Kisah Kekasih Di Sekolah

Kisah Kekasih Di Sekolah
Labrak kembali


__ADS_3

Keesokan pagi, aku sudah siap untuk ke sekolah, berseragam rapi. Aku sudah berada di halaman rumah. Aku membuka pintu gerbangku, kemudian ku tutup dan ku kunci kembali. Setelah selesai menutup pintu gerbang, aku membalikan tubuhku menghadap jalan raya. Tiba-tiba saja sudah ada seorang laki-laki yang yang sudah menaiki motornya, dia sudah ada di sana, tanpa terdengar suara motor sebelumnya.


"Ayo." Ajak seorang pria sang pengendara motor.


"Sejak kapan di sini?" Tanyaku berdiri di sampingnya.


"30 menit yang lalu. Aku nungguin kamu di sana." Sendi mengedikkan dagunya ke arah belakang.


"Kenapa gak bilang mau jemput?"


"Kalau bilang dulu kurang romantis."


Kedua sudut bibirku terangkat, membentuk senyuman, mendengar apa yang ia bilang barusan.


Aku sedikit membungkukan tubuhku, wajahku sedikit aku dekatkan ke wajahnya. Kedua tanganku memegangi tali tas gendongku.


"Emangnya pacaran, harus romantis segala."


"Ini baru prosesnya." Jawabnya.


"Ayo naik Alesha." Suruhnya lagi.


Aku mengembalikan tubuhku pada posisi semula.


"Iya." Jawabku.


Kemudian aku menaiki motornya.


"Gak mau meluk lagi?" Tawarnya.


"Enggak dulu deh kayaknya." Aku menolak.


"Kenapa bisa begitu?"


"Sekarang kan menuju sekolah. Gak enak di lihatin orang."


"Berarti tar pulang sekolah ya peluk-pelukannya, biar enak."


"Ih.. Apaansih." Aku menyubit pinggang Sendi.


"Awww." Teriak Sendi antara sakit dan geli.


"Ini jadi jalan gak bang?"


"Jadi neng."


Sendi menyalakan mesin motornya, kemudian menjalankannya.


*****


Di tengah-tengah perjalanan, dari kejauhan aku melihat Lisa berjalan ke sekolah sendirian. Ketika Sendi membawa motornya melewati Lisa, aku berpura-pura tidak melihatnya. Aku tengokan kepalaku ke sebelah kanan.


Ketika motor yang aku dan Sendi melewati Lisa, pandangan Lisa tidak terlepas dari punggungku yang semakin menjauh dan hilang dari pandangannya.


Sampai di sekolah aku turun dari motor Sendi. Tiba-tiba ponsel Sendi berdering. Dia langsung merogoh ponselnya di saku baju seragamnya.


"Halo."


"Oh iya siap." Hanya itu yang di ucapkan Sendi kepada sang penelepon.


"Barusan Ervan nelpon minta di jemput juga. Kamu duluan ke kelas gak apa-apa kan?"


"Oh iya gak apa-apa."


Kemudian Sendi kembali menghidupkan motornya dan menjalankannya kembali. Aku mulai melangkahkan kaki meninggalkan parkiran menuju kelas. Tiba di kelas, seketika semua pasang mata teman kelasku tertuju dengan kedatanganku. Aku bingung, kenapa mereka semua melihatku seperti itu.


Langkahku melambat, melihat semua temanku melihatku dan sepertinya membicarakan aku, terlihat dari mereka ada bisik-bisik. Aku sampai di tempat dudukku. Aku langsung duduk dan meletakan tasku di atas meja. Di depanku sudah ada Novi. Dia membalikan tubuhnya menghadap belakang menghadapku.

__ADS_1


"Alesha. Semua teman sekelas sudah tahu kejadian antara kamu dan Mika kemarin, yang membuat kamu dan Sendi tidak masuk pelajaran Bu Laras." Jelas Novi.


"Maksudnya?"


