Kisah Cinta Indigo

Kisah Cinta Indigo
Part 2


__ADS_3

"Wajar katamu? Ya ampun, Naumi. Dia itu idol sekolah, tak semua pengagumnya seberuntung dirimu..." Clara masih saja protes. Kurasa kami memperdebatkan sesuatu yang tidak penting.


Aku hanya diam, bingung harus menjawab apa.


Bola mata Clara mengarah pada langit-langit atap di lorong sekolah. Kurasa fantasinya bermain lagi.


"Hmm... dia sangat tampan..."


"Tampan itu relatif, Ra. Biasanya pria-pria tampan memiliki banyak wanita di hidupnya." Aku menyela. Clara menghentikan langkahnya, mungkin dia tak sependapat atas apa yang kukatakan.


"Dengar, Alfath itu tidak punya kekasih, bahkan tak ada satupun wanita di sekolah ini yang menyandang gelar sebagai mantannya. Semenjak kepindahannya ke sekolah kita sejak 1 tahun yang lalu, ia selalu menjadi topik terhangat di kalangan siswa perempuan, dia ramah dan santun, hatinya juga tampan".


"Menurut gosip yang beredar, banyak wanita yang nekad menyatakan cinta kepada Alfath. Tak ada satupun dari mereka yang dipilihnya...


Heran, memangnya wanita yang seperti apa yang dia inginkan." Pipi Clara merona, matanya kembali pada langit-langit atap di lorong. Entah sesuatu apa yang dibayangkannya.


Katanya Alfath adalah siswa pindahan dari SMA yang berstandar internasional itu, tidak sembarang orang bisa sekolah disana.


Tetapi entah mengapa ia memilih pindah ke sekolah ini atas kemauannya sendiri. Sekolah yang akreditasnya lebih rendah dari sekolahnya yang dulu.


*****

__ADS_1


Ini moment buruk kedua setelah di kantin barusan. Setelah menjadi pusat perhatian dan sedikit mengganggu waktu makan kami, kini kami harus melewati kelas-kelas kaum sosialita. Melewati cobaan dunia yang ada di depanku ini. Mereka berada di luar kelas. Bel tanda jam pelajaran dimulai belum berbunyi.


Aku menundukkan kepalaku, menyisipkan helai rambut panjangku ke bagian belakang telinga, mencoba melindungi diri agar tak melakukan kontak mata dengan mereka. Kali ini pandangan mereka bukan menilai merek atau harga, tetapi pandangan yang menilai paras seseorang. Mereka saling berbisik membuatku merasa terpojok disini. Membuatku merasa tak sebanding dengan mereka yang memiliki tubuh dan wajah bak model iklan.


Ini karena insiden barusan. Mereka para paparazi, gosip di sekolah ini beredar begitu cepat, terutama segala sesuatu yang berhubungan dengan Alfath.


Bel jam pulang terdengar dari speaker kecil yang ada di depan setiap kelas, akhirnya pelajaran biologi telah usai. Pelajaran yang menurutku membosankan. 2 jam pelajaran terasa seharian suntuk, apalagi guru pengajarnya yang tidak bersemangat. Ditambah cuaca yang panas membuat suasana jauh dari kata rileks. Bunyi bel itu bagaikan penyelamat ketika tak ada awan yang menghalangi matahari agar teriknya tak menembus gravitasi bumi.


Akhirnya, aku menghembuskan nafas, tak sabar ingin segera keluar dari kelas ini, keluar gerbang dan pergi ke halte untuk menunggu bus. Aku merapikan buku-bukuku, memasukkannya ke dalam ransel.


Wajah-wajah yang bersemangat kutemukan di kelas ini, terdeskripsi dari wajah mereka, teman-teman sekelasku, jelas saja, bagaimana tidak? Ini adalah moment yang paling disukai oleh siswa di sekolah ini, di sekolah lain, atau di belahan bumi manapun.


Ada getaran di rongga telingaku, suara asing kembali kudengar. Bukan suara gaungan seperti tadi pagi, tapi seperti suara gemercik dedaunan karena tiupan angin yang kencang. Suara yang terasa jauh namun semakin mendekat dan semakin jelas saja. Aku mencoba memfokuskan pendengaranku, melihat sekelilingku, mencari darimana sumber suara itu.


Tidak ada, dan tidak mungkin, suaranya terlalu dekat. Ya Tuhan apa yang terjadi...


