
Ini sudah jam pelajaran ke empat, kelas ini ramai, namun sepi bagiku. Clara tidak ada, aku terasa tak punya siapa-siapa disini. Hanya aku bersama teman-teman yang terasa asing bagiku.
Pelajaran matematika. Kami mempelajari materi tentang fungsi limit di semester 2 ini, dimana f(x) untuk x mendekati bilangan a.
Aku memandangi sebuah gelang yang melingkar di tangan kananku. Gelang ini adalah gelang yang sama dengan Clara. Sengaja kami beli saat liburan sekolah lalu, dan sekarang tidak ada Clara disini. Selama ini dia yang selalu membantuku melawan rasa takutku pada sosialita dunia, dan sekarang semuanya kuhadapi sendirian. Terkadang aku berpikir dan mulai menyadari bahwa tak selamanya aku harus seperti ini. Tapi aku tak tahu bagaimana cara seharusnya untuk beradaptasi.
Ada yang mengetok pintu kelas kami dari luar. Pak Zaid membuka pintu. Terlihat segerombolan siswa ada di sana, 2 orang laki-laki dan 3 orang perempuan. Mereka meminta izin untuk masuk ke kelas kami, dan salah satu dari mereka adalah Alfath. Mereka meminta waktu sebentar dan Pak Zaid mempersilahkan mereka.
"Selamat pagi semuanya." Salah seorang dari mereka menyapa kami, entah ada sosialisasi atau keperluan apa mereka datang kemari.
"Pagi..." kami semua menjawab sapaannya, aku hanya menjawab dengan pelan lalu kembali mengalihkan perhatianku pada buku pelajaran. Kembali melihat rumus-rumus yang tertera di sana dan mempelajarinya.
"Mohon perhatiannya sebentar ya adik-adik." Senior cowok berkacamata itu kembali mengucapkan sesuatu. Sementara yang lain berada di sampingnya memegang kumpulan kertas HVS, dan beberapa map.
Alfath juga ada di sana, berdiri tanpa suara. Lihat saja betapa dinginnya ia, layaknya hanya menjadi sebuah figuran.
"Kami dari komunitas baru di sekolah ini, yaitu komunitas sastra dan drama. Disingkat dengan KSD. Dengan adanya ekstrakurikuler ini, kami harap dapat mengembangkan bakat-bakat siswa di SMA kita. Bagi kalian yang ingin ikut, silahkan mengisi formulir dan mengumpulnya besok pada kami," sambungnya dengan panjang lebar.
Anggota yang lain membagikan formulir itu kepada setiap siswa di kelas ini. Termasuk Alfath yang ikut membagikannya. Bayangkan saja bagaimana wajah siswi-siswi penggemarnya itu, pipi mereka terlihat merona. Ada yang sok akrab, cari perhatian, ada pula yang nekad menggodanya. Pemandangan yang payah.
Dan satu lembar formulir itu juga sampai di atas mejaku, aku memandangi kertas putih HVS ini, di sana tertera kolom-kolom yang harus diisi. Nama, tempat tanggal lahir, nomor ponsel, alasan mengapa berminat mengikuti kegiatan itu dan banyak lagi. Aku melipatnya dan menyelipkan pada salah satu buku paketku agar tidak usang. Entah penjelasan apa lagi yang dikatakan oleh mereka, aku tak terlalu mendengarnya karena sibuk berkenalan dengan rumus-rumus baru ini.
Aku turun dari bus, cuaca tidak terlalu panas. Aku tak perlu buru-buru pulang. Berjalan kaki dengan santai mungkin lebih menyenangkan dan menikmatinya. Kulihat di telapak tanganku terdapat beberapa coretan balpoin, ini karena terlalu serius memecahkan rumus-rumus matematika di sekolah tadi. Sepatu flat-ku agak berdebu, sudah beberapa hari tidak ku bersihkan.
__ADS_1
Aku berada di depan gerbang kompleks. Seperti biasa di seberang sana banyak pelajar yang singgah. Dan seseorang itu, seorang laki-laki dengan motor sport hitamnya, menatapku dengan tajam dari seberang sana. Wajahnya tertutup kaca hitam helm berstandar SNI, celana abu- abu. Sepertinya ia adalah seorang pelajar SMA, bajunya tertutup jaket, aku tak dapat mengenalinya.
Dia tak melakukan apa-apa, hanya menatapku. Aku sering melihatnya ada di sana, tapi ku pikir hanya bersantai seperti siswa-siswa yang lain. Lama-kelamaan pikiranku berubah. Entahlah mungkin hanya kebetulan aku pulang, dan kebetulan ia berada disana.
