
Di seberang sana, para penjual sudah siap dengan payung besarnya untuk menaungi dagangan mereka. Sementara pengunjung yang datang bernaung di bagian taman yang beratap. Ada seorang pria disana, pria yang biasanya ku lihat. Celana abu-abu, jaket hitam, dan helmnya yang tidak dilepas. Padahal ia tidak sedang berada di motor, seharusnya dia melepas helmnya. Terlihat menyilangkan kedua tangannya dibawah dadanya yang terlihat berbidang. Pandangan dari sini tampak buram karena hujannya terlalu deras, tapi aku masih dapat mengenali bahwa itu pria yang biasa kulihat.
Aku memeluk diriku sendiri dengan kedua tangan yang saling menyentuh bagian siku. Pandanganku kembali teralih pada pria di seberang sana, dia juga menatapku dari kejauhan.
Siapa dia? Awalnya ku pikir dia hanyalah pengunjung taman kecil itu, tapi ia terlalu sering berada disana setiap kali aku pulang sekolah. Bagaimana kalau dia seorang perampok atau ingin menculikku?
Aku mulai merasa cemas, jika hujan berhenti aku harus segera bergegas pulang.
"Naumi..." panggilan itu lantas menghentikan lamunanku. Itu Fariz, dengan motor bututnya, dia turun mengenakan jas hujan,
"Pakai ini..." Fariz menyerahkan jas hujan yang masih terbungkus plastik padaku, aku membukanya dan memakainya agar bisa pulang.
"Ku kira kau masih di sekolah, ternyata sudah di halte. Ayo kita pulang." Fariz menyalakan mesin motor, aku segera duduk di belakangnya. Syukurlah Fariz menjemputku, tubuhku sudah kedinginan. Dan satu lagi, kecemasanku pada pria mencurigakan itu.
*****
Tok... tok... tok... ada yang mengetok pintu dari luar. Ini sudah jam 10 malam, aku tak bisa tidur.
"Iya, tunggu sebentar." Aku beranjak dari tempat tidur, menuju pintu dan membukanya. Fariz berdiri disana.
"Ada apa, Kak?" tanyaku sambil menyisir rambutku yang usang dengan jari tanganku.
"Kau yang ada apa? Kenapa belum tidur?" Begitulah jika ada Fariz di rumah, ia begitu perhatian dan bisa ku bilang dia sangat protektif padaku. "Cepatlah tidur, besok kau harus sekolah." Fariz memegang punggungku dengan sebelah tangannya menuju tempat tidur. Lalu ia pergi dan menekan stop kontak yang ada di dekat pintu. Lampunya sudah mati, hanya ada lampu kecil di dekat kasur sebagai peneranganku. Jika lampu utamanya kembali ku nyalakan, bisa-bisa Fariz akan kembali lagi dan mengetok pintu.
*****
Sore ini aku kembali ke sekolah, untuk menghadiri ekstrakurikuler itu. Katanya pengenalan tentang sastra dan drama. Aku mengenakan celana
__ADS_1
jeans dan jaket kuningku, ransel coklat yang di dalamnya terdapat beberapa buku sastra milik Fariz yang sengaja dia berikan untuk ku bawa.
Sebuah bus singgah, kernetnya turun dan mempersilahkanku. Aku segera menaiki tangga yang ada di pintu belakang, aku duduk di bangku panjang tempat duduk favoritku. Tempat duduk paling belakang. Dari sini aku dapat melihat semua penumpang.
Aku mengambil salah satu buku milik Fariz dari dalam tas. Buku tentang sastra, disana terdapat beberapa contoh karya puisi yang terkenal. Seperti puisi karangan Taufik Ismail dan Khairil Anwar, mereka adalah penulis puisi terkenal yang berkiprah di tanah air.
*****
Aku berdiri di antara lapangan basket. Di sana di depan aula, banyak siswa lain yang sibuk mengobrol. Sepertinya acara belum dimulai, aku mengurungkan langkahku menuju ruang aula, setidaknya aku bisa ke depan perpustakaan karena dari sana ruang aula bisa terlihat dari kejauhan.
Aku melangkah sendirian, melewati pekarangan yang agak berumput. Menyeberangi selokan kecil, lalu mengambil posisi duduk di bangku panjang di teras perpustakaan. Agak nyaman dan terasa sejuk.
Ada sesuatu yang tidak jauh, terdengar alunan musik dari sini. Aku mencoba mendengarnya sekali lagi, seperti instrumental permainan piano "Fur Elise‟ yang diciptakan oleh Beethoven. Musik itu terasa tak asing di telingaku, tapi aku lupa kapan pernah mendengarnya. Musiknya masih saja dimainkan. Tapi siapa yang sedang mendengarkannya?
