
Setelah menjenguk Ervan, kita kembali ke sekeloh. Untungnya kita bertiga tidak telat. Karena jika kita lewat semenit saja, sudah pasti telat untuk memasuki jam pelajaran berikutnya. Semua teman di kelas sudah duduk rapi menunggu guru yang akan mengajar di jam pelajaran berikutnya.
Hari ini Bu Dewi yang bagian mengajar di kelas kita. Ia masuk hanya mengabsen kehadiran saja. Kemudian pergi karena ada urusan yang mendadak. Jadi kelas kita memulai pesta ketika mendapat jam kosong.
******
Dua hari kemudian. Hari dimana Ervan kembali masuk sekolah. Seperti biasa, ia berangkat bersama Sendi. Kemudian aku dan Lisa yang sedang berdiri di depan pintu menyambut hangat kembalinya Ervan masuk sekolah.
"Alhamdulillaah, kamu sudah sembuh Van.?" Tanyaku.
"Kalau dia masih sakit, dia sekarang gak akan berdiri di sini Alesha." Sahut Sendi.
"Sendiiii." Desis Alesha.
Sendi dan Ervan tersenyum.
"Kita ke kantin yuk." Ajak Lisa.
"Boleh tuh." Jawab Sendi.
"Tapi kita taruh tas dulu." Ucap Ervan.
Kemudian Sendi dan Ervan masuk ke kelas untuk menaruh tasnya. Sementara aku dan Lisa masih berdiri di dekat pintu, menunggu mereka. Tiba-tiba Fachmi muncul, entah dari mana asal ketadangannya.
"Pagi, Sa." Sapa Fahmi pada Lisa saja.
Padahal jelas-jelas aku saja ada di sana. Tapi, tidak apa-apalah. Toh, gak penting juga dia buatku. Hehe.
Lisa hanya menanggapinya dengan tersenyum, tidak menyapa balik Fachmi.
"Ikut aku yuk Sa." Ajak Fachmi, tangannya seketika meraih lengan Lisa.
__ADS_1
Lisa menggelengkan kepala sebagai penolakan. Ia tidak mau merasakan hal seperti sebelumnya. Seperti orang dalam tahanan. Terpenjara oleh keinginan dan keegoisan Fachmi untuk selalu menemaninya tanpa boleh pergi selangkahpun.
"Ak, Aku mau ke kantin bareng Alesha." Jawab Lisa terbata-bata.
Kemudian Fachmi melirik padaku. Lalu melepaskan lengan Lisa yang tadinya ia mau bawa pergi.
Sendi dan Ervan kembali setelah menaruh tasnya.
"Yuk." Ajak Sendi untuk segera pergi.
Aku, Lisa, Ervan dan Sendi melangkahkan kaki menuju kantin. Sementara Fachmi masih mematung di tempat.
Bareng Sendi juga, pokoknya gue harus ikut. Gumam Fachmi.
Fachmi segera melangkahkan kaki, mengejar langkah kita.
Kita berempat duduk di tempat biasa. Melihat Fachmi yang sedang berjalan cepat menuju arah kita. Fachmi menarik sebuah kursi plastik dan menempatkannya di dekat Lisa, kemudian ia dudukki.
"Silahkan." Jawab Ervan yang duduk di dekat Fachmi juga. Karena Fachmi duduk di antara Lisa dan Ervan yang berhadapan. Sementara aku berhadapan dengan Sendi pastinya.
"Kamu mau pesan apa Sa? Biar aku yang pesenin." Tawar Fachmi sosoan perhatian sama Lisa.
"Gak usah." Tolak Lisa.
"Kenapa?"
"Dengan penjual kantin melihat kita berempat duduk di sini aja mereka sudah tahu apa yang akan mereka lakukan. Kita tinggal duduk dan nunggu aja di sini." Aku menjawab pertanyaan Fachmi.
Tidak lama kemudian, penjual di kantin itu datang membawa nampan berisikan macam-macam. Masih ingat kan apa saja pesanan mereka berempat? Ya iyalah seperti biasa. Mie rebus berpadu dengan telur dan segelas es teh manis untuk Sendi. Sebungkus roti dan sebotol air mineral untuk Ervan. Segelas es jeruk untukku. Dan semangkuk mie rebus dengan segelas es jeruk untuk Lisa.
Penjual di kantin itu langsung menyodorkan pesanan kita tanpa tertukar, karena ia juga sudah sangat hafal dengan pesanan langganannya.
__ADS_1
"Tuh kan aku bilang juga apa. Kita tuh cuma tinggal duduk aja dan pesanan datang mendarat dengan utuh." Ucapku pada Fachmi.
"Bi, saya pesan mie rebus sama es jeruk juga ya." Pinta Fachmi pada penjual kantin yang bersiap membalikkan tubuh untuk kembali. Kemudian permintaan Fachmi di angguki oleh penjual kantin itu dengan cepat seraya memberi senyum ramah.
Kita memulai ritual seperti biasa. Aku yang menyedot es jeruk kemudian ku aduk-adukkan menggunakan sedotan.
Tidak lama kemudian, makanan dan minuman yang di pesan Fachmi datang ketika setengah makanan dan minuman kita masuk ke dalam perut yang sedari tadi demo ini.
Fachmi segera menyantapnya agar tidak tertinggal oleh mereka.
Tapi Fachmi masih saja tertinggal ketika makanan dan minuman kita sudah habis. Terpaksa Fachmi memberhentikannya. Karena ia merasa malu makan sendiri di hadapan kita berempat, lebih tepatnya di depan Lisa, wanita yang saat ini ia masukan ke dalam daftar gebetannya.
"Kenapa gak di habisin?" Tanya Lisa.
"Sudah kenyang." Jawab Fachmi mengusap perutnya. Padahal dalam hatinya ia ingin sekali menghabiskannya, karena perut masih bisa menampung dua kali lebih banyak daripada yang ia makan.
Setelah itu, tidak ada sepatah katapun keluar dari bibir kita di sana. Suasana jadi hening. Niat jahilku seketika melintas dalam pikiranku. Ah, aku coba saja.
"Lis, jadi hubungan kamu sama Ervan gimana?" Tanyaku menatap Lisa dan berkali-kali aku mengangkat kedua alisku seperti orang yang sedang memberi kode.
Brakkkk..
Suara itu berasal dari tangan Fachmi menggebrak meja setelah mendengar pertanyaan yang aku lontarkan barusan pasa Lisa. Kita berempat auto terpelonjat dari meja, kaget dengan apa yang di lakukan Fachmi.
"Maksudnya apa Alesha?" Tanya Fachmi dengan sorot maja tajam.
Mulutku seketika terkunci. Aku bingung harus menjawab apa.
Fachmi langsung berdiri dari kursinya dan pergi membawa wajah kesal.
Mata Sendi, Ervan, dan Lisa tertuju padaku. Mereka semua tidak mengerti juga apa maksudku. Aku menatap mereka secara bergantian. Padahal niatku cuma iseng. Karena tidak ada satu orangpun tadi yang membuka pembicaraan. Tapi, ujungnya malah kayak begini.
__ADS_1
Jangan jadi orang iseng, karena tidak semua orang menerima perbuatan iseng kita. Akan ada saja orang yang mengira bahwa itu hal yang serius baginya. Sehingga mereka merasa tidak terima dengan hal itu.