
Ayah bekerja sebagai pengawas di salah satu perusahaan semen yang ada di kota ini, sementara ibuku seorang ibu rumah tangga.
*****
Gerbang kompleks sudah berada di depan mataku, dengan nama yang terpampang di bagian atasnya. Kompleks Jati 9. Aku hanya perlu 20 langkah dari halte, rumahku tak jauh masuk ke dalam, di sebelah kiri. Pagar kayu sederhana dengan pekarangan kerikil luas. Didampingi dengan suburnya rumput gajah mini. Ada beberapa pohon juga disana. Membuat rumah kami terasa rindang dan tenang. Disanalah surgaku, bersama malaikat-malaikat tak bersayap yang sengaja dikirim Tuhan untukku, ayah, ibu dan saudara tampanku, Fariz.
Aku melangkah ke arah kanan, mendekati gerbang kompleks itu. Sambil melihat-lihat sekelilingku, mobil dan kendaraan yang lalu-lalang melintas. Di seberang sana ada taman kecil, di pinggir jalan tepat berseberangan dengan kompleks. Banyak pedagang kaki lima yang menjualkan cemilan- cemilan atau minuman-minuman segar. Terlihat konsumen berasal dari kaum pelajar, mereka yang mampir sepulang sekolah, dan seorang laki- laki itu dengan motor sport hitamnya, berada diantara penjual mie ayam, aku sering melihatnya disana. Mungkin dia menyukai makanan disini. Celananya abu-abu SMA, hanya saja aku tak dapat melihat lambangnya karena tertutup jaket. Biasanya anak muda atau kaum ABG sering bersantai di sana, termasuk aku.
Jikalau Fariz ada dirumah, ia sering mengajakku untuk menikmati es dawet yang khas dengan gula arennya yang kental. Fariz menyukainya.
*****
"Mah... Naumi pulang..." Suaraku setengah teriak, agar mama mendengar. Namun setengah parau, aku kelelahan. Tak sabar bertemu dengan kasur kesayanganku dan melenyapkan penatku di sana.
"Pintunya tidak dikunci sayang..." mama menyahut dari dalam. Sepertinya ia sedang sibuk.
Aku meletakkan sepasang sepatuku yang bermodel flat di atas rak yang ada di belakang pintu. Kakiku terasa lesu, tapi aroma masakan mama membuatku sedikit bersemangat. Sepertinya enak sekali. Aku kenal aroma ini. Aroma pedas kunyit dan bawang putih. Mama memasak rendang. Dia tau aku sangat menyukai masakan itu. Mama tersenyum saat melihat aku yang tergoda karena masakannya.
"Mandi dulu sana... setelah itu kita makan sama-sama..." ucap mama dengan lembut. Ia memperlakukanku dengan penuh kasih sayang, membuatku merasa beruntung memiliki ibu seperti dia.
*****
__ADS_1
Segar sekali rasanya, setelah buliran-buliran air itu mengusir keringat yang ada di tubuhku, membuat penat di pundakku menjadi buyar.
"Ma... apakah ingatanku bisa kembali?" Pertanyaanku lantas membuatnya terdiam saat kami selesai menyantap makan siang. Sepertinya aku membuatnya sedih, tapi mama mengerti aku.
"Kita tidak pernah tau kapan kita mendapat musibah atau anugerah. Berdoalah sayang, semoga ada keajaiban Tuhan suatu saat nanti..." Mama tersenyum, senyumnya mengambang hingga menyipitkan kelopak mata bawahnya.
Pikirku melayang menembus apa yang pernah diceritakan mama tentang peristiwa 2 tahun yang lalu. Saat setelah usai Ujian Nasional tingkat SMP. Waktu itu kata mama, kami sepulang sholat magrib berjamaah di mesjid yang ada di dekat perempatan jalan, rem mobilnya tidak berfungsi.
Kami menabrak pembatas jalan dan menabrak pohon, untungnya semuanya selamat. Namun aku mengalami benturan yang keras dan harus dilarikan ke rumah sakit, kepalaku mengalami pendarahan. Untungnya tidak terlalu fatal. Namun sebuah keadaan yang harus ku terima, aku divonis mengalami amnesia.
