
Aku menginjak trotoar menuju halte yang ada di dekat sekolah, aku ingin segera pulang dan melampiaskan semuanya lalu tertidur, dan pada saat terbangun aku ingin segalanya akan hilang.
Sepertinya aku memang harus meninggalkan sekolah ini dan menjalani kehidupan dengan sekolah yang baru.
"Aku ingin bicara sebentar" seseorang menarik pergelangan tanganku, siapa lagi kalau bukan makhluk yang telah mencabik-cabik harga diriku barusan.
Aku menghempaskan cengkramannya, tak peduli seberapa kuat itu, setidaknya aku mampu melakukannya.
"Aku tau kau begitu marah padaku, aku tak tau bagaimana caranya membuatmu mempercayai sesuatu." Suaranya agak gemetar, aku tersenyum kecut, mungkin dia hanya cemas, cemas karena kalah taruhan dan dituntut untuk mengembalikan uang teman-temannya, lalu ia akan membujukku agar tidak marah dan membantunya dalam taruhan yang tidak waras itu.
Aku tak memperdulikannya, ku teruskan langkahku agar segera ke halte sebelum aku ketinggalan bus.
Dia menghentikan langkahku, tubuhnya dibiarkan menjadi dinding penghalang antara aku dan halte biru tua yang ada disana.
"Kuakui aku pengecut." Dia menahan pundakku, aku lelah, lelah menahan air mata yang ingin keluar.
Bukan karena Aldo, tapi karena penginjakan ini dan atas beban yang selalu membuat hati dan logikaku terasa dikuras.
Aku tak peduli, aku berusaha menerobos dinding penghalang itu, dan ia masih saja tak enggan membiarkanku.
"Aku jatuh cinta padamu sejak awal. Sejak aku mengembalikan dompetmu yang tercecer itu, aku mencintaimu hanya saja keadaannya seperti itu, aku tak tau akan dikatakan apa oleh teman-temanku jika aku selalu bersamamu, dan taruhan itu hanya sebuah alasanku, alasanku untuk bersamamu, maafkan aku... aku akan mengakhiri taruhan itu, tapi kali ini ku mohon dengarkan aku." Suaranya terdengar tulus dari dalam, tapi siapa yang tau? Si pembujuk ini pandai bersandiwara. Dan satu hal lagi, aku tak akan terjebak.
Aku berlari meninggalkannya karena sebuah bus sudah berada di depan halte, dia kembali menahanku,
__ADS_1
"Aku akan mengantarmu pulang" lantas saja aku akan menolak meski seribu alasan ia lontarkan, meski kata-katanya melebihi keindahan kata- kata para ahli filsafat dari Persia.
"Naumi..??" Lagi-lagi ia berteriak, dan lagi-lagi aku tak peduli.
Dan sesuatu lagi yang membuatku lelah, motor sport hitam itu lagi, tak lupa jaket hitam yang menutup lambang di bajunya, helm berstandar SNI dengan kaca hitam yang melindungi wajahnya.
Selalu berada disana, di seberang gerbang kompleks, di antara para pedagang kaki lima. Dan masih saja disana, membuatku gelisah di setiap pulang sekolah, tak memberikanku kesempatan untuk mengetahui siapa dia dan juga identitasnya.
Aku tak tau apa rencananya, sejauh ini ia tak melakukan sesuatu yang buruk padaku, hanya berada disana, dan selalu disana, menatapku dari kejauhan dan membiarkanku pergi di balik gerbang komlpeks menuju pagar kayu sederhana.
Dari kejauhan terdengar suara knalpot motor sportnya, ia pergi saat aku sudah mendekati tempat tinggalku, meski suara itu tidak begitu jelas terdengar, dan meninggalkan secerca asap, dimana warnanya yang abu- abu sulit untuk di tebak, dan ketika tebakan itu dimulai, partikelnya sudah melebur dan diikat oleh oksigen.
*****
Dan sejak itu pula seseorang lupa memindahkan data-dataku sebelumnya ke dalam penyimpanan alternatif untuk disimpan kembali ke perangkat yang baru.
