
Aku tak mengerti apa yang mereka lihat dari diriku, aku tak mengerti apa untungnya mereka lakukan itu.
Keadaan seperti ini ku jumpai dari teras ke teras yang aku lewati, bahkan ketika aku berada di terasku sendiri, teman sekelasku, sekaligus pasukan-pasukan dalam perang dingin ini, mereka membuat perang sendiri, perang sebelah pihak, dan aku tidak pernah menyetujuinya.
Setidaknya aku mulai merasa hidup saat berada di tempatku, kursi dan meja ini, dua benda yang kurasa dapat menyatu dengan jiwaku, mereka berasal dari alam, aku pikir mereka juga mempunyai nyawa dan getaran dari siklusnya, lalu menghasilkan gelombang hingga terekam di otakku. Sebenarnya bukan otak, tapi ada sesuatu yang lebih dalam dari itu, hanya saja aku tak tau untuk sebutannya.
Sesuatu membuatku mencari tahu, keadaan di bawah meja, tentang bunga tulip dan racikan kertas itu, aku menunduk mencari keberadaannya, dan tidak ada, tak ada si putih dan merah jambu yang selalu satu paket itu. Rupanya kemarin adalah paket terakhir, semuanya ku simpan baik dalam sebuah kotak yang ku letakkan di bagian bawah lemari kecil di dekat ranjang tidurku.
*****
"Pak, bisa saya bicara dengan bapak?" Aku menghentikan langkah pak Zaid ketika di depan pintu saat pelajaran sudah usai.
"Mengenai apa nak?" beliau menjawab pertanyaanku dengan respon yang baik.
"Ada sesuatu yang harus saya bicarakan dengan bapak" ku harap beliau dapat meluangkan waktunya sebentar untukku.
"Ada masalah dengan olimpiadenya ya?" pak Zaid berusaha menebak hal yang ingin aku bicarakan.
"Tidak pak, tapi sesuatu yang penting"
Beliau diam dan terlihat berpikir sesaat.
"Baiklah, kau bisa menemui saya pada jam istirahat kedua di ruang guru" "Terimakasih pak" dan rasanya memang tidak mungkin membicarakan hal itu di situasi yang ramai di depan kelas seperti ini.
*****
Aku kehilangan pendengaranku, aku tak dapat mendengar sekelilingku, ada sesuatu yang mengalihkan semuanya, memenuhi membran timpani- ku, suara gaungannya bergetar, aku merasa terganggu hingga menegangkan beberapa saraf di kepalaku.
Aku mengusap-usap wajahku dengan kedua telapak tangan, setidaknya mengurangi sakit di kepalaku, aku tak memperdulikan keadaan di kelas lagi, keadaan yang memang sudah menjadi santapanku sehari-hari.
Tapi suaranya tidak berhenti, dan disini aku tak mendapatkan sesuatu yang bisa menghentikannya.
*****
__ADS_1
Orang-orang berhamburan di luar. Termasuk di sini, di dekat perpustakaan, aku hanya dapat melihat semuanya tanpa mendengar, suara itu seperti kapas tebal, menjadi dinding pembatas yang tidak dapat di tembus oleh gelombang suara.
Aku tak peduli apapun selain ketertarikanku, tentang tempat itu, aku seperti benda dan inti bumi, saat bendanya di lemparkan sejauh mungkin, maka daya magnetik yang begitu besar dari inti buminya akan menarikku kuat.
Dan suara itu berhenti, saat pepohonan itu ada di depan mataku, aku tergernyit, apakah suara itu berasal dari tempat ini? Lantas apakah ada isyarat atau sebuah pesan dibaliknya?
Ada suara langkah kaki menginjak bebatuan kecil, beberapa siswa perempuan ada disana, aku tertangkap basah, mungkin mereka akan berpikir sesuatu mengapa aku berada disini.
Mereka mengarah ke tempat keberadaanku, tapi tidak ada respon apa- apa, hanya menatap dari sana seperti mencari sesuatu.
"Tidak ada siapa-siapa." Salah seorang dari mereka berucap.
Lalu mereka membalikkan badan dan pergi dari sana meninggalkan belakang perpustakaan.
Apa yang mereka cari, tidak ada siapa-siapa? Jelas-jelas aku berada disini, apakah aku tak terlihat oleh mereka? Dan tentang tempat ini, saat aku mengajak Aldo kemari dan pepohonannya tidak ada, apakah aku seperti pepohonan itu, sesuatu yang tak terlihat di balik selaput tipis yang buram, sesuatu yang seperti berada di titik balik mata, keberadaannya memang ada, tapi pupil dan kornea tidak bisa memindainya.
