
"Rupanya aku mengganggu kalian, maaf.." Alfath membalikkan badan. "Kau sendiri kenapa kemari?" pertanyaan Aldo lantas menghentikan langkahnya, sekaligus pertanyaan untuk keingin tahuanku.
"Aku ingin mencari kekasihku, tapi rupanya dia tak mau bertemu denganku hari ini" dan ia meneruskan langkahnya, meninggalkan kami di sisi ruang perpustakaan.
Kekasih? Si pemilik kotak musik itu? seketika aku merasa ada sesuatu yang nyeri di telapak kakiku, kekasih? Apakah kekasihnya berada di tempat misterius itu? dan lantas tempat itu tidak ada lagi, bahkan tidak ada pertanda bekas pepohonan atau tanaman alga disana. Apa yang sebenarnya terjadi?
*****
Aku memutar-mutar balpoinku di atas meja, seperti biasa aku datang paling awal dan tak ada siapapun di kelas ini selain aku, hari ini hari senin, lonceng lebih awal dibunyikan dari biasanya karena upacara bendera rutin. Tapi sepertinya waktu itu masih lama, dan aku bisa lebih lama duduk disini.
Aku masih tak habis pikir, menerawang tentang tempat itu, dimana dua hari yang lalu kejadian aneh yang menimpaku. Beban pikiranku menumpuk, barusan di mading aku membaca artikel yang memojokkanku lagi.
Entah saking banyaknya tulisan yang mereka buat yang diberi judul
"bahaya anak indigo‟, mungkin hari ini aku akan kembali di-bully habis- habisan.
Bukan hanya itu, di bawah mejaku, ada bunga lagi, secarik kertas lagi, ini adalah bunga keempat dan kertas ke empat, 3 bunga dan 3 kertas sebelumnya sengaja kubawa pulang dan ku simpan ke dalam sebuah kotak dan ku letakkan di dalam kamar. Dan dua lagi, tentang kotak musik itu juga si misterius Alfath, dan pria mencurigakan itu, yang selalu mengawasiku setiap pulang sekolah. Tapi untungnya akhir-akhir ini aku tak mendengar suara-suara aneh yang menggangguku itu, setidaknya ada sesuatu yang berkurang dari bebanku.
Benarkah tempat itu sudah berubah? Lalu yang sering ku kunjungi itu sebenarnya tempat apa?
Aku terus memikirkannya, terdiam menatap kosong ke arah pintu, tidak ada orang yang lalu lalang di luar sana, keadaan sekolah masih sepi.
Aku beranjak dari tempat duduk, sepertinya aku harus memeriksa tempat itu sekali lagi.
Aku berjalan dengan penuh kehati-hatian menuju belakang perpustakaan, aku memejamkan mata, meraba bagian sisi dinding agar langkahku benar, di telapak tanganku sudah terasa sudut bangunannya, aku membuka mataku pelan,
Dan tempat itu...
__ADS_1
Kembali ada di depan mataku, pepohonan yang tak ternilai, teduh dan temaram, lalu apa yang terjadi kemarin? Tempat apa ini sebenarnya? Aku dihantui oleh rasa penasaran, aku tak berada diatas pondasi yang ada di belakang perpustakaan, tapi aku meneruskan langkahku menuju pepohonan itu. Mungkin saja disana ada sesuatu yang dapat menjawab pertanyaanku.
Tidak ada apa-apa, hanya tempat teduh dan pepohonan ini, sama seperti keadaan sebelumnya, tapi ada sesuatu yang berbeda, sesuatu yang baunya wangi, entah itu dari wangi-wangian bunga atau dari cairan yang kental, tapi tak ada bunga di sekitar sini, hanya daun-daun kering yang sudah berserakan di bawahnya.
Aku berjalan semakin menelusuri pepohonan ini, wanginya semakin menyengat hingga memenuhi rongga yang ada dalam hidungku, baunya semakin tajam, namun aku tak menemukan apa-apa disini, dan kurasa baunya sudah masuk hingga kerongkonganku.
Dan seketika kepalaku menjadi begitu pusing, pandanganku berubah menjadi kuning kejingga-jinggaan seperti warna langit di senja hari, dan...
*****
"Di mana aku?" pandanganku terasa kabur, kepalaku sudah tak terasa pusing, ada sesuatu yang empuk menopang kepalaku bagian belakang, pelan-pelan ku buka mataku, keningku mengernyit menahan kelopak mata yang masih terasa berat namun aku berhasil membukanya.
"Kau di ruang UKS" seseorang menjawab pertanyaanku. Aku menoleh ke arah kanan, sepertinya aku berada di atas ranjang, agak dekat dengan kotak P3K berwarna putih dengan tanda tambah berwarna merah yang menjadi simbol utamanya.
