Kisah Cinta Indigo

Kisah Cinta Indigo
Part 19


__ADS_3

"Aku baru kali ini naik bus" dia berbicara, pandangannya mengarah ke depan, permen karetnya menggelembung lalu pecah ke mulutnya, dan kembali dikunyahnya berulang-ulang kali.


Aku hanya diam, tertegun melihatnya, aku tak bicara apapun, aku masih ragu ia memang berbicara padaku atau pada orang lain yang ada di sebelah sana.


"ayahku bangkrut, ekonomi kami krisis" dia meneruskan bicaranya, seketika pandangannya mengarah padaku, aku menelan ludah, dia mengatakan masalah pribadinya kepadaku, bukankah itu masalah keluarga yang seharusnya tidak perlu di ceritakan pada orang lain. Kalau tidak salah dia adalah seniorku, jurusan pengetahuan sosial, hanya saja aku tak tau siapa namanya.


Dia menoleh padaku,


"kau Naumi kan?" akhirnya dia berbicara dengan menatap lawan bicaranya, dan ia menyebut namaku? Aku tersenyum simpuh, jelas saja satu sekolah mengenalku.


"iya kak" aku sedikit menunduk, merasa rendah diri di hadapannya, mungkin dalam pikirannya sama seperti mereka, tentang biru ke ungu- unguan itu.


"panggil saja aku Zoya, tidak usah dengan sebutan kakak"


Aku mengangguk pelan,


"Aku tau namamu dari tanda pengenal yang ada di baju seragammu itu, kau terlihat nyaman naik bus, kau sudah terbiasa ya?" dia berbicara lagi. "Iya, saya selalu naik bus setiap pagi atau sepulang sekolah" lalu aku tersenyum. Rupanya ia tak tau tentang gosip itu, atau berpura-pura tidak tau, tapi tak apalah, setidaknya ada seseorang yang tidak mengunjingku seperti mereka para paparazi itu.


*****


"Saya duluan" aku melangkah permisi karena bus berhenti di halte berikutnya, di dekat gerbang kompleksku.


Si kakak senior ini dengan wajah dinginya sedikit tersenyum lalu dengan tak bosan-bosannya kembali mengunyah permen karet yang ada di mulutnya.


Aku melintasi jalan trotoar, cuacanya agak teduh, rupanya matahari malu menampakkan diri hari ini.


Ya Tuhan...


Di seberang sana, lelaki yang sama dengan motor sport hitamnya, agak membuang pandangan saat aku mengetahui ia ada disana. Aku tetap menatapnya, dan ia agak gelisah, lalu menyalakan mesin motornya.


Aku berharap dapat melihatnya dan mengetahui identitasnya, setidaknya aku dapat mengingat bagaimana wajahnya, tapi ia tak memberiku celah sedikitpun. Laki-laki itu mulai mencengkram tuas gas, menginjak pedal bagian bawah motornya, dan pergi begitu saja dari pandanganku.

__ADS_1


Aku masih saja tertegun, menatap keadaan di seberang sana, melihat keberadaan pria misterius yang sudah menghilang.


Tanpa ku sadari ada beberapa orang yang menatapku dari seberang sana, melihat aku yang tercengang seperti seseorang yang sedang kebingungan.


Aku segera menyadarinya, dan segera pergi melewati gerbang kompleks.


*****


Musik klasik ini kembali ku dengarkan, suaranya masih tampak bersih, padahal aku sering membuka penutup tutsnya, rupanya daya batrainya cukup kuat.


Aku teringat kejadian waktu itu, ketika di dekat Bregagh Roads, maksudku di belakang perpustakaan, aku tak mengerti apa maksudnya, atau mungkin itu adalah sebuah pelampiasan? Tapi mengapa ia lakukan itu. Beberapa hari yang lalu Safrina pernah mengatakan bahwa ia adalah kekasih Alfath, dan jika itu benar, berarti kotak musik ini adalah miliknya. Sepertinya aku tak bisa membiarkan benda ini terus berada bersamaku.


Aku masih bingung besok aku harus pergi ke sekolah atau tidak, aku sudah ketinggalan pelajaran selama 2 hari kemarin, sebenarnya itu merugikan, tapi mau bagaimana lagi.


*****


"Naumi??" mama mengetok pintu dari luar saat aku masih sibuk dengan rumus-rumus matematikaku. Aku melepas balpoin dari tanganku dengan segera.


Dengan pelan pintu terbuka,


"Mi... akhir-akhir ini mama lihat kau terlalu berpikir keras, firasat mama seperti ada sesuatu yang buruk menimpamu" aku terdiam saat mama mengatakan hal itu.


