Kisah Kekasih Di Sekolah

Kisah Kekasih Di Sekolah
Misteri Pengendara


__ADS_3

Sampai juga di depan pintu pagar rumahku. Aku membuka pintu pagar sederhana itu perlahan. Tingginya kira-kira 150 cm. Aku duduk di kursi depan rumah, dan membuka kedua sepatuku. Ku taruh di rak sepatu yang tidak jauh dari kursi yang aku duduki.


Pikiranku masih mengarah pada seorang laki-laki yang membuatku bertanya-tanya seperti ini. Aku masuk ke dalam rumah, dan membuka pintu ruangan yang menjadi tempat tersegalanya untukku. Ya itu kamarku. Ku gantungkan tasku di dinding.


Aku membantingkan tubuhku yang lelah dalam keadaan terlentang. Mataku menatap ke langit-langit di kamarku. Aku menghela berat dengan mata yang ku pejamkan erat-erat. Setelah itu mataku ku biarkan terbuka kembali.


Aku meraih ponselku yang masih ada di saku seragamku. Ku tatap layar hp yang masih dalam keadaan mati. Aku menggenggam erat hpku. Aku membuka kunci layar. Aku mencari kontak seseorang, lalu ku telepon.


Tuuuttt..Tuuttt...Tutttt.. Berkali-kali tidak ada jawaban. Aku mencoba sekali lagi.


Tuutttt...Tuutttt..Tutttt.. Masih tidak ada jawaban juga.


Aku membuang ponselku ke sembarang arah. Tidak lama kemudian.


DrrtttttDrrttt..


Suara getar itu berasal dari ponselku. Tanpa pikir panjang aku ambil kembali ponselku dan langsung mengangkat teleponnya.


"Hallo." Suara laki-laki dari sebrang sana.


"Hallo. Sendi." Kataku senang, akhirnya dia mau menelepon balik juga.


"Apa?"


"Kamu hari ini kenapa?" Tanyaku ragu yang sebenarnya sedikit gengsi.


"Kenapa apanya?"


Aku mengerutkan dahi. Nih orang di tanya malah nanya balik, pikirku.


"Em". Aku memainkan jariku.


"Tadi kamu berdiri dekat pintu sejak kapan?"


"Gak lama sebelum Fachmi pergi."


"Oh. Terus kamu kenapa keluar lagi? gak lanjut masuk."


"Tadinya aku mau minta maaf sama kamu."


"Buat?"


"Aku pikir kamu tadi marah sama aku waktu di kantin, terus aku mau minta maaf. Tapi tadi di sebelahmu ada cowok lain. Aku gak enak kalau harus mengganggu. Jadi memilih nunggu aja." Jelas Sendi.


"Fachmi cuma minta nomer hp Lisa. Terus, kenapa waktu Fachmi pergi, kamu jadi pergi juga. Kenapa gak nyamperin aku?"


"Ngarep ya?"

__ADS_1


"Enggak. Kan kamu yang bilang." Jawabku sedikit salah tingkah.


"Terus kamu ngapain keluar lagi?"


"Tadi kebelet. Gak kuat, udah di ujung. Makanya aku keluar lagi buat ke toilet."


"Ohhh.." Kedua sudut bibirku terangkat, membentuk senyuman penuh rasa senang dan lega.


"Kamu kenapa? Kayaknya lagi senang."


"Enggak kok. Aku pikir kamu tadi...."


"Cemburu?"


Sendi memotong omonganku. Dia malah ketawa.


"Alesha. Segitu khawatirnya kamu sampai kamu melakukan hal yang tidak pernah lakukan sebelumnya."


"Aku akan melakukan hal yang tidak bisa aku lakukan, agar aku bisa belajar melakukanya."


Keadaan menjadi hening seketika, terjadi di antara keduanya dengan pernyataan barusan.


"Pasti kamu juga mau nanyain kenapa tadi aku pulang buru-buru dan barusan gak angkat telepon dari kamu kan? Iya kan?"


"Terus? Kenapa?"


