Kisah Cinta Indigo

Kisah Cinta Indigo
Part 9


__ADS_3

Aku diam sesaat membiarkan giliran nama teman-temanku di panggil. Kelima jari mereka dipasang sensor semacam scanning yang dihubungkan dengan komputer. Di monitor itu akan tampak warna auranya. Ada yang auranya berwarna kuning, menggambarkan seseorang yang periang dan ambisius, ada pula si ratu kelas, Cindy, yang tak lupa membawa alat make-up nya kemana saja. Auranya berwarna merah, yang menandakan semangat dan kemauannya keras. Teman-teman yang lain menertawakannya karena apa yang dikatakan pembaca aura itu benar adanya, Cindy terlihat cemberut disana.


Aku mulai pucat pasi. Aku harus mengambil tindakan cepat sebelum giliranku atau aku tak bisa lari lagi.


"Pak, permisi." Aku melangkah menunduk keluar kelas. Mungkin mereka mengerti dan berpikir aku pergi ke toilet. Berharap setelah aku kembali para pakar itu sudah pergi, dan aku aman.


Dahiku berkeringat dingin karena terlalu cemas, tapi sekarang aku sudah berada di luar kelas dan berharap menemukan tempat untuk menenangkan diriku sesaat.


Kotak musik milik siapa ini, berbentuk piano klasik, terlihat basah karena uap embun, aku mengambilnya dan menjauhkan embun itu dari bagian atasnya dengan tanganku, disini temaram, uap embun itu jatuh dari dedaunan. Ternyata disini nyaman, begitu syahdu dan lembut.


Aku berada di belakang perpustakaan, karena di depan terlihat kosong dan aku dapat menyelinap. Tempat ini kutemukan sejak kemarin. Sejak pikirku terlintas pada Alfath, benar, aku baru ingat kemarin ia duduk disini sebelum sanggar itu dimulai.


Dan kotak musik ini...


Aku membuka bagian penutup tuts replika piano kecil itu. Seketika ada sepasang patung kecil yang berdansa, dan musik itu. Musik yang kemarin, musik yang membuatku menemukan tempat ini. Ternyata tempat ini terasa indah jika sambil mendengarkan musik klasik yang fenomenal ini. Aku terasa ikut terbalut di dalamnya, menikmati setiap not lagu yang dimainkan. Menurut cerita, "Fur Elise‟ adalah not yang diciptakan Beethoven untuk kekasihnya yang telah tiada.


Ungkapan perasaan cintanya yang begitu mendalam, membuat notnya begitu indah. Not ini dimainkan pada A minor, meskipun aku tak terlalu mengerti musik. Tapi aku dapat mengenali kunci-kuncinya.


Sudah cukup lama aku disini, benakku terlintas pada pakar pembaca aura barusan. Mungkin mereka sudah pergi.


Aku harus mencari alasan mengapa aku lama jika ditanya Pak Safwan. Kotak musik ini bisa rusak jika di diamkan disini, air embun dari pepohonan akan membuatnya berkarat. Sepertinya Alfath lupa membawanya kemarin.


Kuletakkan kotak musik itu di tangan kiriku. Sekilas terlintas mengapa Alfath memiliki kotak musik yang biasanya dimiliki oleh kaum wanita. Alfath terlihat dingin pada perempuan. Apakah mungkin dia....?? ahh tidak, itu tidak mungkin. Siapa sebenarnya dia, mengapa ia menjadi sebegitu misterius.


Tak henti-hentinya beberapa hari ini rasa penasaranku itu selalu muncul, dan sekarang pertanyaan-pertanyaan semakin menumpuk di memori otakku, lama-lama memorinya bisa penuh dan tak dapat menampung data lain lagi.

__ADS_1


*****


Jarak dari perpustakaan ke kelas terasa begitu dekat karena pikiranku yang melayang kemana-mana. Aku mengetok pintu dan membukanya. Lalu ku buka perlahan.


Sial!!


Sayangnya pakar itu masih ada. "Naumi, ayo masuk! Kami menunggumu," ucap pak Safwan. Ya ampun harus bagaimana aku, jika aku tau lebih dulu mungkin hari ini aku bisa minta izin untuk tidak masuk sekolah.


Terlambat, pakar itu ada disana. Jarak mereka beberapa kaki ada di depan, aku menyembunyikan kotak musik itu ke belakang badanku.


"Maaf, Pak.." Aku ke tempat duduk dan meletakkan kotak musik itu di bawah meja.


Aku menghela nafas, semoga sesuatu yang buruk tidak terjadi. Mereka menungguku disana. Aku terjebak di situasi ini, tak ada kesempatan lagi untuk pergi dan kabur.


