Kisah Cinta Indigo

Kisah Cinta Indigo
Part 13


__ADS_3

Aku tak tau apakah aku bisa bertahan jika terus-terusan diperlakukan seperti ini, di cap sebagai orang yang aneh, di hindari orang-orang, di kata-katai sebagai pembawa sial, atau apalah semacam itu, semuanya berawal dari hari itu, hari dimana aku terjebak pada alat semacam scanning dan juga layar monitornya. Biru keungu-unguan, nila, indigo, kata-kata yang selalu saja membuatku terasa murung, aku memejamkan mata sesaat menyudahi semuanya mengikuti langkah pak Zaid melewati lorong-lorong sekolah.


*****


"Begini Naumi, ini ada surat dari dinas, katanya akan diadakannya olimpiade matematika, syarat pesertanya adalah dari kelas 10 atau kelas 11, dan bapak lihat nilai akademik matematikamu lebih baik dari siswa- siswa yang lain, jadi bapak pikir kau yang pantas untuk mewakili sekolah kita, kau mau kan?" jelas beliau. Kami duduk di sofa yang ada di ruang guru, dengan meja tamu yang ada vas bunga di atasnya.


"Olimpiadenya kapan pak?" aku agak tertarik dengan tawaran itu.


"2 minggu lagi." Lantas pak Zaid menyodorkan padaku surat yang diberikan dari dinas itu.


2 minggu? Sepertinya itu waktu yang mepet untuk menyiapkan segalanya, mengingat rumus, juga memahami konsep-konsepnya, hanya saja aku sedikit kesulitan pada pembahasan logaritma.


Aku mengambil surat itu dan akan memahami persyaratan-persyaratan pesertanya nanti, setidaknya jika aku memenangkan olimpiade itu aku akan menaikkan derajatku di sekolah ini dan mungkin bisa mengurangi segala caci makian itu.


"Kamu duluan saja nak, bapak ada yang ingin diurus sebentar, mungkin bapak sedikit terlambat, kalian kerjakan saja latihan matematikanya ya.." "Iya pak, kalau begitu saya permisi dulu" aku melemparkan senyum pada beliau lalu pergi keluar dari ruangan guru.


*****


Semua kelas terlihat sepi, tak ada kelas yang kosong, semuanya aktif pada jam pelajaran, aku suka keadaan ini, tak ada mereka di luar kelas, dan dapat dipastikan aku terhindar dari sesuatu itu, maksudku bulian dan hinaan itu.


Tempat itu menarik perhatianku lagi, penjaga perpustakaannya terlihat berjalan menuju kantin sekolah, aku menelusuri tanah berumput, rumputnya terlihat basah, aku melewati selokan kecil dan menepi di bagian sisi dindingnya, aku merindukan suasana disana, suasana dengan pepohonan yang seperti di Bregagh Roads itu.


Aku menyembunyikan diriku di balik dinding belakang perpustakaan ini, dan berjumpa kembali dengan tempat yang ku sukai, walau sebenarnya bukan hanya aku, tapi ada seseorang yang lebih dulu sering berada disini, idola sekolah itu.


Entah kenapa aku memilih bolos dari kelas demi tempat ini, aku penasaran mengapa tempat ini begitu indah, pohon-pohonnya mungkin sudah ditanam sejak puluhan tahun atau satu abad yang lalu, biasanya aku menyandarkan punggungku di dinding belakang perpustakaan dengan alunan musik klasik itu, tapi kali ini aku tak membawa kotak musiknya.


Aku mencoba mendekati pepohonan yang sebelumnya tak pernah ku sentuh, urat-urat besar batang pohon menambah pohon ini menjadi tak ternilai, dibawah beberapa pohon aku merasa begitu dingin, tanahnya agak lembab dan endapan dedaunan yang sudah mengering dan menyatu dengan tanah menjadi kompos. Disini agak gelap, kawat-kawat pembatas sekolah terlihat berkarat karena endapannya, ada benalu yang menempel disana juga tumbuhan alga. Terlihat berlumut, mereka terlihat betah berada pada satu tempat yang sama, mungkin amoba juga banyak berhabitat disini, mungkin saja mereka semua melakukan simbiosis mutualisme pada satu medium yang sama lalu saling menguntungkan satu sama lain.


Entah cerita apa yang ada di balik tempat ini, atau memang siklus ruang yang terjadi secara alami.

__ADS_1


"Jangan terlalu jauh menyusuri pepohonan itu.." selalu saja ada yang secara tiba-tiba, aku menoleh dan Alfath ada disana, sudah beberapa hari aku tak melihatnya, tapi bukan berarti ada rindu untuknya. Entahlah, aku masih tak mengerti tentang hal-hal semacam itu, yang aku tau dia membuatku ingin mencari tahu, itu saja.


"Kenapa memangnya?" aku menjauhi pepohonan dan melangkah mendekati pondasi dimana Alfath berdiri.


"Tidak apa-apa, mungkin saja ada penyengat disana.. kau selalu kemari, kenapa?" dia bertanya lagi.


"Karena aku menyukai suasananya, kenapa kau tiba-tiba datang?