Aku tak akan mengatakannya pada Clara, aku tak yakin ia akan mempercayaiku.


Cuacanya begitu panas, pelan-pelan pandanganku berkunang-kunang, Entah apa yang dibicarakan Clara aku tak dapat menyimaknya dengan baik. Seandainya ini upacara bendera, mungkin aku sudah pingsan. Siswa-siswa yang lalu-lalang membuatku semakin pusing saja.


"Mi, itu ka Alfath..." akhirnya aku dapat mendengar ucapan Clara.

__ADS_1


Alfath? Dia kembali melaporkan padaku tentang idola itu, tentang keberadaan Alfath.


Aku menyudutkan pandanganku pada siswa laki-laki yang berjarak kira- kira 1 fatom dariku, sekitar 16 kaki atau 1,8 meter. Ya, itu Alfath. Terlihat berbicara dengan seseorang, siswi kelas 10, dapat dilihat dari lambang di bajunya. Tinggi tubuhnya setara dengan leher Alfath. Terlihat membawa buku tulis tipis dan satu balpoin di tangannya.


Aku mempercepat langkahku agar segera sampai ke gerbang, menepi di sisi lapangan basket. Entah bagaimana pandanganku terbuang padanya ketika aku berada pada jarak beberapa kaki darinya. Dia berkeringat seperti orang yang baru saja sampai di garis finish lari maraton.


"Maaf ya, aku sangat buru-buru, mungkin bisa lain kali..." Alfath berlari bergegas meninggalkan lapangan basket, meninggalkan siswi itu. Ia berlari ke arah parkiran. Entah ada keperluan apa ia terburu-buru sekali. Mengapa setelah melihatku, ia spontan menghindar. Terasa ada yang menyesak di dadaku, atau mungkin ia menjauh karena kejadian di kantin tadi. Menghindar tentang gosip yang sudah beredar luas itu. Atau hanya kebetulan.


"Mi, supirku sudah menunggu di depan, kau mau ikut aku? Aku akan mengantarmu pulang..." Tawaran Clara membuatku merasa dipedulikan. "Lain kali saja, Ra. Rumah kita tidak searah, aku tak mau merepotkan..." Aku menolak dengan cara yang halus. Lagian jalanan sering macet apabila jam pulang sekolah, aku takut Clara akan terjebak di kemacetan sepulang mengantarku.


"Ya sudah, aku duluan ya, kau harus berhati-hati..." aku mempersilakannya menuju chevrolet merah hati yang terparkir disana. Mobil pribadi milik keluarga mereka. Clara melambaikan tangan padaku dan menghilang di balik pintu gerbang.


Banyak sekali penumpangnya hari ini, aku tidak mendapatkan tempat duduk. Aku terpaksa berdiri dengan berpegangan pada salah satu gelang pegangan penumpang yang bergantungan. Sambil menahan rasa kantuk yang luar biasa, aku menahan posisi tubuhku agar tidak lemas ataupun terjatuh karena keadaan penumpang yang sangat jejal.


Rasa mual sudah mulai terasa tidak enak di perutku. Tercium bau-bau yang tak sedap, ditambah lagi asap rokok dari penumpang lain. Di sebelah tempatku berdiri, seorang laki-laki separuh baya dengan kumis tebalnya hingga hampir menutupi batas bibir atasnya sudah menghabiskan 2 batang rokok. Keegoisan manusia, seharusnya dia tidak merokok pada saat suasana seperti ini, apalagi di belakangnya ada seorang bayi yang kira-kira berumur 10 bulan.


Bus berhenti di halte berikutnya. Aku tersenyum lega, penderitaanku di dalam bus ini akan segera berakhir.


"Ini, Bang, uangnya..." Aku menyerahkan uang kepada kernet. "Terimakasih..." kernet itu menjawab dengan lembut dan begitu ramah.


Aku menghela nafas, membiarkan bus itu meninggalkan halte dimana aku berdiri. Sebenarnya aku bisa saja pulang dan pergi sekolah diantar dan dijemput papa. Aku menolak. Bagiku segala sesuatu yang bisa dilakukan sendiri, sebisa mungkin tidak merepotkan orang lain. Apalagi ayahku bekerja, dan akan mengganggu waktu kerjanya apabila harus menjemputku sepulang sekolah.

__ADS_1


__ADS_2