Kisah Cinta Indigo

Kisah Cinta Indigo
Part 18


__ADS_3

Dia mulai tersenyum dan mulai dekat, hanya tersenyum kecut, lalu melewati kami menuju ke dalam rumah sakit, apakah ia sakit? Atau ada suatu keperluan hingga harus mengorbankan jam pelajaran sekolah.


*****


"Kamu sakit?" aku duduk di ruang tamu, dia datang lagi, si anak donator ini.


"Tidak" aku menggeleng pelan,


"Lalu?" ia memajukan sedikit wajahnya dan mengangkat kedua alisnya, aku merapatkan gigiku, mencuri nafas.


"Tidak apa-apa.." aku menunduk, sudah 2 hari aku tak mengikuti pelajaran di sekolah, aku belum siap, untuk menghadapi sesuatu yang buruk lagi.


"Kita jalan yuk!!" nadanya agak bersemangat, tapi logikaku spontan menolak, aku tak akan terjebak seperti kemarin lagi saat ia mengajakku ke bar itu.


"Tapi aku tidak bisa. Aku hanya ingin istirahat di rumah, aku tak ingin kemana-mana," jelasku. Kuharap dia tak lagi memaksa atau meminta pembelaan dari mama.


Dia terlihat agak kecewa, tapi aku sungguh merasa tidak sehat. Bukan secara jasmani, tapi rohani-ku.


"Maafkan aku."


Kakiku menginjak tempat ini lagi, tadi malam aku mendapat pesan singkat dari pak Zaid, hari ini aku diminta menemuinya di kantor, dan dengan keadaanku yang belum stabil aku memasukkan diriku ke tempat para paparazi ini. Lorong-lorong sekolah, bunga-bunga yang bergantungan di ujung atap dan seragam yang sebenarnya ku rindukan untuk kukenakan.


Letak mejaku masih rapi, hanya saja letak kursinya yang berubah, terakhir kali aku berada disini, kursinya kumajukan hingga hampir menempel pada meja dan menutup lacinya, sepertinya ada seseorang yang menempatinya ketika aku tak masuk sekolah atau ada seseorang yang dengan sengaja menggesernya.

__ADS_1


Ada sesuatu yang terdeteksi oleh penciumanku, aku menunduk dan mengintip keadaan di bawah meja, warna yang terlihat jelas di tempat yang agak gelap itu lagi, maksudku warna putih. Pigmen yang di miliki kelopak si tulip, dan aku menyukainya. Ia berada di sana, bersama dua tangkai lain yang sudah mulai layu, seseorang terus meletakkannya ketika aku absen di kelas ini. Sesuatu jatuh ke lantai saat aku meraih ketiga tangkainya, kertas merah jambu, aku melupakannya, carikan kertas dan bunga tulip ini selalu satu paket, dan sekarang jumlah bunganya sudah 7 tangkai dengan teman sepaketnya, carikan-carikan kertas karton pink itu.


"Kau marah padaku?" ada suara yang menyapaku, terdengar pelan namun aku dapat menyimaknya. Aku menoleh dan Alfath ada disana, sudah beberapa hari ini aku tak pernah melihatnya lagi setelah di rumah sakit waktu itu, biasanya dia selalu rapi dengan pakaian yang jelas habis di setrika, tapi kali ini agak kumal, begitu juga dengan dasinya, dia seperti anak-anak yang biasa di panggil ke ruang bimbingan konseling karena melakukan sebuah kasus, tapi aku percaya, Alfath bukan laki-laki yang seperti itu.


"Marah? Kau tak punya masalah denganku" aku mengubah posisi dudukku, mengambil keadaan yang agak nyaman, namun aku selalu kaku, kaku setiap bertemu dengannya.


"Kejadian disini beberapa hari yang lalu, ku rasa aku telah membuat masalah. Aku minta maaf" dia melepaskan kedua pergelangan tangannya yang saling menyilang lalu pergi tanpa permisi, tanpa kata-kata, dan tanpa sadar meninggalkan tanda tanya. Keningku mengkerut, membiarkan seseorang barusan pergi begitu saja dan membiarkan pemandangan di depanku ini tanpa jawaban, belakang perpustakaan, replika Bregagh Roads, teduh dan temaram.


