Kisah Cinta Indigo

Kisah Cinta Indigo
Part 8


__ADS_3

Lagian apa untungnya terlalu mengagumi seseorang, toh semuanya sama saja. Sama-sama makhluk ciptaan yang tak ada apa-apanya jika di banding dengan kekuasaan Tuhan.


"Ternyata kau ikut juga ya?" Seseorang menempati bangku kosong di sebelahku.


"Aku terlambat, untungnya masih ada bangku yang tersisa." Ia meneruskan bicaranya sebelum aku menoleh. Ternyata Aldo, anak donator itu.


"Kenapa kau mengikutinya? Bukankah kau lebih senang menikmati waktu sendirian?" Rupanya mulut pria ini tak bisa berhenti. Aku belum berkata apa-apa dia sudah mengatakan beberapa hal dan menanyakan sesuatu yang bersangkutan dengan privasiku.


"Aku hanya ingin mencoba sesuatu yang baru." Aku menjawab pertanyaannya dengan datar, tanpa ekspresi, dan tanpa menatapnya.


"Sastra itu menyenangkan, kita bisa mengungkapkan perasaan kita melalui tulisan, dengan rangkaian kata-kata yang lembut." Mulutnya mulai berceloteh lagi. Aku tak terlalu mendengarkannya, mataku tertuju ke depan sana. Senior-senior yang menjelaskan tentang sastra dan drama, menjelaskan rencana-rencana yang akan dilakukan di komunitas ini, tentang pertunjukan teater, tentang pembelajaran menulis naskah puisi, cerita fiksi maupun naskah lainnya.


Kedengarannya menyenangkan, walaupun selama ini jiwaku ada di bidang eksak, aku tak punya bakat dalam tulis menulis. Tapi tak salahnya aku menggunakan otak kananku dan mencoba daya imajinasiku.


****


"Bagaimana sastramu hari ini?" Fariz sedang menyesap kopi susunya di ruang tamu.


"Terlalu banyak siswa yang ikut." Aku merasa tidak bersemangat, hari ini aku tak mendapatkan jatah tidur siang.


"Awal-awalnya memang begitu. Lihat saja 3 minggu yang akan datang, pasti peminatnya sudah berkurang drastis. Tetaplah ikut kegiatan itu." Fariz seperti orang tua saja, membaca koran di sofa ditemani dengan kopinya. Gaya bicaranya sedikit meniru papa.


"Aku lelah. Di mana mama?" Aku mengalihkan pembicaraan agar pembahasannya tentang sastra itu tidak diteruskan.


"Mereka pergi." Fariz masih saja bersikap seperti itu.


"Kemana?"


"Mana aku tau, mereka tak bilang mau pergi kemana." Fariz berbicara tanpa menatap adiknya ini.


Menyebalkan.

__ADS_1


Aku meneruskan langkahku, untuk meninggalkan ruang tamu, dan meninggalkan Fariz.


"Kenapa kau tak minta dibelikan motor pribadi pada ayah, semacam motor matic misalnya."


"Memangnya kenapa?" Aku menoleh padanya.


"Jadi kau tak perlu bolak balik naik bus itu lagi," celetus Fariz.


"Lagian aku suka naik bus, tanpa disengaja di sana kita bertemu dengan orang-orang yang belum kita kenal sebelumnya, dan tanpa disengaja ada silaturrahmi yang terjalin, bukankah itu adalah sesuatu yang bagus?" aku protes.


"Tapi naik bus juga ada resikonya. Semisal perampokan." Rupanya Fariz mencemaskanku.


"Aku akan baik-baik saja kak." Lalu aku tersenyum meyakinkannya.


*****


Ini kali pertama aku terlambat 15 menit dari biasanya. Ada beberapa siswa yang sudah datang lebih dulu. Aku membuka pintu yang masih tertutup, pintu yang berada di bawah potongan papan tipis yang bertuliskan XI IPA 3. Itu kelasku, kelas yang berada paling ujung dengan cat biru mudanya.


Kursi ini selalu nyaman di duduki, dari sini aku dapat belajar dengan tenang walau keadaan kelas biasanya ribut. Entah mengapa aku merasa hanya ada aku dan tempat duduk ini juga mejanya.


Aku melepaskan ranselku, meletakkannya di bagian bawah meja.


Ada suara yang berisik, di bawah mejaku. Ketika aku meletakkan ranselku, suara berisik semacam plastik tipis. Aku menunduk melihat ke bawah meja untuk memastikan, ada sesuatu berwarna putih. Aku mengambilnya. Setangkai bunga tulip putih terbungkus plastik bersama secarik kertas merah muda. Aku mengeluarkannya dari bawah meja, memandanginya dengan heran. Aku menyukai bunga tulip, dan warna putih adalah warna kesukaanku.


Siapa yang meletakkannya disini, dan secarik kertas ini, apa maksudnya? Hanya secarik kertas, semacam kertas karton, tak ada tulisan apa-apa atau pertanda sejenisnya. Apakah ada orang yang tak sengaja ketinggalan barangnya disini, atau ada orang yang sengaja meletakkannya?


