
Kecuali jika jam pelajaran sedang berlangsung, aku tak tau bagaimana menghadapi mereka, mereka semua sama saja, tidak ada yang mengerti ataupun membelaku, mereka bukanlah orang-orang yang bijak, dan bukan bagian-bagian dariku.
*****
Aku menghela nafas, menyandarkan tubuhku di belakang perpustakaan ini lagi, cuma disini tempat yang membuatku tenang, aku tak akan menyusuri pepohonan itu lagi, aku takut kejadian seperti tadi pagi terulang, aku hanya berada diatas pondasi, melakukan seperti yang biasanya alfath lakukan, menyandarkan punggunggnya di dinding.
Aku memejamkan mataku sesaat, menenangkan pikiranku, kepalaku terasa sakit, mama pernah bercerita, setelah aku amnesia, kata dokter aku tak boleh berpikir terlalu keras karena akan berakibat fatal, tapi semua yang menimpaku terjadi secara kompleks, semuanya tiba-tiba saja datang secara bersamaan. Mentalku terasa dikuras habis-habisan.
Ya Tuhan..
Hanya itu yang bisa ku ucapkan, semoga saja aku diberi kekuatan dan segala sesuatunya segera selesai dan tersingkir dari hidupku.
"Rupanya kau tak trauma ya?" suara yang selalu datang tiba-tiba, dan dapat kupastikan itu adalah Alfath, dan dugaanku memang benar.
"Aku tidak suka suasana di luar" aku menghela nafas lagi, menghirup oksigen dengan gratis, dan menghembuskannya tanpa ada yang melarang.
"Apakah ada kaitannya dengan aura itu?" pertanyaan Alfath lantas membuatku tercengang.
"Rupanya berita itu sampai ditelingamu ya?" aku sedikit menunduk, dan satu lagi, aku tak pernah mengerti mengapa setiap kali aku ada disini, Alfath selalu datang setelahku.
"Satu sekolah mengetahuinya." Dia berdehem. "Tapi aku tak kaget," sambungnya,
"Kenapa?" kali ini dia membuatku tergernyit lagi.
"Untuk apa kaget pada sesuatu yang sudah kita ketahui"
"Apa maksudmu?" sudah diketahui? Apakah Alfath sudah tau sebelumnya, Kenapa dia selalu mengatakan sesuatu tanpa keterangan.
"Tidak" dia menggelengkan kepala.
"Kau tak perlu takut pada mereka, mereka itu adalah orang-orang pengecut." Dia meneruskan bicaranya.
"Lalu kenapa kau tak memperlakukanku sama seperti mereka?" aku tersenyum kecut.
"Itu adalah perbuatan bodoh, kau membolos lagi ya?"
__ADS_1
"Seharusnya itu tak perlu kau tanyakan lagi." Aku memijat-mijat jidatku, rasanya ada sesuatu yang membeku disana dan terasa ngilu.
"Aku tak mengerti apa yang kau bicarakan di UKS barusan. Bisakah kau menjelaskannya? Setidaknya bisa mengurangi rasa sakit di kepalaku." Kuharap dia mengerti keadaanku dan menjelaskan agar aku mengerti.
Alfath mendekat, wajahnya terlihat cemas, dia duduk di sebelahku, kali ini aku dapat membaca ekspresi wajahnya, kenapa tiba-tiba wajahnya yang beku sekarang agak mencair, apakah tempat ini terasa seperti lahar panas olehnya.
Dia menatapku, dengan matanya yang agak sayu dan tergembar kelembutan disana.
"Darimana aku harus memulai?" suaranya sedikit parau, aku tak mengerti apa yang terjadi di dirinya.
"Dari kenapa tempat ini bisa berubah? Dari kenapa kau menemukannya? Dan bagaimana aku juga..." Bicaraku terhenti, tiba-tiba telapak tangannya menyentuh pipi hingga bagian belakang telingaku, ia mendekatkan tubuhnya kepadaku dan mengecup keningku dengan lembut, lantas mataku terpejam, aku merasa seperti ada ikatan bathin disana, sekujur tubuhku terasa mengejang dan dingin, tapi Alfath adalah orang asing misterius yang tak begitu ku kenal, dan ada sesuatu yang basah.
Alfath menangis, air matanya jatuh hingga membasahi alisku, kecupan itu masih saja belum terlepas, aku seperti tak bisa melakukan apa-apa, dingin dan beku, namun terasa ada kehangatan disana.
Dan seketika ia melepaskannya, bisa ku katakan dia kurang ajar, tapi air matanya membuatku mengurungkan niat untuk protes dan marah padanya.
"Maaf" Ia menjauhkan wajahnya, suara Alfath gemetar, dia terlihat cemas, mungkin dia takut membuatku marah, aku menjaga jarak dengannya, aku tak tau harus bicara apa.