"Waktu aku di toilet, nyokap nelepon. Harus pulang lebih awal. Dia nyuruh aku nganterin pesenan orang. Dan barusan, aku sengaja gak angkat telpon kamu. Cuma mau ngetes aja. Maaf ya udah buat kamu khawatir."


"Tapi aku sedih juga Alesha."


"Kenapa?"


"Ngelewatin telepon perdana dari kamu gitu aja."


Keadaan hening kembali, keduanya tersenyum-senyum di tempatnya masing masing.


"Kamu udah makan?" Tanya Sendi memghentikan keheningan.


"Belum."


"Sekarang makan dulu sana, jangan lupa minum biar gak modus minta traktiran lagi."


"Hehe iya, kamu juga."


"Yaudah, kamu tutup telponnya."


"Iya, bye."

__ADS_1


"Bye."


Aku genggam erat kembali ponselku. Kedua sudut bibirku terangkat membentuk senyuman lagi. Rasanya ingin berteriak, menumpahkan rasa senang. Tapi ku urungkan niatku, takut mengganggu aktivitas tetanggaku.


*****


Aku yang sudah mengganti pakaian seragam sekolah, pergi menuju ruang makan. Di sana terdapat sosok wanita usia sekitar 22 tahunan. Dia Kakakku. Namanya Anitha. Dia sedang sibuk melahap makanannya. Aku menarik kursi makan dekatnya. Lalu aku duduk. Mengambil satu buah piring, sendok, nasi dan lauk pauk.


Aku mulai menyantap makananku. Ada 2 orang di meja makan, tapi tidak saling sapa. Aku masih merasakan betapa senangnya telponan tadi bersama Sendi. Sampai senyuman itu tidak lepas dari bibirku, bahkan ketika makan.


Kakakku sesekali melihat tingkahku yang tidak tahu kenapa senyum ini tidak bisa ku hilangkan.


"Kesambet apa kamu senyum-senyum gak jelas?"


Aku hanya menjawab pertanyaannya dengan senyuman. Kakakku menggidikkan bahu dengan desisannya. Aneh melihat tingkah Adiknya yang tidak seperti biasanya.


Akupun selesai makan, mengambil segelas air putih untuk ku minum. Ku teguk sampai habis. Kakakku masih belum selesai juga.


Aku beranjak dari kursi makan. Melewati Ibuku yang sedang membawa lauk pauk baru menuju meja makan.


"Hai mamahku yang cantik." Sapaku dengan penuh senyuman ketika berpapasan.


"Hai juga anakku sayang." Sapa balik Ibuku yang terus berjalan menuju meja makan.


"Itu Alesha kenapa Nit, tumben gak kayak biasanya." Tanya Ibu pada Kakak sambil menaruh piring berisi lauk baru.


"Gak tahu, dari tadi dia makan sampai selesai, dia gak berhenti senyum-senyum sendiri." Jawab Kakak tanpa menoleh ke arah Ibu, dia fokus pada makanannya.


Ibuku menengok ke belakang ke arah tadi kita berpapasan, lalu Ibu tersenyum. Sementara aku sudah tidak ada lagi di sana. Kembali ke tempat tersegalanya bagiku.


*****


Hari sudah berganti, kembali menjadi pagi hari. Waktu dimana aku harus berangkat lagi ke sekolah.


Seperti biasanya, aku dan Lisa berjalan kaki untuk sampai ke sekolah. Untuk menghilangkan rasa cape, di perjalanan kami berbincang-bincang.


"Al, masa tadi malam aku di telpon sama Fachmi." Lisa memulai percakapan.


"Terus?"


"Terus aku tanya, dapet nomer dari mana?"


"Terus?"


"Dia bilang, dapet dari ale-ale."


Aku ketawa mendengar pengakuan Fachmi kata Lisa barusan. Sementara Lisa mengerucutkan bibirnya. Aku sempat bilang ke Fachmi, jangan bilang ke Lisa kalau aku yang sudah memberikan nomernya kepadanya.

__ADS_1


Tiba-tiba saja terdengar suara motor dari belakang yang pengendaranya seperti sengaja mengendarai motornya perlahan. Lalu dia berhenti.


"Ayo naik." Kata sang pengendara motor itu.


__ADS_2