*****


Terdengar sorakan dari kelas sebelah. Kedengarannya ramai sekali, mungkin ada pelajaran yang menyenangkan atau ada sesuatu yang menarik perhatian mereka. Kami sedang membahas pelajaran tentang pendidikan kewarganegaraan, tentang jiwa nasionalisme dan patrionalisme.


Memang di zaman yang serba praktis dan canggih ini, rasa cinta tanah air di diri generasi muda sedikit demi sedikit semakin terkikis ditambah pengaruh-pengaruh dari luar yang tidak sesuai dengan budaya kita, yang tanpa kita sadari negeri ini telah terjajah secara halus.

__ADS_1


Entahlah, tapi itu hanya pikiranku. Aku jarang berbicara, karena bicaraku hanya dalam logika, perangkat output-nya sedikit bermasalah, bukan alatnya, tapi seseorang tidak menekan tombolnya.


Aku melihat sekitarku, teman-teman sekelasku. Mereka uring-uringan, ada yang sibuk berbicara, ada juga yang terlihat memperhatikan namun sebenarnya tidak menyimak karena menahan kantuk.


Berselang beberapa menit ada yang mengetok pintu lagi dari luar. Paling- paling pengurus OSIS yang meminta sumbangan atau kepengurusan ekstrakurikuler seperti kemarin. Pak Safwan keluar sebentar dan terdengar berbicara pada beberapa orang. Suasana di kelas sudah mulai ribut, sementara aku hanya diam sendirian tak ada lawan bicara. Hanya berbicara pada diriku sendiri, di dalam hati.


Aku tak dihiraukan di kelas ini. Mereka menganggapku tidak sesuai dengan mereka. Kecuali ada ulangan matematika mendadak, mereka yang malas belajar berebut menempati tempat duduk Clara. Dengan alasan agar mudah mencontek padaku.


Dan dengan kelemahanku, dengan mudahnya aku diperalat oleh mereka, dan lagi-lagi kelemahanku, aku sulit untuk berkata tidak.


Sejumlah orang dewasa masuk ke kelas kami, ada 2 orang laki-laki mengenakan kemeja dengan dasi yang terlihat mahal di kerahnya. Sedangkan di sampingnya, wanita memakai kacamata, penampilannya seperti seorang dokter. Mengenakan blazer putih, umurnya kira-kira 30- an keatas. Dalam benakku mungkin mereka adalah petugas dari kesehatan semacam akan mensosialisasikan tentang penyakit baru dan cara pencegahannya. Pak Safwan berdiri di samping meja guru dan mempersilahkan sekelompok orang dewasa itu.


"Anak-anak... beliau-beliau ini adalah pakar pembaca aura. Sekarang giliran untuk kelas kalian," jelas pak Safwan lantas membuat kami semua diam. Ini adalah kali pertamanya ada pakar seperti itu yang mengadakan kegiatan yang jarang dilakukan oleh orang-orang.


"Selamat siang semuanya." Salah seorang dari mereka memulai pembicaraan.


"Siang." Kami menjawab dengan ramah dan bersemangat.


"Sebelumnya perkenalkan nama saya Eko, kemudian ini rekan-rekan saya Sandy dan Katrin." Tutur bahasanya lugas dan jelas. Dapat ditebak beliau adalah orang yang cekatan.


"Langsung saja untuk menyingkat waktu. Ehem..." Pria itu berdehem. "Sebelumnya kalian pernah mendengar, apa itu aura?" Sesaat dia memberi kami kesempatan untuk menjawab.


Semuanya diam, mungkin tidak ada yang tau, atau ada yang tau namun tak berani menjawab.


"Aura adalah warna yang terpancar dari diri seseorang. Bagaimana batin seseorang akan terpancar melalui aura tersebut. Oleh karena itulah kita dapat mengetahui sifat atau watak dari seseorang tersebut. Kalian tertarik?" beliau kembali bertanya,


"Tertarik..." ucap teman-teman sekelasku serentak, kecuali aku yang menjawab pertanyaan seseorang cukup dari dalam hati jika mulutku tidak berkenan untuk bicara.


Seorang pakar yang mengatas namakan dirinya Eko itu sibuk berbicara pada kami, sementara temannya yang lain sibuk meletakkan alat-alat semacam sensor dan monitor di atas meja yang telah di sediakan di depan. Sekilas perasaan takutku muncul.


"Langsung saja, kami akan memanggil kalian satu per satu untuk mengetahui warna aura kalian. Selanjutnya saya akan memberitahukan makna dari warna-warna tersebut," jelasnya lantas menyita perhatian di kelas ini membuat kantuk teman-temanku terlihat buyar.

__ADS_1


Mereka akan membaca aura. Ini gawat. Jangan sampai mereka mengetahui warna auraku. Ini berbahaya. Jikalau mereka tahu, pasti aku akan di cap sebagai orang aneh di sekolah ini dan akan dibully habis- habisan. Sekolah yang didominasi oleh kaum hawa yang sibuk dengan urusan sosialitanya dan kecenderungan menggosip.


__ADS_2