Perpustakaan berada jauh dengan kelas. Disini sepi, aku mencoba mencari sumber musik itu, mengikuti langkahku ke belakang bangunan tempat para kutu buku ini. Berada di balik dinding, suaranya semakin jelas. Seseorang ada disana. Aku menengok dibalik dinding agar ia tak mengetahui keberadaanku. Ada pohon yang rindang di belakang perpustakaan, lebih tepatnya agak temaram.
"Kenapa berdiri disitu?" tiba-tiba saja Alfath mengetahui keberadaanku. Matanya masih terpejam menikmati musik klasik yang di dengarnya. "Maaf." Aku jadi salah tingkah. Bagaimana ia mengetahui ada seseorang sedangkan matanya masih terpejam.
Aku membalikkan badan dan akan segera pergi dari sini.
"Kau tidak menjawab pertanyaanku?" langkahku terhenti, lalu membalikkan badanku kembali ke belakang perpustakaan.
"aku tak sengaja mendengar musik itu dan mencari darimana sumbernya, aku akan segera pergi." Aku menundukkan kepalaku bermaksud akan meninggalkannya.
"Kupikir kau akan bilang tak semua pertanyaan ada jawabannya. Barusan kau menjawab pertanyaanku." Alfath tersenyum kecut, itu adalah perkataanku di lapangan basket pagi kemarin, dan dia mengingatnya. Jantungku berdenyut, aku benar-benar harus pergi dari sini sebelum kekalutanku muncul.
"Permisi..." Akhirnya aku dapat pergi. Tanda tanya yang semakin hari semakin menumpuk. Aku berharap tak akan bertemu dengannya lagi di situasi yang seperti ini.
__ADS_1
Setiap orang punya dunia...
Aku juga mendapat dunia bagianku...
Dunia yang tak tersentuh oleh orang lain...
Tapi bagaimana ketika ada bagian dunia yang
tak membuatku merasa hidup di dalamnya...
"Selamat datang di komunitas baru kita. Sebelumnya kami sebagai pengurus akan memperkenalkan diri kami terlebih dahulu," ucap Arya diatas panggung kecil yang tingginya kira-kira 30 sentimeter di ruang aula.
"Nama saya Arya Pythaloka, di sini saya bertugas sebagai ketua sanggar. Apapun yang berkaitan dengan sanggar, saya yang akan bertanggung jawab," sambungnya. Ia menundukkan sedikit kepala sebagai penghormatan lalu melangkah mundur mempersilakan pengurus lain untuk memperkenalkan diri.
"Saya Safrina Andira Harun. Kalian bisa memanggil saya safrina, saya bertugas sebagai bendahara." Senior itu memperkenalkan dirinya dengan wajah juteknya. Aku tak tau seberapa banyak orang yang tak suka dengannya di sekolah ini. Nama belakangnya sama dengan nama belakang seorang dokter yang sering ku kunjungi untuk memeriksa perkembangan saraf di otakku.
Satu per satu dari mereka bergantian memperkenalkan diri kecuali Alfath, yang duduk di sudut panggung, menyilangkan tangannya di atas perut. Wajah dinginnya, aku melihatnya dari kejauhan. Lantas di bagian kepengurusan mana ia di komunitas ini. Tidak memperkenalkan diri dan tidak memberitahukan tugasnya. Senior yang lain terlihat tak mempermasalahkannya dan aku tak mengerti.
Aku duduk di kursi hampir paling belakang. Safrina terlihat menarik kursi dan meletakkannya di samping Alfath. Terlihat berbicara manja sambil meletakkan tangannya di salah satu lutut Alfath, tampak serasi. Alfath yang tampan, Safrina yang cantik bak seorang pemain film. Hanya saja dia dikenal dengan sikapnya yang jutek dan tinggi hati.
"Apakah itu kekasih Alfath?" ucap salah seorang yang duduk di belakangku.
"Mungkin mereka terlihat akrab," sahut seseorang lagi. Aku hanya diam dari sini mendengar pembicaraan mereka.
"Tidak, Safrina itu saja yang kecentilan. Dia terlalu terobsesi pada Alfath. Lihat saja, Alfath tidak terlalu menghiraukannya."
"Benarkah? Bagus kalau begitu, jadi kita bisa mengaguminya tanpa ada rasa cemburu kalau dia punya pacar. Iya kan?"
__ADS_1
Mereka terus saja membicarakan pria yang disebut-sebut sebagai idola di sekolah ini. Mereka hanya mengagumi fisiknya, bukan dengan hatinya. Bagaimana suatu saat jika Alfath sudah tua meronta, aku tak menjamin penggemarnya masih bertahan se-fanatik itu.