
Mika menyandarkan punggungnya pada dinding sudut ruangan toilet itu. Tidak lupa juga kedua tangannya di lipat. Di menatapku dari ujung kaki sampai ujung kepala. Aku bingung dengan apa yang akan di lakukan Mika terhadapku.
"Kamu tahu gak kenapa aku bawa kamu ke sini?" Tanya Mika.
"Lo mau ngapain? Mau ngomong apa sama gue? Emang gue punya urasan sama lo?" Aku menantang dia balik.
Aku tidak takut dengan Mika, karena menurutku dia masih di bawah skill ku, hehe. Ya iyalah, sama guru BP saja aku pernah berurusan karena pernah terlambat upacara. Bukan pernah lagi sih, emang sering, lebih jauh dari sebelumnya.
"Aku cuma mau ngasih tahu sama kamu. Jauhin Sendi." Suruhnya.
"Apa hubungannya sama lo? Lo suka juga sama Sendi?"
Tanyaku menyipitkan kedua mata, mencurigai seorang Mika.
"Bukan aku." Mika menggelengkan kepalanya.
"Terus siapa? Nuri?"
"Bukan."
"Siapa lagi?"
"Temanmu."
"Maksud kamu?" Aku tidak tahu maksudnya siapa.
"Lisa."
Seketika jantungku seperti mau copot, mulutku sedikit terbuka, dan mataku terbuka sempurna. Tidak percaya dengan apa yang Mika bilang barusan.
"Lo jangan ngarang cerita ya! Setelah hubungan pertemanan gue rusak begitu saja sama Nuri, lo mau adu domba gue sama Lisa? Mau lo apa sih sebenarnya?"
Aku malah memaki-maki Mika dan menunjuk-nunjuk ke wajahnya.
"Tunggu dulu Alesha."
Nuri menghentikan aku yang terus menunjuk-nunjuk dirinya.
"Aku bilang begini ke kamu, karena aku kasihan sama Lisa. Dia sering curhat sama aku tanpa sepengetahuan kamu. Dia harus terus menderita melihat kemesraan kalian berdua, bahkan itu sering kalian lakukan di depannya. Lisa itu sebenarnya suka sama Sendi sudah lama. Bahkan sebelum hubungan pertemanan kamu sama Nuri rusak. Namun Lisa sadar diri, sebenarnya dia juga tidak mau kamu tahu soal perasaannya pada Sendi. Tapi aku sudah tidak kuat, aku tidak tega melihat dia menderita seperti itu."
Mataku mulai tidak jelas melihat, penglihatan seketika memburam karena terhalangi oleh air yang sebentar lagi akan turun, jatuh dari pelupuk mataku. Aku masih tidak percaya dengan apa yang di katakan Mika barusan.
Apa benar Lisa seperti itu. Jadi laki-laki yang ia taksir selama ini adalah Sendi juga. Kenapa aku harus mengalami hal yang sama lagi. Setelah pertemananku rusak begitu saja dengan Nuri, sekarang harus rusak juga dengan Lisa hanya karena satu laki-laki yang bernama Sendi.
Yang ku lakukan hanyalah diam, membisu, tidak ada yang bisa aku bicarakan lagi. Benteng pertahanan mataku tidak kuat lagi menahan derasnya air yang mengalir. Aku mengepalkan kedua tanganku. Menahan semua yang terjadi padaku barusan.
__ADS_1
Kenapa Lisa selama ini terlihat seperti orang yang paling mendukung kedekatanku dengan Sendi? Kenapa dia tidak jujur saja dari awal bahwa dia juga menyukai Sendi. Pantas saja tadi ketika berangkat sekolah, ketika aku ceritain tentang Sendi yang benar-benar mendekatiku, dia menjawab acuh tak acuh, seperti tidak suka.
Mungkin tadi ketika ia bilang ke kantin duluan, dia nemuin Mika untuk mencurahkan segala isi hatinya mengenai perasaannya terhadap Sendi.
Apakah pertemananku kali inipun akan rusak?
Pikiranku di penuhi oleh pertanyaan-pertanyaan itu. Aku memegangi kepalaku yang seperti mau meledak dengan kedua tanganku. Air mataku menderas. Mika meninggalkan aku di sana sendirian.
Dua orang pria menghampiriku. Sepertinya mereka melihat aku dan Mika sebelum Mika pergi. Mereka Fachmi dan Arul yang masih teman sekelasku juga.
"Kamu yang sabar ya Al, kamu tahu sendiri kalau Mika itu orangnya kayak gitu. Mulutnya gak bisa di jaga."
Ucap Arul, yang menenangkanku.
Tangannya perlahan mengusap bahuku yang sebelah kiri.
