
Malam haripun tiba, bulan tampak memancarkan cahayanya yang sangat indah.
Aku membaringkan tubuhku yang sangat lelah ini, aku menatap ke atas langit-langit.
"Apa aku beneran jatuh cinta ya?" Gumamku sambil senyum-senyum, bertanya-tanya pada diriku sendiri. Memikirkan semuanya, sebenarnya apa yang sudah terjadi pada diriku, pada kehidupanku.
Ponselku bunyi nada panggilan masuk, seketika menghentikan aku yang sedang memikirkan hal yang membuat aku bertanya-tanya. Ku lihat panggilan masuk dari Sendi. Tanpa pikir panjang aku langsung menjawab telponnya.
"Hallo.." Sapaku.
"Aku tahu kamu pasti lagi mikirin aku, makanya aku telpon." Suara dari sebrang sana dengan percaya dirinya bilang gitu.
"Tenyata kamu itu sok tahu banget ya." Kataku.
"Aku bukannya sok tahu, aku tahu segalanya tentang kamu Alesha. Aku juga tau sekarang kamu udah jatuh cinta sama aku kan? Iya kan?" Pertanyaan Sendi seperti sedang menjebakku.
Aku cuma bisa diam, ingin rasanya membuka mulutku tapi aku sulit untuk bicara, seperti orang gagap saja.
"A.. Apaan sih." Aku mulai salah tingkah.
"Tenang saja, gak usah panik kayak gitu. Tidak usah terburu-buru. Kita nikmatin aja dulu masa-masa pendekatan kita." Jawab Sendi dengan santainya.
"Kamu mulai ngaco deh ngomongnya, salah minum obat ya??" Ledek aku bercanda.
"Hehe.. Alesha." Sendi tersenyum. Lalu memanggil namaku dengan nada serius.
"Iya?" Tanyaku juga serius.
__ADS_1
"Aku suka sama kamu." Sendi mulai berbicara serius kepadaku.
Aku berdiam sejenak, mencerna maksud yang di katakannya barusan. Apa aku tidak salah dengar? Apakah ini nyata? Bukan mimpikah? Kenapa dia to the point banget sih?
"Terus??" Tanyaku serius, kembali membuka suara setelah lama diam.
"Tapi aku lagi nunggu waktu yang tepat untuk bilang itu ke kamu". Katanya.
Aku jadi bingung. Terus yang dia bilang itu apa dong?
"Barusan kan udah bilang??" Tanyaku heran.
"Barusan latihan dulu aja.. Hehe" Jawab Sendi lagi-lagi bercanda.
"Oh. Aku pikir beneran."
Aku menghela berat. Merasa lega, ternyata barusan Sendi bukan lagi nembak aku. Haha ngarep. Kenapa aku jadi seperti orang yang sedang berharap? Ah sudahlah, lanjut lagi.
"Sendiiiii.. Ngeselin banget tau gak?" Aku mendesis pada Sendi.
"Hahaha.." Dia malah ketawa.
"Jangan ngambek gitu Alesha, tau gak kenapa?" Tanya Sendi.
"Kenapa?" Tanyaku penasaran.
"Aku jadi makin suka sama kamu." Sendi kembali seperti orang serius, lalu senyum-senyum lagi.
__ADS_1
"Ih Sendi.. Udah ah. Kamu belum ngantuk?" Tanyaku mengalihkan topik pembicaraan.
"Ngantuknya belum, tapi mimpinya udah. Mimpi jadi pacar kamu."
"Kamu tidur sana.. Udah malem, besok sekolah." Suruhku.
"Makasih ya." Ucap Sendi
"Buat apa?" Aku makin keheranan.
"Udah ngasih perhatian." Sendi kedengarannya kayak lagi senang.
"Ya udah kamu tidur ya." Suruh aku lagi.
"Kamu juga Alesha. Sampai ketemu di sekolah besok ya." Kata Sendi.
"Iya." Jawabku singkat.
"Hati-hati" Kata Sendi.
"Kenapa?" Tanyaku heran lagi.
"Nanti kamu mimpiin aku." Sendi kembali menggombaliku.
"Biarin. Sekali-kali kamu mampir di mimpi aku, siapa tau betah." Kataku sambil menggerutu.
"Haha.. Iya, udah dulu ya.." Sendi mengakhiri orbolan telpon kita.
__ADS_1
"Iya." Jawabku.
Kemudian aku matikan telponnya, ku taruh ponselku seperti biasa, di sampingku. Aku seperti menemukan kehidupan baru, kehidupan yang tidak pernah aku temui sebelumnya. Aku belum pernah berada di fase seperti ini, menjadi orang gila baru yang terus senyum-senyum sendiri. Setelah itu aku peluk guling, ku peluk guling itu dengan penuh perasaan. Seolah-olah guling itu adalah orang yang berhasil memberi kebahagian untukku. Kebahagian yang sama sekali belum pernah aku rasakan. Aku menghela nafas, ku tarik selimutku, lalu ku pejamkan mataku sambil tersenyum. Berharap malam ini Sendi yang menjadi peran utama dalam mimpiku.