Kisah Cinta Indigo

Kisah Cinta Indigo
Part 14


__ADS_3

"Aku sudah bilang kalau aku tidak bisa, kenapa kau keras kepala?" Nada bicara kesalku ketika kami sudah berada di dalam mobil sport biru malamnya, tidak lagi pengap, rupanya AC mobilnya sudah diperbaiki.


"Lebih baik ikuti saran ibumu, daripada kau terus-terusan mengurung diri di dalam kamar," ucapnya setengah menyindir.


Aku hanya mengenakan celana jeans biru tua, baju merah yang terbuat dari bahan katun rayon dengan pita yang lumayan besar di kerahnya, melebar ke bawah dan menutup bagian resleting celana. Aku tak terbiasa menggunakan pakaian yang terbuka, walau sederhana, setidaknya pakaian ini nyaman dikenakan.


"Kita mau kemana?" aku melempar pertanyaan.


"Lihat saja nanti.." dia tersenyum lagi, aku masih saja merasa kesal karena mama lebih membelanya daripada aku.


*****


Aldo menepikan mobilnya, ini memang masih sore, tapi papan yang bertuliskan nama sebuah tempat itu sudah dihiasi dengan lampu-lampu merah kecil yang berkelap-kelip. Itu adalah sebuah bar, kenapa dia membawaku kemari?


Aku tak pernah ke tempat ini sebelumnya, bar itu sendiri adalah istilah yang pertama kali digunakan pada tahun 1592 di Prancis untuk menyebut tempat yang hanya menyajikan minuman beralkohol, seperti brandy, bir, dan wine setahuku.


Ini payah, Aldo mengajakku ke tempat yang sangat asing bagiku, dan aku tidak menyukainya. Rasanya aku ingin lari saja dari sini dan pulang sendirian.


Ada yang merayap di tanganku, Aldo menggenggamnya, kurasa lelaki ini mulai kurang ajar, aku mencoba menghempaskan genggamannya, tapi dia mencengkram.


"Biarkan seperti ini, jangan membuat ulah, di dalam sana banyak teman- temanku," bisiknya memberi instruksi yang menurutnya harus ku lakukan. Kali ini aku terjebak pada tempat yang bukan bagianku. Ini akan menjadi ajakan terakhirnya yang ku penuhi, janjiku dalam hati.


Dengan pelan dia menarikku, aku mengikuti langkahnya, ada satpam yang berada di depan pintu, dia tersenyum dan menyapa Aldo, sepertinya mereka memang sudah sering bertemu.


Di dalam sana terlihat meja atau counter untuk menyambut pelanggan dengan kursi-kursi yang berkaki tinggi, kedatangan kami lantas membuat beberapa pasang mata memusatkan perhatian kepada kami, dan terlihat dari mereka ada yang mengenal Aldo, mungkin mereka yang dikatakan Aldo sebagai temannya barusan.


"Rupanya kau sudah pensiun dari kelajanganmu, Do." Salah seorang dari mereka menepuk pundak Aldo. Aldo tak menjawab, dia hanya tersenyum, sementara tangan kiriku masih saja dalam genggamannya. Pensiun dari kelajangan? Rupanya selama ini Aldo tak punya kekasih, tapi mereka salah kira, aku bukan kekasihnya, Aldo adalah orang asing yang baru ku kenal yang tiba-tiba saja datang ke rumahku dan meminta izin pada orang tuaku untuk membawaku pergi, dan sekarang ia berbuat kurang ajar.


*****

__ADS_1


Akhirnya tanganku tak lagi dalam cengkramannya, kami duduk pada jejeran kursi yang berkaki tinggi itu, seorang waiter berada di balik meja, dan di balik meja itu juga terdapat barisan botol minuman beralkohol dan gelas berkaki sebagai wadahnya.


"Kau mau minum apa?" Aldo bertanya padaku.


"Aku tak minum alkohol, kau saja yang minum.." aku membuang pandangan, aku tak tau apakah dia mengerti atau tidak bahwa aku tak suka tempat ini. Aku seperti oasis, genangan air yang berada di gurun pasir, mungkin sebentar lagi akan mengering karena terik matahari atau badai gurun.


"Tapi tak semuanya mengandung alkohol, disini juga ada varian minuman racikan seperti mocktail, campuran dari jus dan buah segar itu.


Kau mau mencoba?" dia menawarkan minuman yang namanya sangat asing itu di telingaku.


"Aku tak mau minum apa-apa, aku ingin kita pulang.." parauku, aku menunduk mencoba mengutarakan keinginanku, berharap dia memenuhinya.


"Tapi kita baru sebentar disini.. lihatlah, tempat ini cukup menyenangkan.." aku tak memperdulikan apa yang ia katakan, aku beranjak dari kursi ini saat dia lengah.


"Kau mau kemana?" Aldo setengah teriak, sementara aku berlari menghambur menuju pintu utama, dan akan segera keluar dari tempat ini, jika dia tetap memaksa, aku akan memanggil taksi.