Bukankah kelas kalian sedang belajar?" Alfath tersenyum kecut, seperti biasa, wajah dinginnya, dengan kedua tangannya yang sengaja dimasukkan ke dalam kantong celana, tapi ada satu yang berbeda, dia tidak mengenakan celana abu-abu SMA hari ini.


"Karena melihatmu kemari.. lebih baik kau segera berhenti bolos dari pelajaran pak Zaid sebelum ia masuk ke kelasmu.." Alfath membalikkan badannya dan meninggalkanku dengan tanda tanya lagi, dia melihatku kemari? Dia mengetahui aku bolos dari kelas pak Zaid? Bagaimana ia mengetahuinya? Mengapa ia selalu datang tiba-tiba dan pergi begitu saja. Wajahnya sedingin es hingga begitu kaku untuk berekspresi, tidak terbaca dan sulit digambarkan.


"Hei..." Aldo tiba-tiba mengagetkanku dan menghentikan langkahku dari depan saat aku mengitari lapangan basket sepulang sekolah, dia tersenyum melihat ekspresi wajahku.


"Kau lagi.." aku meneruskan langkahku, dan rupanya dia mengikutiku.


"Kau sibuk nanti sore?" dia memegang sebelah pegangan tas di bahu kanannya, sementara yang satunya dibiarkan terlepas.


"Maksudku aku ingin mengajakmu pergi.. kau tidak sibuk kan?" pergi?


Seorang laki-laki yang baru ku kenal mengajakku pergi, bukankah ini adalah hal yang terasa masih asing bagiku. Aku tak pernah pergi dengan seorang teman laki-laki sebelumnya.


"Sepertinya aku tidak bisa, maaf.."


"Kenapa?" dia masih saja menghalangi langkahku untuk segera keluar gerbang sekolah.


"Aku hanya tak terbiasa seperti itu, aku lebih senang di rumah, menikmati waktuku sendiri.." aku mencoba menjelaskan tentang diriku padanya, ku harap dia mengerti bagian dari diriku.


"Kalau begitu biarkan aku untuk membuatmu menjadi terbiasa.." Aldo terus saja membujuk, dia selalu saja memaksakan keinginannya. Tapi kali ini aku benar-benar tidak bisa. Lihat saja dia, mobil sportnya, cara berpakaiannya yang fashionable, jaket yang ia pakai bermerek barang impor, pasti dia juga akan mengunjungi tempat-tempat berkelas, tempat- tempat yang biasanya menjadi tempat anak-anak orang kaya. Dan itu hanya akan membuatku canggung, aku hanya akan membuatnya malu.

__ADS_1


Kadang cinta itu seperti sebuah aksioma...


Pernyataan yang bisa diterima kebenaran walau tanpa dibuktikan...


Lalu untuk apa para pecinta yang menuntut bukti...


Toh cinta itu sendiri datang juga tanpa alasan...


Keberadaan cinta yang selalu disebut-sebut sebagai sesuatu


Yang samar...


dan kadang cinta itu sendiri yang menyembunyikan keberadaannya...


"Naumi... ada yang mencarimu..." Mama memanggilku dari luar, siapa yang mencariku disaat aku uring-uringan di kamar sore ini. Aku mengikat rambutku dengan ikatan rambut, mengenakan sepasang sendal kamar yang terbuat dari bahan flanel yang lembut itu, dengan alas berwarna coklat dan krim pada penutupnya, setidaknya sendal ini melindungiku dari ubin yang dingin.


Aku keluar dari kamar, mama sedang berbicara dengan seseorang di ruang tamu, mungkin orang itu yang disebut-sebut mencariku barusan, aku mengelus-elus mataku karena sedikit terasa gatal, mungkin disebabkan oleh penyengat kecil atau partikel debu. Aku menuju wastafel yang ada di bagian dapur untuk mencuci muka.


"Saya tidak satu kelas dengan Naumi tante, tapi kelas kami bersebelahan.." tamu itu berbicara dengan mama, suaranya terdengar hingga ke dapur walau tak terlalu jelas. Bersebelahan? Seseorang mengatakan bahwa kelasnya bersebelahan denganku?


Aku meneruskan langkahku melewati dinding pembatas antara ruang tamu dan ruang keluarga, Aldo? Tiba-tiba lesuku langsung hilang, untuk apa ia kemari?


"Saya boleh mengajak Naumi keluar kan tante?" Keluar? Aldo meminta izin pada mama untuk mengajakku, bukankah aku sudah bilang padanya kalau aku tidak bisa. Anak donator itu, si pembujuk, memaksa orang lain untuk mengikuti kehendaknya, menyebalkan.


"Oh boleh, asal pulangnya jangan terlalu sore ya nak Aldo.." mama mengizinkannya sebelum bertanya terlebih dulu padaku, lalu mata mereka tertuju padaku,


"Tapi ma.." aku menepik, aku tak ingin keluar rumah dan pergi dengan si pembujuk itu.


"Pergilah.. tak ada salahnya sekali-kali kau keluar rumah.." mama membelanya, senyuman Aldo mengambang setelah itu.

__ADS_1


Dan akhirnya aku menurut, bukan karena Aldo, tapi karena mama.


__ADS_2