Terasa ada yang menyesak di dalam dadaku, aku tak ingin membuatnya bersedih karena masalah yang menimpaku ini, tapi sepertinya tak salah jika aku mengatakannya pada mama, mungkin saja ia akan menyarankan sesuatu yang baik untuk memecahkan masalah ini.


"Ma, Naumi di cap sebagai anak indigo di sekolah" suaraku agak gemetar.


Mama merangkul lenganku, aku menelan ludah.


"Lalu?" Dia mempersilahkanku untuk bicara lagi, "mereka mengata- ngataiku .." ucapku agak ragu, aku takut membuat mama bersedih.


"Bagaimana semua itu bisa terjadi?" mama mengkerutkan keningnya. "Waktu itu ada pakar pembaca aura yang datang ke sekolah, Naumi sudah berusaha menghindar, tapi terlambat, mereka melihat aura yang berbeda, biru keungu-unguan yang terlihat di layar monitor, setelah itu satu sekolah mengetahuinya.." parauku.

__ADS_1


Mama memelukku, membuatku merasa lebih tenang.


"Mama mengerti, tapi kenapa kau tak membicarakannya dari awal?" "Maafkan Naumi Ma.." aku memejamkan mataku di pelukan mama, kurasakan tangan dan tubuhnya yang hangat, melenyapkan dinginnya takut dan kekhawatiranku.


"Kamu mau pindah sekolah?" mama menawarkan sesuatu.


Pindah? Aku memang sempat berpikir kesana, tapi itu terasa berat, ada sesuatu yang lebih berat dari itu, tentang pertanyaan-pertanyaan yang entah tidak pernah di jawab atau memang tidak ada jawabannya.


"Nanti Naumi pikir-pikir dulu ya Ma..." Setidaknya aku menghargai sarannya, walau bagaimanapun mama pasti tidak ingin melihatku terpuruk dengan keadaan seperti ini.


Kadang sesuatu memang harus kita lihat terlebih dulu...


Postur yang gersang atau yang lembut...


Tapi sayangnya ada sesuatu yang pandai mengubah warnanya...


Sulit untuk dikenali.. dan sulit untuk diberitahu...


Aku memutuskan masuk sekolah hari ini, di dalam ranselku, benda yang berisi "Fur Elise‟ itu sengaja ku bawa, aku bermaksud akan mengembalikannya, jika dia tidak mau dikembalikan, aku akan memaksa, aku tak mau benda ini terus bergelimang bersamaku.


Dalam pikiranku masih berporos kata-kata mama, tawarannya untuk pindah sekolah, hari ini mungkin bisa menjadi hari terakhirku di sekolah jika tekadku sudah bulat, atau aku akan terus bertahan menghadapi semuanya.


Hari ini aku tidak normal, maksudku bukan aku, tapi keadaannya, tidak seperti biasanya, aku tidak datang lebih awal, ataupun menghindari orang-orang lagi.


Mobil-mobil pribadi berjejer di depan sana, ada beberapa kalimat yang identik, warna-warna mengkilat, merek-merek yang ternama.


Aku meneruskan langkahku menuju area sekolah, meski agak ragu, tapi kali ini aku sudah mulai memberanikan diri.


Langkahku terhenti sesaat ketika berada di dekat tempat piket, memandangi lapangan basket yang kosong dengan dedaunan yang berserakan disampingnya, petugas kebersihan belum menyingkirkannya dari sana, atau memang sudah dibersihkan, lalu dedaunan yang layu baru saja berguguran kembali karena tiupan angin. Siswa-siswa yang sibuk baru datang ke sekolah, ada yang sudah datang dan asik mengobrol di teras, kecendrungan wanita.


Sayangnya kelasku berada diujung, ada tiga jalan yang dapat ku pilih, berjalan di tengah lapangan basket, menepi di antara lapangan dan kelas-kelas sosialita itu, atau yang lebih buruk melewati lorong-lorong sekolah tepat di depan kelas-kelas mereka. Dan pilihan ketiga itu tidak mungkin kupilih.

__ADS_1


Akhirnya aku memilih melangkah di tepi lapangan basket, meski jaraknya agak dekat dengan kelas kaum sosialita. Ketimbang menjadi pusat perhatian berjalan sendirian di tengah-tengah lapangan basket.


Pemandangan itu ku temukan lagi hari ini, mereka yang berada disana, di atas keramik yang terlihat mulai agak hangat, saling berbisik dan menatapku dari atas hingga ujung kaki.


__ADS_2