu Alfath, dari mana dia tau bahwa aku datang selalu paling awal?
"Kau tau tentang itu dari mana?"
Dalam benakku penuh dengan tanda tanya.
"Karena aku juga sering datang lebih awal, hanya saja kau selalu mendahuluiku." Dia menghentikan pantulan basketnya, memegangnya dengan kedua telapak tangan,
"Aku harus ke kelas." Aku membalikkan badanku dan melangkah pergi. "Kau tak menjawab pertanyaan ku!" ucapnya sedikit tegas.
"Tidak semua pertanyaan harus ada jawabannya." Aku meninggalkannya di lapangan basket, dari kejauhan terdengar ia kembali memantulkan bola basketnya ke lantai lapangan.
__ADS_1