"Iya Alesha. Aku ngerti kok perasaan kamu sekarang bagaimana?" Sahut Fachmi.
Sepertinya mereka berdua sempat mendengarkan apa yang di bicaran Mika kepadaku.
Aku mengusap air bening yang terjatuh di pipiku itu. Aku mengangkat dua sudut bibirku membentuk sebuah senyuman kecil.
"Iya. Terimakasih ya kalian."
Lalu mereka berdua memberikan senyuman juga. Untuk menenangkan aku bahwa semua pasti baik-baik saja. Kemudian Arul menepuk pundakku pelan, dan mereka pergi meninggalkan aku juga.
Aku membuka pintunya karena tidak pernah di kunci. Di sana hanya ada sedikit meja dan kursi yang berantakan. Aku tidak menutup kembali pintunya, ku biarkan terbuka begitu saja.
Aku duduk di kursi yang berada di balik pintu, di sudut ruangan. Aku tundukkan kepalaku dengan kedua tangan menopang mata, menutup mata yang sengaja ku pejamkan. Hanya kenehingan yang ku rasakan di sana. Aku mulai menenangkan pikiranku.
"Harusnya kamu gak perlu melakukan itu."
Tiba-tiba saja ada suara dari seorang pria, aku mendongakkan kepalaku pada pria yang sedang berdiri di depanku sembari menyodorkan tissue. Pria itu Sendi. Aku mengambil tissue yang di berikannya. Aku menghapus air mataku yang masih tersisa di pelupuk mata. Sendi menarik kursi yang di jauh dari tempat dudukku, kemudian ia sejajarkan dengan kursi yang aku duduki.
"Melakukan apa maksud kamu?"
Tanyaku yang baru saja selesai menghapus air mata.
"Membiarkan air matamu terbuang begitu saja."
Sendi memang duduk di sampingku, tapi dia menghadapku. Tangannya ia rengkukkan pada sandaran kursi yang aku duduki.
"Aku sudah tahu semuanya."
Kemudian Sendi menghela berat. Ia menatapku lekat.
__ADS_1
"Siapa saja berhak kepada siapa ia akan jatuh cinta. Tidak ada yang mampu mencegah perasaan terhadap seseorang. Seperti halnya Nuri dan Lisa kepadaku. Dan seperti halnya perasaanku sama kamu." Kata Sendi.
Keheningan tercipta kembali di antara kita berdua. Aku mulai mengangkat kedua sudut bibirku, membentuk sebuah senyuman.
Lonceng tanda masuk meghentikan semuanya, menghentikan kita yang sedang saling memberi senyuman dan tatapan mata dalam keheningan.
"Kamu gak usah mikirin hal yang terjadi sama kamu tadi. Sekarang kita masuk ke kelas." Ajak Sendi.
"Kamu aja. Aku masih mau di sini."
"Yaudah kalau gitu aku temenin kamu di sini."
"Gak usah. Nanti takutnya kamu ikut di hukum gara-gara gak ikut pelajaran."
Sendi menggenggam tanganku yang ku letakkan di atas lututku dengan erat.
"Aku tidak akan membiarkan kamu di hukum sendiri Alesha."
Ia kembali menatapku dengan lekat.
*****
Sementara di kelas pelajaran Bu Laras sedang berlangsung.
"Jadi ada yang tahu Alesha sama Sendi kemana?"
Tanya Bu Laras dengan nada yang terdengar marah.
"Tidak Bu.."
"Kalau begitu Ibu tidak akan memulai pelajaran sebelum mereka datang."
Suasana di kelas hening. Tidak ada yang berani berbicara sepatah pun. Yang terdengar hanya suara detik jam yang yang terus berjalan tanpa henti.
Bu Laras mengetuk-ngetukan jarinya ke meja, tapi kami tidak datang juga. Bu Laras mendecak, wajahnya terlihat marah, karena waktunya mengajar habis untuk menunggu kita.
Kemudian Bu Laras membawa kembali buku paket miliknya dan pergi keluar tanpa berbicara sepatahpun.
*****
Di ruangan yang kosong, yang hanya ada aku dan Sendi di sana. Tiba-tiba seseorang masuk ke dalam ruangan itu. Aku sempat kaget dengan kedatangan orang itu.
"Kalian harus ke ruang BP sekarang."
Suara itu berasal dari sosok orang masuk ke ruangan yang ada aku dan Sendi. Kemudian dia pergi lagi.
__ADS_1
Aku dan Sendi saling menatap satu sama lain. Karena kita tahu apa yang akan terjadi setelah kita memasuki ruang BP. Sendi menganggukan kepalanya. Kemudian Sendi berdiri dari kursinya dan mulai melangkahkan kaki ke luar ruangan itu yang di ikuti olehku.