Sejak saat itu, yang kuingat hanyalah kebingunganku menemukan dunia. Terasa seperti bayi yang terlahir kembali. Mama dan papa adalah orang yang pertama ku kenal sebagai orang tuaku. Selanjutnya Fariz, setelah ia pulang dari luar kota, bolos dari kuliahnya untuk menemuiku.
Aku memeluk boneka keroppi yang besarnya melebihi perutku, Fariz sengaja membelikannya untukku ketika ia pulang 2 minggu yang lalu sebagai oleh-oleh. Katanya ada bazar besar-besaran di dekat kampusnya. Entah mengapa aku begitu menyayanginya. Fariz adalah kakakku yang selalu memperlakukanku layaknya seorang putri di istana.
Aku berharap Fariz pulang dalam minggu ini. Aku rindu cerita-ceritanya tentang ketika ia berada di luar kota, tentang perkuliahannya, tentang kampusnya, dan tentang wanita. Ia selalu bercerita apapun kepadaku, karena ia percaya aku tak akan menceritakannya kepada orang lain, terutama kepada ayah dan ibu.
Aku membungkus tubuhku dengan selimut yang tebal karena di luar sana sedang turun hujan, membuat tubuhku hangat. Angin menyelinap di balik cahaya yang masuk melalui fentilasi udara, layaknya sebuah perintah agar aku segera beristirahat dan tidur. Udara dan cuaca seakan mengerti bagaimana agar aku merasa nyaman. Seketika rasa kantukku mengendalikan pupil dan retinaku, membuat katup atas kelopak mataku terasa berat, semakin berat, dan...
"Kau datang terlambat lagi... aku sudah menunggu 1 jam lamanya..." Seorang pria berdiri membelakangiku, mengenakan celana jeans dan baju kaos biru malam. Kedua tangannya sengaja dimasukkan ke dalam kantong celana. Dia berdiri di atas bangunan yang tidak dihuni.
"Maafkan aku..." Kalimat yang dengan spontan kuucapkan. Tanpa ada alasan, alasan mengapa aku berbicara dengannya. Tak ada orang lain disini, pria itu berbicara padaku.
__ADS_1
Tapi aku tak tau mengapa aku harus disini, dan mengapa aku meminta maaf padanya barusan. Aku bertanya-tanya dalam hati.
Aku masih berdiri disini, menjaga jarak dan mengantisipasi diriku. Pemandangan kota dan kabut terlihat jelas dari atas bangunan, dia masih saja membelakangiku. Pria asing, fisiknya yang entah ku kenali atau tidak.
"Sampai kapan kita terus seperti ini? Menyembunyikan hubungan kita dari orang-orang. Aku mencintaimu, aku ingin hubungan ini diketahui orang-orang dan keluarga kita..."
Aku tergernyit, tidak mengerti apa yang ia bicarakan. Aku melihat sekelilingku, menerka ada orang lain selain aku disini. Mungkin saja dia berbicara pada seseorang. Tidak ada, hanya ada aku dan pria asing itu.
"Kau selalu seperti itu, Naumi. Selalu diam jika aku menanyakan hal yang sama..."
Dia menyebut namaku? Siapa dia? Aku sama sekali tak mengerti apa masalahnya.
Aku melangkah maju mendekatinya, agar melihat wajahnya dan mengetahui identitasnya. Berselang beberapa langkah, pria itu menghilang seperti asap yang bening, dibalut suasana senja dan kabut.
"Dimana kau? Siapa dirimu?" Aku berteriak menoleh ke sekitarku mencari keberadaannya. Tapi dia sudah menghilang sebelum aku melihat bola matanya.
*****
Aku menyandarkan punggungku di dinding kamar, mengingat mimpi misterius yang baru saja menimpaku. Tempat dan orang yang sama sekali tidak ku ketahui. Di dalam mimpi itu, sepertinya aku adalah kekasihnya, tapi aku tak pernah punya kekasih. Bahkan aku tak pernah jatuh cinta seingat ku.
Layar handphoneku menyala di atas lemari kecil di samping tempat tidurku. Terdengar referrence "angel‟, sebuah lagu yang dinyanyikan oleh Sarah Mclachan sebagai tanda panggilan masuk. Di Sana tertanda nama Clara.
__ADS_1
Dengan semangat ku ambil handphone itu dan menghentikan pikiranku. Menerima panggilan telepon dari sahabat mungilku.
"Halo..." dengan nada lesu ku jawab telepon itu, suaraku yang masih dalam suasana bangun tidur.