*****
Beliau tertegun, mungkin ucapanku barusan mengejutkannya.
"Kau pindah rumah?" beliau agak serius, sayangnya pemikirannya tentang itu salah.
"Tidak pak" aku membenarkan.
"Lalu?" pak Zaid mengangkat kedua alisnya terlihat menebak-nebak alasanku.
Otakku berotasi, aku kebingungan mencari alasan dan darimana aku harus memulai, rasanya aku tak mungkin mengatakan niatku ingin pindah karena biru keungu-unguan itu.
Aku tertunduk diam.
"Kau punya masalah dengan seseorang?" Beliau bertanya lagi, bukan seseorang, tapi semua orang, ya, semua siswa yang ada di sekolah yang sebenarnya tak ingin ku tinggalkan ini, bukan karena subjeknya, ataupun karena sekolahnya, tapi karena tempat itu, tempat yang selalu menjadi ketenanganku, dimana aku merasa hidup di dalamnya, tanpa keramaian dan sosialita dunia.
Aku menggelengkan kepala.
__ADS_1
"Saya tidak bisa mengatakannya pak, mungkin suatu saat bapak akan mengetahuinya, maafkan saya pak." Setidaknya aku merasa bersalah karena tak bisa mengatakan masalah itu kepada beliau, tapi mau bagaimana lagi, jika aku mengatakannya, itu sama saja aku meminta pembelaan dari pak Zaid atas tindakan mereka.
"Kapan kau mau pindah?"
"Secepatnya pak" kali ini aku berbicara agak tabah, bukan karena siap, tapi untuk menutupi bebanku di dalam sana, seakan-akan tidak ada masalah yang mulai merenggut keceriaanku.
Pak Zaid menghela nafas. "Tapi bagaimana dengan olimpiadenya?" "Saya akan pindah setelah olimpiade pak, bapak tenang saja." Aku tersenyum, mengurangi kecemasannya pada rencana yang sudah kami sepakati.
Lonceng berbunyi beberapa menit yang lalu, aku terlambat ke kelas, dari jejeran kelas terlihat sepi, hanya ada satu kelas yang belum sibuk belajar, di samping kelasku, kelas 11 IPA 2. Itu kelas Aldo, si anak donator itu, beberapa hari yang lalu ia mengajakku keluar rumah tapi aku menolak.
Aku meneruskan langkahku.
Ada siswa yang berada di dekat pintu, dengan keadaan membelakangiku.
"Kau sudah mengajaknya ke bar itu, dan kemarin kau gagal, memalukan" salah seorang siswa laki-laki yang berdiri di depan pintu terlihat berbicara pada seseorang yang berada di dalam kelas. Aku tergernyit mendengar satu kata yang pernah ku kunjungi karena paksaan Aldo waktu itu.
"Kali ini kau kalah taruhan" seorang siswa yang tidak ku kenali itu mengatakan sesuatu lagi. Taruhan? Aku memperlambat langkahku agar dapat menyimak pembicaraan mereka.
"Bagaimana jika aku bisa mengajaknya ke diskotik, berapa kalian berani bertaruh?" dan aku mengenali suara itu, si pembujuk Aldo.
"2 juta, aku berani dengan angka itu dan jika kau tak berhasil kau harus mengembalikan uang kami pada taruhan kemarin."
Mereka terdengar tertawa dan berisik.
"Bagaimana jika kau jatuh cinta pada si indigo itu?" jarakku semakin mendekati keberadaan mereka, namun mereka tak tau aku ada disini karena dinding yang membatasi.
Aku merasakan ada sesuatu yang ingin meluap dan terbakar dari dalam sana, amarahku.
"Tidak mungkin, aku hanya memanfaatkan anak nila itu" aku berlari menghambur menuju kelasku, menahan sesuatu yang menginjak-injakku, dengan seenaknya memperlakukanku sebagai alat taruhan, dari awal aku memang merasakan sesuatu yang ganjil padanya, hanya saja dia selalu baik dan membalut semua keganjilan dan pemikiranku terhadapnya. Membuatku mulai percaya, lalu ia menghempaskannya begitu saja.
"Naumi??" terdengar teriakan di belakangku, itu suara Aldo.
Percuma, aku sudah mengetahui alasannya, dan sudah dapat dipastikan ia tak akan memenangkan taruhan itu, karena alat yang ia taruhkan sudah invalid, Sistem dan kata sandinya sudah tidak kuarsa, dan tidak dapat untuk ia pergunakan sesukanya lagi.
__ADS_1