
Aku dan Lisa berjalan kembali ke kantin. Terlihat Sendi dan Ervan masih di sana menunggu kita. Masing-masing dari mereka sedang asik memainkan ponselnya. Kemudian aku dan Lisa duduk kembali di tempat duduk yang kita duduki tadi.
Ketika Sendi sadar aku sudah kembali, dia langsung menghentikan aktivitas memainkan ponselnya. Lalu ia masukkan lagi ke saku baju seragamnya.
"Kok lama?" Tanya Sendi.
"Perasaan kamu aja kali yang lama, orang sebentar gitu."
Sendi hanya tersenyum menanggapi jawabanku.
Tiba-tiba Fachmi datang dan berdiri di samping Lisa.
"Ikut aku yuk Lis." Ajak Fachmi pada Lisa sembari menarik lengan Lisa dengan pelan.
"Kemana?" Tanya Lisa.
"Udah, ikut aja."
Kemudian Lisa berdiri dari kursinya.
"Aku pergi dulu ya." Pamit Lisa pada kita bertiga yang tidak tahu mau Fachmi bawa kemana dia.
Kemudian Fachmi pergi berjalan menarik lengan Lisa pelan. Lisa menepis tangan Fachmi pelan ketika mereka sudah berjalan jauh dari kita. Bisa jadi Lisa merasa risih, karena setahu aku Lisa kan gak suka sama Fachmi.
Sendi berdiri dari kursinya juga.
"Kamu mau aku gendong?" Tanya Sendi ke aku secara tiba-tiba.
"Buat apa? Aku kan masih bisa jalan kali." Tanya dan Jawabku.
"Kalau begitu kamu ikut aku." Ajak Sendi.
"Ke?"
"Ikutin aja."
"Terus gue gimana?" Sahut Ervan.
"Mau jadi nyamuk?" Tanya Sendi pada Ervan.
__ADS_1
"Gak lah."
"Ya sudah, lo diam aja di sini."
Aku berdiri dari kursiku, dan mulai pergi melangkahkan kaki mengikuti kemana Sendi akan membawaku. Aku berjalan dengan mensejajarkan diriku dengan Sendi.
Ternyata Sendi membawaku ke taman, yang masih berada di lingkungan Sekolah. Gak mungkin kan ya ke Taman Mini Indonesia Indah, hehe. Tidak banyak siswa di sana, hanya ada beberapa. Karena kebanyakan siswa lebih memburu kantin daripada taman.
Sendi kemudian duduk di sebuah bangku yang ada di sana. Yang sengaja di siapkan oleh pihak sekolah. Sementara aku masih berdiri saja, masih bingung ngapain Sendi ngajak aku ke taman segala.
"Bisulan?" Tanya Sendi jahil.
"Enak aja." Desis aku.
"Duduk." Sendi menepuk bangku yang ia duduki di sebelahnya, sebuah bangku yang hanya mampu menampung 2 orang saja.
Kemudian aku taruh pantatku yang lumayan bahenol ini. Duduk di sebelah Sendi yang jaraknya hanya beberapa senti saja.
Sendi merentangkan sebelah tangannya ke senderan bangku itu. Wajahnya ia putar 90 derajat ke arahku. Ia menatapku yang tidak lupa juga di barengi senyuman.
"Ngapain kamu ngelihatin aku kayak gitu?" Tanyaku yang sedikit jadi salah tingkah.
Aku jadi lebih salah tingkah lagi.
"Jadi, kamu ngajak aku ke sini cuma mau duduk aja." Aku mengalihkan pembicaraan.
"Enggak."
"Terus?"
Sendi lebih mendekatkan dirinya dengan aku.
"Ada sesuatu yang mau aku omongin sama kamu."
"Penting?"
"Lebih dari itu Alesha."
Kemudian Sendi menyingraykan rambutku dan di selapkan ke telingaku. Lalu ia mendekatkan bibirnya ke telingku.
__ADS_1
Deeggg
Seketika jantungku berdetak lebih kencang dari biasanya. Tapi rotasi bumi rasanya seperti berhenti seketika. Kira-kira apa ya yang mau Sendi omongin sama aku? Apa dia mau nembak aku? Ah, kenapa jadi ke geeran kayak gini sih. Ngapain coba aku punya pikiran seperti itu. Emangnya Sendi beneran Suka sama aku?
"Alesha." Panggilnya lirih, terasa sangat geli di telingaku. Aku meneguk ludahku, bersiap-siap untuk mendengarkan apa yang akan Sendi bicarakan selanjutnya.
"Aku berharap setelah ini kamu tidak marah sama aku." Lanjutnya.
Aku masih menunggu omongan apa yang akan dia samapaikan padaku.
"Aku cuma mau bilang. Sebaiknya kamu pergi."
Aku sontak kaget. Maksudnya apa dia ngusir aku. Aku memandangnya dengan mengerutkan dahi.
"Maksud kamu." Tanyaku
"Ya karena kamu lupa, habis dari toilet rok kamu gak kamu resleting lagi. Makanya aku bawa kamu ke sini. Kasih tahu kamu empat mata di tempat yang lumayan sepi, biar kamu gak tersinggung."
"HAAAHHHHH"
Aku sangat kaget, panik, dan malu. Mataku terbuka sempurna, dan mulutku ku biarkan terbuka lebar. Aku langsung gelagapan meraih resleting rokku. Dan menaikkannya kembali.
Sendi yang melihat aku kepanikan malah mentertawai aku.
"Iiihhh... Kenapa gak bilang dari tadi sih." Desis aku.
"Kan harus nyari situasi dan kondisi yang pas."
"Aku pikir kamu mau bilang..." Aku memberhentikan ucapanku. Hampir aja keceplosan.
"Apa?"
Aku melipat kedua bibirku ke dalam, membekam mulutku. Kemudian menggeleng pelan sebagai jawaban pertanyaan Sendi.
"Pasti kamu mikir kalau aku mau nembak kamu kan? Iya kan?"
Aku mendesis lagi dan menyubit perut Sendi.
"Iihh.. Sendi apaan sih. Enggak kok."
__ADS_1
"Aawww". Teriak Sendi yang merasakan antara sakit dan geli.