Aku melangkah memasuki area kompleks, lalu menoleh pada pria itu lagi. Dia masih ada, aku melangkah semakin mendekati rumah, lalu aku kembali ke depan kompleks, dan dia sudah tidak ada lagi. Mungkin semuanya memang hanya kebetulan.
"Kertas apa itu?" Fariz menyelinap masuk ke kamarku tanpa permisi ketika aku sedang memandangi formulir yang tadi dibagikan di sekolah. Aku tak menjawab pertanyaan Fariz, lalu aku menyodorkan kertas itu padanya,
"Sini coba ku lihat." Fariz mengambilnya dari tanganku,
"Lalu apa masalahnya?" Dia kembali bertanya, seharusnya itu tak perlu ia tanyakan lagi. Jelas saja aku tak semudah itu berada pada suatu komunitas, apalagi di tengah-tengah kerumunan orang banyak. Aku menunduk, kuharap Fariz bisa memberi saran untukku.
"Ya, aku mengerti." Fariz menyela. Ia memutar langkahnya, berlutut di depanku yang duduk di atas kursi belajarku.
*****
Kakak-kakak senior dari komunitas kemarin ada di depan kelas. Siswa- siswa bergerombol sibuk mengumpulkan formulir pendaftaran mereka. Yang ada di sana hanya si ketua komunitas yang berkacamata kemarin. Namanya Arya dan si jutek Safrina, senior kelas 3 IPA. Aku setengah ragu saat melihat banyaknya peminat ekstrakurikuler itu, seandainya Clara masih ada bersamaku pasti aku tak akan seperti ini.
Aku memejamkan mata sesaat, mengingat Fariz, mengingat apa yang dikatakannya padaku, aku menyayanginya. Kali ini mencoba memberanikan diri menuruti apa katanya.
Aku berdiri di belakang gerombolan siswa-siswa itu. Aku tak mungkin menyelinap di antara mereka. Aku tipe orang yang tenang, tidak suka rebut-rebutan. Mungkin aku akan menunggu hingga tak lagi jejal, tapi siswa dari kelas lain juga berdatangan. Semakin jejal dan aku tersingkir hingga ke ujung teras disudut dinding. Sepertinya rencana ku untuk mengikuti komunitas itu terancam batal.
"Ssstt..." Seseorang menarik ku dari belakang kelas. "Kak Alfath??" Dia membuat jantungku hampir copot.
__ADS_1
"Ssstt... Jangan berteriak..." Dia meletakkan jari telunjuknya di dekat bibirnya yang familiar.
"Sedang apa kau disini?" Aku tergernyit. Alfath menyandarkan tubuhnya di dinding belakang kelas, dahinya berkeringat.
Tanpa ku sadari tangan Alfath masih memegangi pergelangan tanganku. Kulepaskan pegangan itu dengan pelan, lantas membuatnya bangkit dari sandarannya.
"Maaf." Dia kembali menyandarkan tubuhnya ke dinding.
"Kenapa kau menarikku kemari?" Aku melontarkan pertanyaan padanya. "Kau terjebak disana, aku menolongmu dari gerombolan itu," ucapnya dingin. Tanpa ekspresi dan tanpa menatapku.
"Lalu kenapa kau berada di sini?" Aku bertanya lagi. Aku tidak pernah mengerti tentang keberadaannya.
"Sudah ku bilang, kan? Untuk menolongmu." Aku menelan ludah, sepertinya aku harus berhenti berbicara. Walau sebenarnya aku masih tak habis pikir.
"Berikan kertasmu?" Alfath menyodorkan tangannya.
"Untuk apa?" Aku menyembunyikan kertas formulir yang bergulung itu ke samping rok SMA ku.
"Kau mau mengumpul formulir itu kan? Disana begitu jejal, biarkan aku yang melakukannya." Entah bagaimana caranya ia meraih kertas itu dari tanganku, lalu berlari begitu saja dan menghilang.
Mataku masih tak berkedip, kebingunganku atas kehadirannya. Dia tak kenal siapa aku, bahkan ia tak pernah menanyakan siapa namaku. Dia selalu datang secara tiba-tiba, dan begitu juga kepergiannya.
*****
__ADS_1
Halte ini selalu menjadi tempat persinggahanku sepulang dan pergi sekolah. Hujan tiba-tiba saja turun begitu deras, aku tak membawa payung atau jaket. Ada orang yang juga berteduh disini, laki-laki dan wanita separuh baya, sepertinya mereka adalah sepasang suami istri.