Aku mencari sosok itu, orang yang menjawab pertanyaanku barusan, aku menengadahkan kepalaku, mungkin dia berada disisi dinding, sial, pandanganku terlalu berat, namun ada bayangan seseorang, dia berdiri disana, menyandarkan punggungnya ke dinding, memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana, sepatu sneakersnya yang sudah ku kenali, Alfath? Kenapa dia ada disini, dan kenapa pula aku berada satu ruangan dengannya.
Dia memutar langkah, lalu berdiri di samping ranjang, aku tak perlu lagi menengadah.
"Memangnya kenapa? tempat apa itu sebenarnya?" aku tergernyit, Alfath tersenyum kecut, lalu menunduk sebentar.
"Tidak ada apa-apa, sudah kubilang, mungkin saja ada penyengat disana.." penyengat? Yang dimaksud Alfath sebagai penyengat itu apakah berupa binatang semacam lebah atau wawangian yang menyengat itu?
"Tapi tak ada lebah atau semacamnya, dan wewangian itu?" pikirku kembali teringat pada wewangian yang telah membuatku pingsan. Alfath mengangkat sedikit alisnya, kali ini dia sedikit berekspresi dari biasanya, namun aku masih saja tak bisa menebak, entah ada sesuatu apa yang dirahasiakan olehnya.
"Kau terlalu banyak bertanya, untungnya aku menemukanmu tergeletak disana, beristirahatlah.." Alfath membalikkan badannya, sepertinya aku harus menghentikannya.
"Tunggu.." suaraku mungkin masih terdengar lemas.
__ADS_1
"Ada apa lagi?" dia tak membalikkan badannya, rupanya ia menyuruhku berbicara dengan punggungnya saja.
"Aku ingin bertanya sesuatu.." pertanyaanku lantas membuatnya membalikkan badan, sementara diluar sana terdengar suara pembacaan teks pancasila dari pembina upacara, rupanya upacara sudah berlangsung sejak aku belum siuman barusan.
"Bertanya apa?" kali ini aku mendapat kesempatan.
"Kenapa sabtu sore itu aku tak melihat ada pepohonan disana? Yang ada hanya tanah gersang di belakang perpustakaan.." parauku, rasanya tenagaku sudah maksimal untuk menaikkan sedikit volumenya agar terdengar sampai ke telinga Alfath.
"Saat seseorang benar-benar mencari tujuan, dan ada seorang yang dituju.. saat itulah tempat itu ditemukan.." Alfath kembali tersenyum kecut,
"Kau salah, kau bilang semua orang dapat menemukannya karena itu adalah area sekolah, sayangnya tempat itu bukan area sekolah" sambungnya, lalu ia membalikkan badan, memasang topi abu-abu dengan lambang burung garuda itu, sepertinya dia akan mengikuti upacara bendera, dan meninggalkanku sendirian disini.
Apa yang ia katakan barusan, seseorang yang benar-benar mencari tujuan, dan seorang yang dituju? Aku mengelus-elus dahiku, penasaranku bertambah lagi, atomnya berporos lagi, ada apa ini? Siapa Alfath? Dan tempat apa itu? Siklus ini begitu membingungkanku, dia datang tiba-tiba, dan pergi sedingin es. Bahkan sampai sekarang ia tak pernah menanyakan siapa namaku.
*****
Sudah jam pelajaran ketiga, aku merasa lebih baik dari sebelumnya, sepertinya aku sudah bisa kembali ke kelas, aku dibantu oleh petugas UKS untuk bangkit dari tempat tidur.
"Kau yakin sudah merasa baikan?" seorang perempuan itu menopang tanganku ke bahunya, umurnya berkisar 20-an keatas, dia ramah dan memang tugasnya disini.
"Iya mba, saya sudah baikan." Aku meyakinkannya, entah bagaimana Alfath membawaku kemari, aku tak tau kapan ia melakukannya, yang aku tau ada dia ketika pertama kali aku membuka mata setelah tak sadarkan diri.
*****
"Lihat anak nila itu sudah kembali.." senjata itu kembali ingin membunuhku, maksudku ejekan itu, suasana di kelas ramai, tak ada guru pengajarnya, sedang jam kosong, aku tak menghiraukan mereka, aku menyelinap masuk menginjak bidang demi bidang persegi empat lantai keramik putih, kepalaku tertunduk, mereka masih saja mentertawakanku.
"Kalian sudah baca artikel di mading kan?" Salah seorang dari mereka berkicau lagi, sepertinya si ratu kelas, si centil Cindy.
__ADS_1
"Kalau begitu lebih baik kalian jaga jarak dengan si nila itu." Tawanya tiba-tiba saja pecah dan diikuti oleh golongannya, mereka yang sama bodohnya.
Emosiku naik, mungkin saja wajahku sudah memerah, aku berdiri, berlari menghambur keluar. Tempat ini memang sudah seperti neraka, lama- lama aku bisa mati berada disini.