Kisah Cinta Indigo

Kisah Cinta Indigo
Part 11


__ADS_3

Banyak orang yang bertanya-tanya siapa sesungguhnya sosok Elise yang dijadikan judul lagu itu, ceritanya yang begitu misterius, sama seperti pemilik kotak musik ini, dia kembali menguasai bagian kognitifku lagi, pertanyaan-pertanyaan itu layaknya bagian atom positif dan negatif yang mengelilingi intinya. Bagaimana jika bagian atomnya bertabrakan, bagaimana jika merkurius berpeluang menabrak bumi, harus bagaimana aku? Mencari jawaban atas keingintahuan ini.


"Rupanya kau yang mengambilnya?" Suara itu kembali merambat pada gelombang udara. Tiba-tiba saja mulutku kelu, kali ini aku tertangkap basah lagi, padahal niat utamaku ingin melindungi benda ini lalu akan mengembalikannya nanti. Suara itu membuatku tersontak, penutup tutsnya lantas tertutup dan musiknya berhenti.


"Aku hanya ingin mengembalikan ini" aku memperlihatkan padanya piano kecil yang ada di tanganku, dia berdiri disana, memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana, wajahnya datar, rupanya dia tak pandai berekspresi. Dia tak merespon apa-apa, hanya berdiri di sana.


"Bagaimana kau bisa menemukan tempat ini?" dia selalu melontarkan pertanyaan.


"Semua orang dapat menemukannya, karena ini area sekolah. Aku hanya tak sengaja kemari ketika mendengar musik ini hari itu." Aku berharap dia segera mengambil benda ini dan aku dapat pergi.


"Kau pikir semua orang ya?" Dia tersenyum kecut. Seketika aku pucat pasi, aku selalu tak mengerti apa yang ia bicarakan.


"Ini ambil lah milikmu. Aku hanya melindunginya dari tetesan embun yang dapat merusak mesinnya." Aku mendekatinya, menyodorkan benda miliknya ini, namun sepertinya ia tak mengerti. Alfath masih saja berada disana, tanpa melakukan pergerakan apa-apa.


"Itu milik kekasihku," ucapnya sedikit tegas. Kekasih? Ternyata dia punya seorang kekasih.


"Ambillah dan kembalikan pada kekasihmu." Keringat dingin mulai keluar dari pori-pori di telapak tanganku.


Dan dia masih saja tak mengerti bahwa aku ingin segera pergi, dia masih saja berada disana, membiarkan benda ini ada padaku.


"Tapi dia tidak pernah menyentuhnya, rupanya kekasihku tak menginginkan benda itu, simpanlah kembali ke dalam ranselmu." Alfath membalikkan badannya, sepatu sneakersnya terlihat becek, rupanya dia datang dari tempat yang agak lembab, lalu pergi dan tak lagi terlihat di balik sudut dinding yang agak berlumut, dan sebuah keadaan lagi, tanda tanyanya bertambah satu, selalu seperti ini, dan atom itu berporos lagi.

__ADS_1


*****


Aku lupa Fariz pulang sore ini, tak ada sepatunya di rak, motornya juga tak ada di bagasi, hanya ada kerikil yang tersingkir di pekarangan bekas gilasan ban motornya, aku tak sempat bercerita padanya dan mengembalikan buku sastra miliknya. Aku bisa saja menghubunginya lewat ponsel, tapi aku lebih senang berbicara langsung.


Suasana rumah agak sepi, papa belum pulang dari tempat kerjanya, mungkin pekerjaannya masih banyak, tak jarang papa juga sering lembur. Apabila ia tak ada, kami merasa cemas berada dirumah, tak ada laki-laki sebagai pelindung, hanya aku dan ibuku.


Aku membuka gagang pintu, engselnya sudah mulai berkarat karena usianya sudah menua, tapi cat putihnya masih terjaga, dengan tempelan gabus-gabus yang berbentuk hati, masing-masing sengaja di beri tempelan huruf sehingga membentuk nama panggilanku.


Aku menghempaskan tubuhku pada merah marun, maksudku pada tempat tidurku yang bermotif dedaunan itu. Aku menarik bagian zipper ransel dan mengambil benda asing yang mulai beradaptasi denganku, replika piano itu, kotak musik milik seseorang yang tiba-tiba saja menjadi misterius dalam hidupku.


Aku memandangi sepasang dansa yang hanya diam karena penutup tutsnya tidak ku buka. Kekasih? Katanya ini adalah milik kekasihnya, menurut gosip yang beredar Alfath tak punya kekasih, umur piano kecil ini terlihat sudah tua. Apakah mungkih ini adalah milik kekasih Alfath di masa lalu? Atau mungkin pula ia mengalami sesuatu hingga membuatnya trauma untuk menjalin hubungan dengan wanita atau semacam itu. Aku jadi penasaran seperti apa wanita yang dikatakan oleh Alfath sebagai kekasihnya itu.