"Mika menyebarkan rumor bahwa kamu selalu merebut gebetan teman-teman kamu." Jelas Novi lagi.


"Hah?" Aku sontak kaget dengan apa yang Novi jelaskan barusan.


Kedua tanganku mengepal, menahan semua amarahku pada Mika. Darahku mulai naik, nafasku mulai tidak beraturan. Ingin rasanya saat ini juga aku robek-robek mulut Mika yang keterlaluan itu. Tapi aku pikir, kalo sekarang masih di sekolah, takutnya seperti kejadian kemarin, aku jadi masuk ruang BP. Amarahku ditunda terlebih dahulu. Aku mencoba mengontrol emosi yang mulai menggejolak. Aku tidak mau menyesal akhirnya.


Lisa datang dan duduk di sebelahku. Dia terlihat canggung karena merasa bersalah terhadapku. Aku membelalakkan mataku ke arah lain.


"Alesha." Panggilnya pelan.


Aku tidak menjawab dan tidak melihatnya.


"Alesha. Aku mau minta maaf sama kamu. Aku tahu aku salah. Tapi aku juga gak tahu kalau Mika bakalan ngomong itu semua sama kamu. Aku gak pernah minta sama dia untuk ngomongin itu semua. Maaf ya Alesha, kalau aku juga punya perasaan sama Sendi. Tapi aku janji sama kamu. Perasaan ini aku stop sampai sekarang. Aku gak mau harus ribut sama teman gara-gara masalah satu cowok. Aku mengalah demi kamu Alesha. Lagian, Sendi juga kan sukanya ke kamu, bukan ke aku. Aku mohon, maafin aku ya Al. Please." Ucap Lisa meminta maaf dan menelungkupkan tangannya.


Aku menoleh ke Lisa.


"Yaudah. Lain kali kalo mau numpahin curahan hati yang sifatnya rahasia, pastiin dulu penampungnya. Bakalan bocor atau enggak." Jawabku, lalu beranjak pergi dari kursi tempat dudukku.


Kemudian aku pergi menuju kantin. Aku memesan es jeruk terlebih dahulu, setelah itu duduk sendiri. Tidak lama kemudian es jerukpun jadi dan di sodorkan padaku.


Aku langsung menyedot es jerukku dan ritual seperti biasa, yaitu mengaduk-adukannya menggunakan sedotan.


"Lagi ngapain di sini." Tanya seorang laki-laki yang tiba-tiba datang dari belakangku.


"Minum." Jawabku datar.


Kemudian laki-laki itu duduk di hadapanku dan melipatkan kedua tangannya di meja.


"Alesha."


"Hm." Deham aku.


Aku melihat wajah laki-laki yang sedang berada di depanku.


"Bantu? Bantu apa?" Tanyaku bingung.


"Gue mau berusaha bikin Lisa suka sama gue. Biar dia cepat move on dari Sendi. Dengan begitu hubungan lo sama Sendi bisa tenang." Ucap laki-laki itu yang tidak lain dan tidak bukan adalah seorang Fachmi.


"Gak usah." Tolakku.


"Kenapa?"


"Urusan lo bikin Lisa suka sama lo itu urusan perasaan lo, jadi gak ada hubungannya sama gue dan Sendi."


"Jadi?"


"Jadi mendingan sekarang lo pergi, gue lagi mau sendiri. Gue bukan ngusir, ini cuma perintah."


"Yeh, sama aja kali." Protes Fachmi.


Kemudian Fachmi berdiri dari kursinya, kemudian pergi meninggalkan aku sendiri. Aku menundukan kepala dengan meminum es jerukku.


Tiba-tiba seorang laki-laki duduk lagi di hadapanku.


"Gue bilang lo per..." Ketika aku mencoba mengusir lagi seorang laki-laki, aku sontak kaget, karena ketika aku melihat wajahnya itu bukan Fachmi. Melainkan Sendi.


"Kenapa?" Tanya Sendi.


"Aku pikir tadi.."


"Siapa?" Tanyanya lagi.