Aku melupakan sesuatu, kotak musik ini, aku lupa mengembalikannya, aku bermaksud akan ke tempat itu sepulang dari ruang guru, namun ada sesuatu yang membuatku melupakan daftar yang telah kubuat.
Jika aku ingin betemu Alfath, aku cukup datang ke tempat itu, aku tak tau bagaimana caranya, setiap kali aku berada disana, ia selalu datang setelahku, aku tidak mengerti, bahkan ketika sore itu aku mengajak Aldo kesana, Alfath tiba-tiba saja ada. Padahal waktu itu sekolah sepi dan tidak ada kegiatan apa-apa.
Aku tak sengaja menatap bagian lemari paling bawah, di samping ranjangku, tempat dimana aku menyimpan kotak itu, kotak yang berisi benda hidup dan benda mati, bunga tulip yang sudah layu karena tidak dapat melakukan fotosintesis lagi, dan si benda mati yang masih utuh dengan keadaannya yang seperti itu, 7 carikan kertas karton dengan bidang sembarang seperti puzzle yang tidak beraturan, puzzle?
Aku mengkerutkan keningku,
__ADS_1
Satu kata yang bagus.
Aku membuka penutup lemarinya, benda itu terlihat agak gelap disana, aku meraihnya dan menyelamatkannya dari kegelapan.
Dengan perlahan ku ambil satu per satu benda itu, semua bunganya sudah layu, dan sebagian terlihat sudah mulai membusuk, sepertinya aku harus mengasingkannya dari kotak ini sebelum kelopak dan tangkainya lenyap dimakan bakteri.
Kertas-kertas merah jambu ini berhamburan di atas seprai merah marunku, ada sisi yang memang terlihat dipotong dengan gunting dan agak rapi. Sedangkan bagian yang lain hanya disobek manual menggunakan tangan.
Aku mencoba mencocokkan bagian-bagian yang seharusnya menyatu sebelum seseorang menyobeknya, aku menemukan 2 bagian yang agak bundar, sisi samping yang menyerong kebawah dan membentuk lancip di bagian paling bawah, dan puzzle ini selesai ku kerjakan. Seseorang sengaja membentuknya seperti bentuk hati. Setidaknya carikan kertas ini sudah memiliki identitasnya dengan bentuk yang ia tunjukkan, bukankah bentuk amor melambangkan tanda cinta? Lantas si amor ini hanya benda mati. Ia tak bisa ku ajak bicara untuk mengungkit siapa pemiliknya.
Aku mengingat kata-kata yang terlontar dari mulut Aldo saat ia mencegahku sepulang sekolah tadi, apakah mungkin Aldo yang melakukan semua ini?
Aku memasukkan semua benda ini lagi ke dalam kotak lalu menjatuhkannya ke dalam tempat sampah kecil di bawah jendela kamarku, tak ada gunanya aku menyimpan benda yang jika benar ini memang darinya. Dia pandai bersandiwara, pandai membuat orang percaya, dan pandai menginjak-injak dari belakang.
*****
Pagi ini kembali seperti pagi beberapa hari yang lalu, aku tak akan ke sekolah, toh sebentar lagi aku juga akan pindah setelah olimpiade itu, setidaknya aku ke sekolah hanya untuk mengurus kepindahanku, lalu meminta bantuan papa untuk mencari sekolah yang baru.
Sebenarnya aku masih bingung. Ini waktu yang tidak tepat, karena beberapa bulan lagi akan ulangan umum, dan setelah itu kenaikan kelas, disayangkan memang. Tapi keadaan di sekolah memaksaku, menarikku dengan paksa agar tak berada di sana lagi.
*****
Sudah satu minggu aku tak masuk sekolah, segalanya telah ku persiapkan. Untuk olimpiade itu, olimpiade yang mungkin jika aku memenangkannya akan menjadi satu sejarah yang kutinggalkan di sekolah itu sebelum aku pindah.
__ADS_1