Aku mempercepat perpindahanku dan sepertinya Aldo mengikutiku dari belakang, sudah ku duga dia akan mengunjungi tempat-tempat seperti ini, kesenangan dunia. Aku tersenyum kecut dan akhirnya aku sudah berada di luar.


"Tapi tak salahnya kau mencoba untuk menyukainya, kau hanya belum terbiasa." Dia masih saja keras kepala.


"Terserah. jika kau tak mau pulang, aku bisa pulang sendiri." Dia pikir dia siapa? Mengaturku seenaknya untuk menuruti semua kehendaknya. "Baiklah, kita pulang sekarang." Akhirnya kali ini dia mengalah.


"Katanya kau akan mengantarku pulang, kenapa kau tak mengarah pada jalan pulang?" aku tergernyit, entah apa lagi kemauan anak donator ini. "Sekarang bawa aku ke duniamu, katakan! Kemana kau mau pergi.. tapi bukan pulang kerumah.." Aldo terlihat dingin, pandangannya tertuju pada jalanan yang agak longgar.


"Aku mau ke sekolah.." gumamku.


"Sekolah?" Aldo menoleh, rupanya permintaanku terdengar mengejutkannya, "sekolah itu sudah setiap hari kita kunjungi, lagian tempatnya itu-itu saja, susunan ruangan-ruangan, lapangan basket, dan yang membosankan tempat parkiran yang selalu jejal.. apakah tak ada tempat lain?"


"Tapi ada suatu tempat yang banyak orang tak menyadarinya, kau pasti akan menyukainya.." aku mencoba meyakinkan, dan Aldo menurut kesal.

__ADS_1


*****


Kami menepi di lapangan basket, kami sama-sama kesal, aku tak suka tempatnya, dan dia tak suka sikapku, kami seperti dua orang yang berasal dari era yang berbeda, atau berasal dari tempat yang memiliki arah angin yang berlawanan, lalu dipaksakan menuju arah yang sama dan dihubungkan oleh garis isogon.


Wajah Aldo menjadi dingin, dengan style jeans hitamnya yang dipadu dengan baju tangan panjang dengan motif kata-kata abstrak, rupanya ia kecewa padaku di bar barusan. Tapi mau bagaimana lagi, itulah cara melawan si keras kepala ini.


"Di mana tempatnya?" akhirnya dia bicara juga.


"Di belakang perpustakaan itu, sebentar lagi kita akan sampai" lalu kami berdua hanya diam, hanya langkah kaki kami yang bicara, 2 pasang sepatu yang menghasilkan bunyi karena menginjak lantai lapangan.


Kami melewati selokan kecil dan berada di dinding samping perpustakaan, dia berjalan mendahuluiku, mungkin karena rasa penasarannya, siapa yang tak takjub Jika melihat tempat itu, pepohonan dengan nuansa seperti berada di zaman klasik Eropa.


Aku membiarkan Aldo menengok lebih dulu, menyisipkan helai rambutku ke bagian belakang telinga.


"Jadi cuma seperti ini tempatnya?" Aldo bergumam.


"Indah kan? Ada pepohonan seperti di Bregagh Road yang di Irlandia itu.." jelasku, aku masih menepi di balik dinding.


"Tidak ada, hanya pekarangan gersang dan kawat pembatas sekolah, kau mau membohongiku ya?" Aku terkesiap. Mungkin si pembujuk ini sedang bercanda.


Aku melangkahkan kakiku, berada dibalik punggung Aldo, dan.. dimana?


Mana pepohonannya?


Seketika nadiku berdenyut cepat. Aku mengelus-elus mataku. Namun keadaannya tetap sama. Tidak ada apa-apa disana, hanya tanah lapang yang gersang dan kawat pembatas sekolah yang sudah berkarat. Lalu apa yang ku lihat selama ini? Tempat yang teduh dan temaram itu, pepohonan yang tak ternilai, alunan musik klasik dan ketenangan, apa yang terjadi?


"Ya sudah, ayo kita pulang." Aldo membalikkan badannya, sementara aku masih tidak mempercayai semua ini, aku ingin mengatakan bahwa aku tak berbohong dan aku memang sering mengunjungi tempat itu, aku melihatnya dengan mata kepalaku sendiri, tapi bibirku terasa digembok, dan seseorang lupa meletakkan dimana kuncinya.


*****

__ADS_1


"Hari ini tak ada sanggar" tiba-tiba saja ada Alfath ketika kami membalikkan badan, untuk apa ia ada disini? Apakah ia ingin mengunjungi tempat itu? Tapi kenapa barusan tempatnya sudah berubah, tempat misterius dan juga si misterius ini.


"Kami memang tidak untuk menghadiri sanggar" entah bagaimana Aldo menggenggam tanganku lagi, membuatku merasa risih dan mencoba melawan. Dan lantas saja Alfath melihatnya.


__ADS_2