
Aku membuka pintu kamarku, lalu aku masuk, ku tutup kembali. Ku lemparkan tas ke atas kasur. Aku menjatuhkan juga tubuhku ke kasur, dalam keadaan terlentang, menatap langit-langit di kamar. Aku tersenyum. Pikiranku di penuhi dengan laki-laki yang bernama Sendi. Dia benar-benar sudah mengubah kehidupanku. Dari yang gelap menjadi terang, bahkan bersinar. Dia seperti memberi aku kehidupan baru. Dia selalu memberi aku senyuman. Ucapan yang selalu dia ucapkan kepadaku, bukan cuma rayuan belaka. Dia seperti menunjukkan perasaannya yang sesungguhnya.
Senyumanku tiba-tiba terhenti, seketika aku ingat kembali tentang Nuri. Ku ambil Ponselku di dalam tas, aku telpon Nuri lewat WhatsApp.
Tuttt...tuttt...tuttt.. Memanggil. Berdering.
Tidak ada jawaban.
Aku mencoba melakukannya sekali lagi, tapi tetap saja tidak ada jawaban. Nuri tidak mengangkat telponku.
Aku menghela nafas panjang, lalu ku buang kembali. Ku letakkan ponselku di sampingku.
Aku bangun berdiri, mendekati lemari. Ku buka lemari. Aku mengambil baju ganti, karena pada itu aku memang masih dalam keadaan berseragam baru pulang sekolah. Ku ambil bajuku, ku lemparkan ke atas kasur, kemudian lemari ku tutup kembali.
Perlahan aku buka kancing bajuku, kancing pertama, selesai di lepas. Kancing kedua berhasil di buka juga. Ketika mau membuka kancing ketiga. Tiba-tiba ponselku bunyi, ada panggilan masuk. Aku tidak jadi membuka kancing bajuku yang ketiga. Aku cepat-cepat meraih ponselku. Itu pasti Nuri. Pikirku. Aku angkat telponnya tanpa ku lihat namanya terlebih dahulu.
"Hallo.. Ya ampun Nuri, sebenarnya kamu itu kenapa? Ada apa? Kenapa kamu tiba-tiba aja marah, ngejauhin aku, ngediamin aku, di telpon gak kamu angkat? Kamu kenapa sih?" Tanyaku panjang lebar luas kali tinggi, seperti rumus persegi panjang dalam matematika saja.
"Emangnya semua nama kontak di ponselmu, kamu namain Nuri?" Jawab seseorang penelpon bersuara laki-laki.
Aku lihat kembali layar ponselku.
Penelpon itu ternyata Sendi.
__ADS_1
"Eu.. Sendi. Maaf, aku pikir dari Nuri. Soalnya barusan aku habis nelpon dia, tapi gak di angkat-angkat juga." Kataku meminta maaf.
"Emang kepala kamu masih muat buat mikirin dia?" Tanyanya.
"Lagian kamu sih, ganggu aja. Nelponnya gak tau waktu. Aku lagi ganti baju, tunggu sebentar ya." Kataku sedikit kesal.
"Justru itu bagus, berarti aku nelpon di waktu yang tepat. Kalo begitu sekarang video call aja, gimana?" Canda Sendi.
"Huh.. Ternyata kamu omes juga." Ejekku
"Apaan tuh?" Tanyanya.
"Otak Mesum." Tuduhku, dengan nada sedikit tinggi.
"Yaudah sana, ganti baju. Sekalian dandan." Suruhnya.
"Ngapain?" Aku heran.
"Biar cantik."
"Oh jadi selama ini kamu anggap aku jelek?" Sunggut aku
"Cantik juga." Pujinya.
__ADS_1
"Terus?"
"Nabrak."
"Apaan?" Tanyaku
"Lagian terus-terus aja kayak tukang parkir." Ledeknya sambil tersenyum.
"Hehe.. Udah ah. Aku jadi gak jadi-jadi nih mau ganti baju." Akupun tersenyum.
"Habis ganti baju, jangan lupa langsung makan." Pesannya.
"Iya-iya." Kataku nurut.
"Cepetan."
"Iya, udah dulu ya. Bye."
"Bye." Sendi mengakhiri.
Aku matikan telponnya. Ku taruh kembali di posisi awal, sebelum Sendi meneleponku. Aku langsung ganti baju. Setelah selesai. Aku pergi ke dapur, lebih tepatnya ke meja makan. Sudah siap semuanya. Aku ambil piring, ambil nasi dan lauk pauknya. Aku mulai makan. Baru saja 2 suap.
UhukkkUhukkkk..
__ADS_1
Tiba-tiba saja aku tersedak. Aku putuskan untuk berhenti makannya saja.