
Suasana kelas melebihi ricuhnya suara orang yang sedang demo. Berisik sekali. Aku cuma bisa duduk sambil meletakkan kepalaku di atas meja, miring ke sebelah posisi tempat duduk Nuri, dengan tangan sebagai bantalannya.
Nuri belum juga datang duduk menemaniku untuk ngobrol-ngobrol sambil menunggu jam pelajaran berikutnya. Ku angkat kepalaku, ku tengokkan ke kiri, kanan, dan arah pintu. Nuri tidak ada juga. Lalu, aku tengokkan kembali, ke belakang. Ternyata Nuri ada di sana, di pojok kelas bersama Novi. Ternyata, sekarang Nuri lebih memilih teman ngobrolnya bersama Novi. Ah ya sudahlah, terserah dia saja. Ku letakkan kembali kepalaku seperti posisi awal. Perlahan, aku pejamkan mataku. Ngantuk sekali rasanya.
"Kamu ada masalah apa sama Alesha?" Tanya Novi ke Nuri yang ngobrol di pojok kelas.
"Gak ada." Jawab Nuri datar.
"Kok sekarang jauh-jauhan?" Tanya Novi lagi.
"Perasaan nggak, biasa aja."
"Kamu cemburu ya sama Alesha, gara-gara Alesha deket sama Sendi?" Sindir Novi, mencoba memancing Nuri.
"Enggak Novi.. Apaan sih" Nuri mengelak dan mendesis.
"Ngaku aja Nuri. Kelihatan banget tahu, kalau kamu itu cemburu sama Alesha, mana mungkin kamu marah sampe ngejauhin dia segala." Desak Novi.
Nuri diam, dia melihat ke arahku yang sedang tidur di meja.
Tiba-tiba Pak Kepala Sekolah datang, masuk ke kelasku. Semua teman-teman kelasku duduk terburu-buru. Membuatku yang sedang tertidur seketika bangun. Ah, mengganggu saja.
"Selamat siang." Sapa Pak Kepala Sekolah berdiri tepat di depan papan tulis.
"Siang pak.." Jawab kami serentak.
"Assalamu'alaikum wr.wb". Salam dari Pak Kepala Sekolah.
"Wa'alaikum salam wr.wb". Kami semua menjawab salamnya.
Pak Kepala Sekolah berdiri mendekat meja guru, sebelah tangan kanannya ia letakkan di atas meja guru, sebelah kirinya tetap berada di posisinya.
"Pengumuman buat kalian semua, di karenakan hari ini ada rapat dadakan, jadi kalian di pulangkan saja." Papar Pak Kepala Sekolah.
"Yeeeee....."
Jawab kami semua senang penuh girang, sebagian ada yang sampai berdiri dan mengangkat tanganya karena kegirangan.
"Sudah-sudah." Pak kepala sekolah menenangkan, kedua tangannya seperti menyetop sesuatu, kemudian jari tangan kananya menunjuk ke atas, membentuk angka satu.
"Ingat! Pulang ke rumah, jangan ada yang mampir kesana kemari apalagi sampai keluyuran."
__ADS_1
Pesan Pak Kepala Sekolah kepada kami. Karena biasanya apabila siswa di pulangkan lebih awal, mereka tidak langsung sampai ke rumah, pasti ada saja yang keluyuran dulu.
"Iya siap pak.." Jawab kami kompak.
"Ya sudah kalau begitu. Itu saja pengumuman dari Bapak. Wassalamu'alaikum wr.wb."
Pak Kepala Sekolah menutup salamnya.
"Wa'alaikumsalam wr.wb" Jawab kami lagi sembari cepat-cepat memakai tas.
Pak Kepala Sekolah lalu pergi. Kelas kembali rusuh, terlihat semua teman-teman sangat senang, seperti anak kecil yang baru saja menang hadiah dalam jajanan.
*****
Aku dan Lisa perlahan melangkahkan kaki, baru saja sampai parkiran. Terdengar suara motor dari belakang mengarah ke samping kananku. Tiba-tiba saja motor berhenti. Tepat di samping kananku.
"Aku antar kamu pulang ya." Tawar seorang pria pengendara motor.
Seorang pengendara motor itu ternyata Sendi.
"Gak usah." Aku menolak tawaran Sendi.
"Kenapa?" Tanyanya.
"Ervan ikut sama yang lain. Lisa juga bisa ikut juga sama yang lain. Iya kan Lis?"
Tanya Sendi sambil mengangkat kedua alisnya berkali-kali, seperti orang yang sedang memberi kode.
"Iya, ya udah gak apa-apa." Jawab Lisa.
"Tapi kan.." Kataku
"Udah, cepetan naik." Sendi memotong omonganku, dia mengedikkan dagunya ke arah jok belakang motornya yang masih kosong.
Kemudian aku naik ke motornya.
"Duluan ya." Kata Sendi kepada Lisa.
"Iya." Jawab Lisa singkat.
"Maaf ya Lisa." Kataku.
__ADS_1
"Ya udah sana, orang aku gak apa-apa kok."
Lisa melambaikan tangannya, aku membalas lambaian tangannya.
Sendi menjalankan motornya. Pelan. Lebih pelan dari siput. Padahal motornya sudah di modifikasi supaya mesinnya jadi lebih cepat apabila di jalankan.
"Pura-pura, padahal mau."
Kata Sendi, ia tersenyum seperti orang meledek.
"Mau apa?" Aku bingung.
"Mau aku yang antar kamu pulang." Katanya.
"Kamu kan hasil maksa." Jawabku.
"Tapi kamu naik sendiri kan?"
"Terus, harusnya aku di naikkin?"
"Naikkin apanya?".
"Ihhh.. Gak tau ah."
Jawabku mendesis sambil menyubit pinggang Sendi.
"Hahaha.." Sendi tertawa merasa antara geli dan senang ketika pinggannya aku cubit, dia senang bercanda denganku di jalan, naik motor berdua.
Tidak lama kemudian, akhirnya sampai di depan rumahku. Aku turun. Lalu berdiri di sampingnya.
"Makasih ya." Bisikku. Tepat di telinganya.
Sendi tersenyum.
"Aku duluan ya." Jawab Sendi.
"Hati-hati." Pesanku.
"Siap komandan."
Dengan sigap Sendi menjawab dengan di barengi tangan kanannya seperti gerakkan hormat.
__ADS_1
Kemudian dia pergi. Aku terus menatap punggung kepergiannya sampai dia hilang dari pandangan dengan penuh senyuman. Aku membalikkan tubuhku, melangkahkan kaki, masuk ke dalam halaman rumah yang pada saat itu pintu gerbang rumahku terbuka.