
Lonceng istirahatpun bunyi. Waktunya para siswa-siswi mengisi perutnya yang sudah protes sedari tadi. Bergerombolan menyerbu kantin. Aku tidak langsung ke kantin, aku pergi ke toilet sebentar. Setelah selesai, aku merapikan rok dan baju. Aku membuka pintu toilet, di depan pintu toilet yang aku masuki, sudah ada Susi. Dia menatapku dengan tatapan tidak seperti biasanya. Seperti ada sesuatu yang aku saja tidak tahu itu apa. Tanpa menanyakan ada apa dengan dia, aku langsung pergi meninggalkannya. Aku berjalan menuju kantin.
Di meja ujung sana sudah ada Sendi, Lisa, dan Ervan. Mereka sedang memakan mie rebus berpadu dengan telur, kecuali Ervan yang sedang memakan roti dengan sebotol.air mineral. Aku menghampiri mereka. Lalu duduk di sebelah Ervan, karena Sendi sudah duduk sejajar dengan Lisa.
"Kamu dari mana?"
Tanya Lisa dengan mulut yang masih mengunyah mie rebus.
"Toilet." Jawabku.
"Tadi pas aku keluar dari toilet, ada Susi. Dia aneh." Sambungku.
"Aneh kenapa?" Tanya Lisa lagi.
"Dia tiba-tiba saja ada di sana, terus ngeliatin aku sinis gak kayak biasanya." Jelasku.
UhukkUhukkk..
Tiba-tiba Sendi tersedak.
Kemudian dia meraih es teh manisnya yang tidak jauh dari mangkok mie rebusnya.
"Kenapa lo?" Tanya Ervan heran yang juga sedang menguyah roti.
Aku dan Lisa juga heran dengan Sendi yang tiba-tiba tersedak dengar ucapanku barusan.
"Gak apa-apa." Jawabnya setelah meminum es teh manis.
"Oh iya, katanya kamu mau neraktir aku es jeruk. Mana?" Aku menagih janji Sendi.
"Udah aku pesenin tadi, mungkin belum selesai di buat."
Katanya sambil menyiduk mie rebus miliknya.
"Kenapa lama?" Tanyaku lagi.
"Kan pesennya 5 gelas." Jawab Sendi.
"Hahh?"
Aku kaget mendengar
pernyataan Sendi, mulutku terbuka lebar. Ervan dan Lisapun ikut kaget.
"Gila. Kamu yang bener aja." Omelku pada Sendi
__ADS_1
"Beneran."
Jawab Sendi seperti orang yang tak berdosa.
Tidak lama kemudian es jeruk datang. Dan beneran, yang datang 5 gelas. Penjual kantin itu menaruhnya tepat di hadapanku.
"Makasih ya bi."
Ucap Sendi kepada penjual kantin itu di barengi dengan senyuman.
"Di minum Alesha. Kalo gratis rasanya lebih enak dan nyegerin."
Aku menelan ludah. Apa Sendi ini sedang mengejekku, gak tanggung-tanggung dia membelikan aku es jeruk 5 gelas.
Merasa tertantang oleh omongan Sendi yang bilang minuman ini hasil gratisan, aku langsung meraih gelas itu dan meminumnya satu persatu.
Mereka bertiga menatapku seperti orang kehausan yang tidak menemukan air selama 7 hari 7 malam. Alhasil 5 es jerukpun habis. Aku menaruh gelas kosong terakhir ke meja.
"Alesha. Kamu enggak sakit kan?"
Tanya Lisa hati-hati dengan wajah yang masih tidak percaya aku bisa menghabiskan 5 gelas es jeruk sekaligus dalam waktu sekejap.
"Aku sehat walafiat." Jawabku kesal.
"Aku pesenin kamu makan ya?"
Tawar Sendi.
"Gak usah. Udah kenyang."
Tolakku dengan nada sedikit sewot, dan pergi meninggalkan mereka bertiga.
*****
Aku kembali ke kelas, ku letakkan pantat di kursi tempat dudukku.
Novi yang duduk di depanku membalikkan badan, menghadapku.
"Alesha, kamu kenapa?"
Tanya Novi yang melihatku sedang meringis karena kekenyangan meminum es jeruk 5 gelas.
"Gak apa-apa."
"Nuri mana." Sambungku menanyakan keberadaan Nuri.
__ADS_1
"Ke kantin." Jawab Novi.
"Oh."
"Aku boleh tanya sesuatu gak ke kamu."
Aku mendekatkan wajahku ke depan ke wajah Novi dengan kedua tangan di lipat di atas meja.
"Boleh. Apa?" Novi penasaran.
"Nuri masih suka ngomongin aku gak." Tanyaku pelan supaya gak ada orang yang mendengar kecuali Novi.
"Pernah, sesekali."
Jawab Novi pelan juga.
"Apa katanya?"
"Katanya, dia suka ngira-ngira kalo kamu udah pacaran sama Sendi."
"Itu aja?"
"Iya. Emang bener kamu udah pacaran sama Sendi?"
Tanya Novi juga mewakili pertanyaan Nuri.
"Enggak. Aku gak pacaran sama dia." Jelasku seraya memundurkan wajahku kembali supaya tidak terlalu dekat dengan wajah Novi.
"Oh. Mungkin Nuri bilang begitu karena cemburu aja kali sama kamu. Belum bisa move-on dari Sendi."
"Mungkin."
"Tapi katanya dia juga lagi deket sama cowok lain, bukan anak sekolah kita."
"Oh." Jawabku singkat.
Dari ujung pintu kelihatan Nuri akan segera masuk ke kelas.
"Tuh Nuri dateng."
Kataku sambil mengedikkan dagu ke arah datangnya Nuri.
Novi langsung membalikkan badan menghadap depan, kembali membelakangi aku.
Aku menggeleng-gelengkan kepala pelan dengan ujung bibir kananku sedikit terangkat. Tersenyum miris.
__ADS_1