Aku berdiri diatas ubin yang terasa dingin, hingga dinginnya masuk melalui celah-celah sepatuku, menembus pori-pori dan membuat denyut nadiku berhenti sesaat.


Menjadi biru keungu-unguan, nila..


Aku menelan ludah, pakar itu terlihat berkonsentrasi pada layar komputer, warnanya terlihat bergerak. Aku tak pernah seperti ini sebelumnya. Semoga mereka hanya mengatakan psikologisku, maksudku tidak menyebut-nyebut satu kata yang ku hindari, indigo.


"Warnanya unik." Pakar yang wanita menatapku. "Warnanya aktif," ucap salah seorang lagi.


Teman-teman sekelasku terdiam, mereka tertegun.


"Apa warnanya?" tanya salah satu dari mereka, Cindy, si ratu kelas. "Warnanya nila," jelas pak Eko.

__ADS_1


"Bukankah itu warna anak indigo?" sela seorang teman sekelasku yang lain. Suara dari seorang laki-laki, aku tak melihat dia siapa, karena aku hanya menunduk menyiapkan batinku untuk hal yang akan terjadi selanjutnya.


"Benar, kami tidak pernah menemukan warna ini sebelumnya.."


Aku mencoba menaikkan pandanganku, teman-teman sekelasku terlihat menatapku dengan pandangan yang berbeda, dan sebagian terlihat acuh-acuh saja.


"Pantas saja dia terlihat aneh." Ada yang bersorak dan menjadikanku sebagai bahan lelucon mereka. Batinku terasa mendapat 10 cambukan sekaligus, aku terpojok, dan satu keadaan lagi, tak ada Clara disini.


Aku kembali ke tempat duduk, sekarang mereka mengetahui identitasku, aku tak tau apa yang akan terjadi kemudian. Mereka yang mengetahui hanya diam, atau menyebarkan gosip ini pada orang-orang di luar sana.


*****


Aku menapaki jalan trotoar, ada air selokan yang terlihat dibalik celah- celahnya, agak kotor dan berlumut. Polusi udara karena debu dan asap kendaraan. Sudah dua hari tidak turun hujan, jikalau hujan turun hari ini, polusi itu akan hilang walau nanti akan datang lagi. Setidaknya membuat pernafasan lega sesaat.


Jalan ini, jalanan yang sudah menjadi santapan kakiku setiap hari. Tak perlu menggunakan kompas agar tidak tersesat, aku berada di antara halte dan gerbang kompleks.


Diseberang sana...


Pria mencurigakan dengan motor sport hitamnya, berada dipinggir taman kecil. Tatapannya mengikuti gerakanku. Kali ini aku benar-benar yakin dia memang mengawasiku. Sayangnya aku tak dapat melihat wajahnya yang begitu privasi, anak SMA, itu saja yang aku tau karena celananya berwarna abu-abu.


Aku mempercepat langkahku, menjaga diri jikalau orang itu memang mempunyai niat jahat padaku. Lagian apa untungnya, jika dia menculikku dan meminta tebusan? Aku bukan anak konglomerat yang memiliki puluhan mobil di bagasi rumah. Toh rumahku juga tak seperti istana megah, tapi sudah beberapa kali dia mengawasiku dan tidak melakukan apa-apa, hanya mengawasiku dari kejauhan tanpa ada tindakan kriminal.


Aku benar-benar tak habis pikir. Entahlah... yang terpenting aku menjaga diri walau perasaan cemas mulai menghantuiku setiap pulang sekolah.


*****

__ADS_1


Suara hembusan dari kipas listrik berbunyi saat ku tekan tombol on nya. Menghempaskan tubuhku ke ranjang yang beralaskan seprai bermotif dedaunan dengan latar berwarna merah marun. Ini sudah senja, tapi cuacanya masih panas. Entah kenapa aku menyukai waktu ini, aku menyukai senja, karena sebentar lagi malam. Aku mencintai ketenangan malam, saat orang-orang sudah tertidur.


Entah kenapa pula aku tak terlalu suka siang. Cahaya matahari menurutku terlalu terang, pengap dan aku merasa tak hidup di dalamnya, keramaian manusia, kehidupan sosialita, sibuk dengan urusan dunia. Walau dunia memang tempat kita untuk hidup, berlomba-lomba mencari kebahagiaan masing-masing, tapi itu tidak abadi. Tak jarang sesuatu di luar sana melupakan suatu hal yang penting, alam yang kekal, yang sudah ditakdirkan Tuhan untuk umatnya setelah dunia dilenyapkan.


__ADS_2