Lorong-lorong sekolah selalu menjadi jalan penghubungku dari depan ke kelas ataupun dari kelas ke depan, melewati ruangan-ruangan dan majalah dinding, cuacanya agak mendung, awannya abu-abu gelap, sepertinya sebentar lagi turun hujan. Untungnya aku sudah berada di sekolah, sehingga tak perlu takut kehujanan dan berlari dari depan untuk menghindari basah kuyup.


Aku mengambil kertas HVS di mading itu, meremasnya lalu membuangnya kedalam tong sampah aluminium yang ada di dekat mading. Siapapun yang melakukan ini, aku tak akan menyimpan dendam, aku hanya ingin mereka mengerti dan menerimaku di lingkungan mereka.


Aku berlari menuju kelas, menahan bathinku yang terasa miris, semua ini diluar kehendakku, aku tak pernah menghendaki sesuatu yang seperti ini, maksudku aura biru keungu-unguan itu.


Aku tak mengerti mengapa Tuhan takdirkan ini padaku, semuanya ku alami begitu saja, katanya ini adalah sesuatu yang berbeda, tapi entah mengapa bagaikan seperti cambuk bagiku.


Tiba-tiba saja hujan turun, aku sendirian di dalam kelas, air mata kekesalan yang kutahan akhirnya keluar juga, aku menopang kepalaku dengan kedua pergelangan tangan yang saling menindih di atas meja, meluapkan semuanya.

__ADS_1


Aku mencoba menerima semua kenyataannya, mencoba menghentikan air yang keluar melalui proses lakrimasi itu.


Sesuatu membuatku berhenti.


Aroma yang wangi merambat di udara dan terhirup oleh indera penciumanku, wanginya menenangkan, seperti aroma terapi, aku mencoba mengenali baunya lagi, sepertinya tak jauh dari sini. Mungkin bau bunga tulip kemarin yang ku letakkan di bawah meja, tapi itu sudah dua hari, seharusnya bunganya sudah mulai layu dan wanginya sudah hilang, rupanya pemiliknya tak mencarinya lagi dan membiarkan bunga itu membusuk di bawah mejaku.


Aku menunduk melihat keadaan di bawah meja, bunganya memang sudah layu, tapi ada bunga baru lagi disana, bunga tulip yang sama dan secarik kertas merah muda yang sama disampingnya, hanya saja bentuk kertasnya yang berbeda.


Aku mengambil bunga itu, bunga yang secara misterius ada di bawah benda persegi tempatku menopang dahi barusan, bunganya terlihat masih segar, masih ada embun pada kelopaknya, sepertinya seseorang baru saja meletakkannya sebelum aku datang, siapa yang meletakkannya disini? Seseorang yang memang dengan sengaja melakukannya. Jika ini memang diberikan untukku, kenapa tak diberikan secara langsung padaku saja?


*****


Orang-orang berlarian di luar sana, menghindari hujan, hujannya masih turun walau sudah mulai reda, aku tak memperdulikan mereka yang masuk ke dalam kelas, aku hanya akan mendapat pandangan- pandangan seperti kenarin jika berani menatap mereka, aku memungut roti peanut butterku dari dalam kotak makanan, dan kali ini ku biarkan ptyli dan emylase membantunya.


*****


Aku berjalan menunduk mengitari lapangan basket, berharap segera keluar dari sekolah yang sudah membuatku tidak betah. Kadang-kadang aku menaikkan pandanganku memastikan langkahku benar dan tidak menabrak sesuatu di depan.


Namun setiap kali aku menaikkan pandangan setiap kali itu juga aku melihat orang-orang yang saling berbisik dan menatapku dengan senyuman kecut mereka, dan terdengar ada orang-orang yang tertawa di belakangku.


"Jangan dekat-dekat! Katanya anak nila itu ada jin yang bersemayam di dalam dirinya." Seketika hinaan itu bagaikan anak panah yang menancap di telingaku. Aku ingin marah dan menghentikan mereka, tapi aku tak kuasa melakukannya.

__ADS_1


Aku meneruskan langkahku, anggap saja mereka adalah orang-orang yang tak mengerti tentang aksiologi, kajian yang mempelajari tentang nilai-nilai itu, khususnya tentang etika, dan yang terakhir, tak bisa menjaga lidah. Dadaku terasa memanas, panasnya naik hingga terjadi proses penguapan di mataku. Untungnya aku bukan burung unta yang cenderung melakukan bunuh diri. Tuhan berikan aku hati dan pikiran, melalui fasilitas itu lah kurasa hidupku akan terus berjalan walau perlahan.


Ada beberapa pasang kaki yang menghentikan langkahku, warna kaos kaki yang feminim, rok di atas lutut, pergelangan tangan yang saling menyilang hingga menutup lambang dasi. Aku hanya menaikkan pandangan cukup sampai disitu. Salah seorang dari mereka menaikkan daguku dengan telunjuk tangannya.


__ADS_2