"Bukan siapa-siapa." Aku menggeleng pelan.

__ADS_1


"Kamu masih mikirin kejadian kemarin?"


Aku tidak menjawab pertanyaan Sendi.


"Kan sudah aku bilang, gak usah kamu pikirin. Kamu gak boleh banyak pikiran Alesha."


Aku menghela berat.


"Aku berterima kasih pada Tuhan, karena masih memberi aku banyak pikiran. Daripada orang gak pernah punya pikiran."


"Jadi?"


"Jadi sekarang mending kita masuk kelas, bentar lagi masuk pelajaran pertama." Ajak aku.


"Habisin dulu minumnya." Suruh Sendi untuk menghabiskan es jerukku yang tinggal sedikit lagi.


"Sudah kenyang."


"Es jeruk itu di minum, bukan di makan, jadi gak bikin kenyang."


Aku hanya tersenyum, kemudian aku dan Sendi berdiri dari kursi. Kita pergi menuju kelas yang sebentar lagi pelajaran pertama akan segera di mulai.


******


Lonceng tanda pulang sudah bunyi. Itu artinya jam pelajaran sudah berakhir. Guru mata pelajaran terakhir yang mengajar di kelasku baru saja keluar, pergi meninggalkan kelas.


Aku buru-buru memasukkan alat tulisku ke dalam kelas ketika semua teman-temanku satu persatu mulai pergi meninggalkan kelas juga. Terutama Mika yang baru saja keluar dari pintu kelasku.


Aku langsung menggendong tasku ketika semuanya sudah selesai ku masukkan ke dalam tas. Aku melangkahkan kaki dengan terburu-buru. Ketika aku melewati meja Sendi yang dia masih di sana memasukkan alat tulisnya, dia memanggilku.


"Alesha."


Mau tidak mau aku harus memberhentikan langkahku.


"Iya."


"Aku antar kamu pulang ya." Tawar Sendi.


"Gak usah. Aku jalan kaki saja. Ada yang mau aku beli di toko nanti di jalan. Aku duluan ya." Aku segera melanjutkan langkahku dengan cepat untuk mengejar seseorang.


Sendi yang melihatku berjalan dengan terburu-buru merasa aneh. Dia merasakan ada ada sesuatu yang aku sembunyikan dari dia. Dia menatap kepergianku sampai hilang dari pandangan.


******


Langkahku semakin cepat ketika mataku melihat sosok perempuan sudah berada di parkiran, orang yang saat ini aku kejar.


Ketika aku sudah dekat dengannya, aku langsung menarik lengannya. Aku membawanya keluar dari pintu gerbang sekolah. Aku terus menarik lengan milik sosok perempuan itu agak jauh dari pintu gerbang sekolah.


Kemudian dia melepaskan lengannya dariku. Kita berdiri berhadapan.


"Ada apa Alesha?" Tanya sosok perempuan ity yang ternyada adalah Mika.


"Gak usah so polos deh lo, seakan-akan lo gak tahu apa-apa."


"Maksud kamu apa? Aku beneran gak ngerti." Tanyanya lagi.


Telunjukku ku tunjukkan tepat di wajahnya.


"Sekali lagi lo nyebarin rumor yang gak jelas, apalagi nama gue yang lo jadiin tokoh utamanya. Gue bisa lebih nekad daripada yang lo bayangin. Ngerti?"


Aku menurunkan telunjukku. Mika menundukkan wajahnya, lalu menganggukan kepalanya dengan ketakutan.


Kemudian aku pergi meninggalkan Mika sendiri di sana.


Ya itulah aslinya aku. Alesha Rhiana.


Aku juga seorang manusia biasa.

__ADS_1


Aku bukan orang baik, bukan juga orang jahat. Semua tergantung bagaimana cara kalian memperlakukan aku. Kalian baik, aku bisa lebih baik. Tapi kalau kalian jahat, aku juga bisa lebih jahat dari itu.


__ADS_2