Aku masih tak mengerti, bagaimana tempat ini ada dan ku temukan, awalnya ku pikir itu alami, tapi bagaimana dengan kejadian ketika aku mengajak Aldo kemari waktu itu?


Bukankah sesuatu yang aneh tiba-tiba saja menerpaku? Dan seseorang mengira aku berbohong.


Tapi entah mengapa aku tidak bisa meninggalkan tempat ini, daya tariknya yang luar biasa, setidaknya aku ketakutan atau trauma ke tempat ini lagi karena beberapa kejadian yang telah terjadi, namun aku tak merasakan sedikit pun seperti itu, tempat ini sesuai dengan naluriku, dan memenuhi kriteriaku.


*****


"Ini ada surat yang di berikan oleh panitia, ada data kriteria penilaian dan daftar judul materi yang akan dilombakan" pak Zaid menyodorkan kira- kira tiga lembar kertas yang sengaja di steples. Aku mengambilnya, kertasnya bergerak karena tanganku yang masih gemetar, untungnya aku segera mendekatkannya pada tubuhku.


"Kau sudah melakukan persiapan kan?" pak Zaid menyela saat aku mengalihkan pandangan membolak balik kertas yang kini ada di tanganku.


"Iya pak" aku mengatakannya dengan ragu, beberapa hari ini aku tak menyapa kertas dan coretan rumus-rumusnya walau bahannya memang sudah ku persiapkan. Gangguan itu belum pergi, dan barusan bertambah lagi.


*****

__ADS_1


"Kau menyukainya?" aku kaget. Alfath tiba-tiba saja berada di dekat ruang guru saat aku bermaksud ingin kembali ke kelas. Tubuhku masih terasa dingin, sama seperti sebelumnya, dan aku masih kelu.


Alfath sedikit menurunkan pandangannya mengintip wajahku yang menunduk.


"Siapa?" akhirnya aku dapat mengatakan sesuatu.


Dia tersenyum kecut, "laki-laki yang biasa bersamamu?"


Aku mengernyit, bibirku masih saja kelu, apakah yang ia maksud anak donator itu.


Ia kembali tersenyum kecut saat aku belum menjawab pertanyaannya,


"Kau tak terlihat mengikuti sanggar lagi?" "Aku berhenti," parauku.


Alfath terdiam.


Memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana, bahunya dibiarkan tersandar di dinding bawah jendela, aku merasa risih, ini di depan ruang guru, dan aku tak suka menjadi pusat perhatian, si idola sekolah berbicara pada seorang trending topic.


"Permisi." Aku melewati bahu kanannya, tak memperdulikan pandangan- pandangan yang harus ku lewati di depan sana, sepertinya aku harus mengisolasi pendengaranku untuk sementara waktu, sayangnya tidak ada benda itu disini.


*****


Suasana bus ketika pulang sekolah yang ku rindukan, tadi pagi papa bersikeras ingin menjemputku, tapi aku menolak, aku berada di halte di dekat gerbang sekolah, bersabar menunggu bus yang akan mengantarku pulang, hanya ada beberapa siswa disini, dalam hitungan jari, lihat saja mereka yang melintas dengan mobil-mobil mewah yang mengkilat, tak lupa dengan supir pribadinya.

__ADS_1


Suasana bus agak longgar, aku duduk di tempat favoritku, bagian paling belakang, setelahnya ada seseorang yang duduk di sebelahku, siswa yang satu sekolah denganku, rambutnya pendek dan terikat, lengan bajunya sengaja dilipat sehingga lebih pendek dari sebelumnya, ranselnya bermotif tengkorak abstrak, tidak ada ke-feminim-an. Dia agak tomboy, dengan permen karet yang selalu dikunyahnya.


__ADS_2