Aku masih saja kelu, dia sudah tak lagi menangis, tetesan air matanya dapat dihitung dalam hitungan jari, aku tak mengerti, dan sekarang aku merasa denyut jantungku sangat cepat, dan perasaanku menjadi campur aduk, dia orang asing yang misterius, telah melakukan sesuatu tanpa alasan atau sebab, tanpa ada ikatan dalam sebuah hubungan, bukankah dia bilang dia punya seorang kekasih? Lalu bukankah dia tak menjaga perasaan kekasihnya dengan melakukan perlakuan barusan dengan wanita lain?
Aku tak mengucapkan sepatah katapun padanya, aku beranjak berdiri dan berlari menghambur meninggalkannya, sementara Alfath terlihat kaku disana, menopang kepalanya dengan kedua telapak tangan.
*****
Sebuah telur pecah di baju seragamku, seseorang sengaja melemparkannya dari belakang. Aku berada di tepi lapangan basket bermaksud akan segera pulang.
Tak lama setelah itu ada yang melemparkannya lagi, dan ada butiran- butiran pasir yang juga menempel disana hingga mengenai ujung rambutku.
"Hentikan..!!" teriakku, aku ingin melawan, tapi mereka terlalu banyak, sedangkan aku sendirian. Tapi tetap saja, mereka meneruskan aksinya dan mengejekku dengan cacian-cacian yang mereka lontarkan,
"Anak nila itu pantas mendapatkannya"
"Dia hanya akan membawa sial di sekolah kita"
Mereka semua bersorak, dan menjadikanku sebuah boneka yang di injak-injak.
__ADS_1
Air mataku menetes lagi, air mata kemarahan, setauku indigo tidak seburuk itu, ada seseorang yang sengaja melakukan sabotase dibalik semua ini, dan pembuat artikel itu, tanpa nama pemostingnya.
Lalu bagaimana aku bisa pulang dengan keadaan kotor seperti ini, mama juga pasti akan sedih jika melihat keadaanku yang buruk, aku tak pernah menceritakan kejadian ini pada mama, aku tak ingin menambah beban pikirannya. Aku hanya bercerita pada Fariz tentang pakar itu, selebihnya tak ada cerita tentang bulian dan penghinaan ini.
"Berhenti mengganggunya!!" ada suara di belakangku, mereka yang menggeromboliku tiba-tiba saja berhenti,
"Pergi kalian dari sini!!" perintah itu terdengar lagi, aku masih saja berdiri menunduk, menatap lantai lapangan basket yang kotor karena pasir dan cangkang telur di dekat kakiku.
"Aku akan membawamu ke laundry.." sebuah tangan menggenggam pergelangan tanganku, dan menariknya dengan pelan. Dan dia anak donator itu lagi, kenapa ada Aldo setiap kali aku menerima penghinaan itu.
*****
Kami berada di parkiran sekolah, Aldo membuka pintu mobilnya dan mempersilahkanku masuk.
"Aku hanya akan mengotori mobilmu.." aku sedikit cemas karena merepotkan seseorang.
"Tidak apa-apa, nanti juga akan bersih lagi, ayo masuklah.." Aldo mengelus sedikit pundakku, dan mendorongku pelan agar segera masuk ke dalam mobil pribadinya itu.
Dia menarik gas mobil dan kami akan segera pergi dari sini, aku melihat keadaan di luar dari kaca mobil yang tertutup, mobil ini menjadi pusat perhatian dari sana, bukan karena mobilnya, tapi karena insiden barusan, karena telur-telur dan pasir yang menempel di bajuku ini, dan karena biru keungu-unguan itu.
Dan lagi-lagi dia menyelamatkanku, walaupun sebelumnya aku marah padanya ketika di bar waktu itu, setidaknya aku berhutang budi padanya dan tak ada alasan untuk tidak memaafkannya.
Tidaklah kau tau betapa terpuruknya aku...
Dengan keadaan ini, keadaan yang tak semestinya...
Keadaan yang dapat menyingkirkanku dalam sekejab...
Aku ingin sesuatu yang nyata...
Bukan pertanyaan yang tak kunjung usai...
Dia membuka pintu mobil untukku, aku masih tertunduk, kejadian barusan masih saja bergelimang dalam benakku, aku pulang telat karena insiden di sekolah, dan aku harus membersihkan pakaianku sebelum pulang ke rumah dan mengatakan pada mama bahwa aku baik-baik saja.
Sepasang sepatu masih berada disana, menunggu kakiku turun dari mobilnya, wajahnya terlihat bersimpatik, namun tetap saja menggambarkan si pembujuk itu. aku berkedip sesaat menstabilkan cairan yang melindungi selaput mataku. Menyerongkan sedikit badanku dan keluar dari mobil ini.
__ADS_1
"Jangan cemas.." kali ini dia agak mengerti bagaimana keadaanku.
"Aku baik-baik saja.." parauku sambil memegang kedua tali ransel, aku masih menunduk sementara Aldo menutup pintu biru malamnya.