
"Bi, aku pesan es jeruk satu." Kataku ke pemilik pedagang di kantin.
"Aku juga, bi." Sahut Lisa yang berada di sampingku sembari mengangkat tangan kanannya.
Aku dan Lisa berdiri menunggu sebentar, tidak lama es jeruknya jadi. Lalu kami mengambil esnya masing-masing. Setelah itu, aku melihat ke kiri dan ke kanan, memastikan bahwa meja masih ada yang kosong.
"Kita duduk di sana aja." Kataku sambil menunjuk ke arah meja yang masih kosong.
"Ok." Jawab Lisa singkat.
Kitapun menghampiri meja yang masih kosong itu, lalu duduk berhadapan.
Ku taruh es jerukku tepat di depanku. Ku sedot perlahan, lalu ku aduk-aduk menggunakkan sedotan.
Tiba-tiba Sendi dan Ervan menghampiri kita. Sendi duduk di sebelah kiriku, dan Ervan di sebelah kanan Lisa.
"Kamu itu bukan ahli pembohong, Alesha."
Tiba-tiba Sendi bilang kayak gitu sambil memutar wajahnya 90 derajat ke samping, melihat ke arah wajahku dengan kedua tangan di lipat di atas meja.
"Maksud kamu?" Tanyaku bingung sambil menatap ke wajahnya.
"Aku tahu kamu kenapa-napa, tapi kamu bilang gak ada apa-apa. Yakin masih gak mau cerita?" Kata Sendi, berharap aku mau cerita ke dia.
__ADS_1
Aku kembali meminum es jerukku, dan mengaduk-aduk menggunakan sedotan lagi.
"Sebenarnya aku juga gak tau kenapa, tiba-tiba saja Nuri marah sama aku. Dari cara dia ngediamin aku gak kayak biasanya. Ya kamu bisa lihat Sendiri lah sekarang dia gimana?" Jelasku kepadanya.
"Dia itu iri sama kamu." Kata Sendi, gak tahu apa maksudnya.
"Iri kenapa?" Aku bingung. Aku sedikit mengerutkan dahi.
"Karena cuma kamu yang berhasil deket sama aku." Sendi tersenyum kecil kepadaku.
Aku berhenti mengaduk-aduk minuman dan melirik ke Sendi. Aku membalas tatapannya. Sebentar.
"Ehemmmz.." Deham Ervan pura-pura batuk, menghentikan aku yang sedang bertatap mata dengan Sendi.
"Kita pindah meja aja, Lis. Gak enak jadi nyamuk." Sambung Ervan mengajak Lisa untuk pindah meja.
"Iya." Sahut Lisa yang membawa es jeruknya, bersiap-siap beranjak pergi dari tempat duduknya.
Merekapun pergi, pindah ke meja lain meninggalkan Aku dan Sendi berduaan di sana.
"Soal Nuri marah ke kamu gak usah di pikirin. Itu hak dia." Kata Sendi.
"Berarti kalo aku marah ke kamu, gak apa-apa, kan hak aku." Jawabku.
__ADS_1
"Ya jangan." Tangkas Sendi.
"Kenapa?" Tanyaku sedikit penasaran.
"Kalo kamu marah ke aku, berarti aku harus bujuk kamu." Ujarnya.
"Gak usah kalo itu ngerepotin kamu." Balasku.
"Gak ada yang namanya ngerepotin buat ngebahagiain kamu Alesha." Gombal Sendi lalu dia tersenyum padaku.
"Yakin?" Tanyaku seraya mendekatkan wajahku ke wajahnya.
"Iya Alesha". Jelas Sendi.
Aku dan Sendi saling memberikan senyuman. Kemudian dia mencubit hidungku.
"Awww.." Jerit manjaku sambil berusaha melepaskan tangan Sendi.
"Sakit.." Aku meringis sambil mengusap-usap hidungku yang sedikit memerah.
Sendi tersenyum sambil melihat mataku, dia terus menatapku. Aku membalas tatapannya. Kami berdua akhirnya saling bertatapan mata. Lama. Di matanya, aku melihat akan ada kebahagian darinya untukku. Semoga saja.
Dari kejauhan, Nuri memperhatikan aku dan Sendi. Dia yang sedang duduk dengan Novi (teman kelasku yang duduk sebangku dengan Lisa di belakang aku) tiba-tiba bangun, berdiri. Lalu pergi meninggalkan Novi sendiri.
__ADS_1
Locengpun bunyi kembali. Menandakan jam istirahat sudah berakhir. Semua siswa masuk ke kelas masing-masing. Termasuk aku.