
Aku keluar dari kursiku, dan mencoba mengejar langkah Fachmi.
"Alesha." Teriak Sendi. Tapi aku tidak menghiraukan panggilan Sendi.
Karena bagi aku saat ini, mengejar Fachmi lebih penting dari panggilan Sendi. Aku tidak mau membuat selisih faham di antara pertemanan.
Aku melihat Fachmi duduk di bangku taman. Kemudian aku menghampirinya. Dan duduk di sebelahnya. Sepertinya Fachmi tidak perduli dengan kehadiranku.
"Fach, gue minta maaf ya. Tadi gue cuma.."
"Udahlah Alesha. Gak usah di bahas lagi." Fachmi memotong penjelasanku.
"Maksud kamu?"
Fachmi memutar kepalanya 90 derajat ke arahku.
"Percuma." Ucapnya. Kemudian ia menatap lagi ke depan. Tatapannya kosong.
"Maaf Fach, tadi gue cuma bercanda. Gue gak ada maksud apa-apa." Aku berusaha meminta maaf dan menjelaskan pada Fachmi.
"Kalau iya pun, gue gak apa-apa Al. Kayaknya gue mau berhenti sampai di sini aja." Kata Fachmi pasrah.
__ADS_1
"Fach, kalau lo beneran suka sama Lisa. Kenapa gak coba lo kejar terus dia. Katanya lo janji sama gue bakalan bikin Lisa suka sama lo."
"Gue gak mau maksain Lisa, Al. Kalau gue gak bisa bahagiain dia. Setidaknya gue gak nyakitin dia."
Aku menatap Fachmi kasian. Ini bukan Fachmi yang selalu berjuang dapetin Lisa. Fachmi yang sedang berada di sampingku sudah berubah menjadi Fachmi yang putus asa begitu saja. Aku mengusap bahu Fachmi.
"Sabar ya."
Fachmi hanya menganggukan kepalanya pelan.
*****
Setelah itu aku kembali ke kantin. Sendi, Ervan dan Lisa masih ada di sana. Ketika aku sampai di sana dan duduk di tempat dudukku tadi, tiba-tiba Sendi pergi meninggalkan wajah yang dingin. Aku tidak tahu kenapa dengan Sendi. Apakah dia marah dan cemburu ketika aku tadi mengejar Fachmi tanpa menghiraukan panggilan darinya.
"Mendingan sekarang kamu susul dia. tanya langsung sama dia." usul Ervan.
Aku langsung beranjak lagi untuk mengejar langkah Sendi yang tertinggal semakin jauh.
Aku berteriak, "Sendi, tunggu."
Tapi Sendi tidak menoleh, padahal jelas-jelas dia pasti mendengar teriakan aku.
__ADS_1
Aku terus mengejar langkah Sendi setengah lari yang arahnya menuju kelas. Sendi duduk di bangkunya dan mengeluarkan ponsel dari sakunya. Aku duduk juga di samping dia. Tapi dia seolah tidak perduli dengan kehadiranku. Ia terus saja sibuk memainkan ponsel.
"Sendi. Aku tadi cuma ngejelasin sama Fachmi, aku cuma iseng sama dia. Udah, itu aja." Aku berusaha menjelaskan pada Sendi, aku takut dia marah.
Sendi tidak menggubris, ia masih sibuk memainkan ponselnya.
"Send, kamu marah sama aku?" tanyaku dengan menatap wajahnya.
"Gak." jawabnya singkat.
"Terus?"
Sendi tidak segera menjawab pertanyaanku, dia memasukkan ponselnya terlebih dahulu ke dalam sakunya. Kemudian menatapku.
"Aku pernah bilang sama kamu, aku gak bisa marah kamu Alesha."
Aku mengangkat kedua sudut bibirku membentuk sebuah senyuman. Syukurlah jika dia tidak marah.
"Terus kenapa kamu bersikap seolah-olah kamu marah?"
Sendi tersenyum, "Udah, jangan di bahas lagi."
__ADS_1
Sendi mengacak-acak pangkal rambutku.
Sendi orangnya memang susah untuk di tebak. Kadang ia bersikap seolah-olah marah, padahal tidak. Kadang dia menyebalkan. Kadang membuat aku senang, membuat aku merasa kalau dia menyukaiku. Tapi dia tidak pernah menyatakan perasaannya mengenai hal itu. Semoga dia tidak seperti laki-laki pada umumnya, membuat wanita terbang lalu menjatuhkannya. Semoga Sendi tidak memberiku harapan yang terlalu tinggi juga, yang bisa membuat aku jatuh kapanpun dia mau melakukannya.