Kisah Kekasih Di Sekolah

Kisah Kekasih Di Sekolah
Cinta tidak harus memiliki


__ADS_3

Sementara suasana di kantin semakin ramai. Tapi Ervan merasa gabut, karena dia hanya sendirian di sana. Yang ia lakukan hanyalah duduk melamun dengan tangan yang menopang dagunya.


Semua temannya yang tadi menemaninya makan, sudah meninggalkannya untuk keperluan hatinya masing-masing.


Duduklah seorang gadis di depan Ervan. Dan sekarang Ervan tidak gabut lagi, mungkin. Karena sudah ada teman yang menemaninya untuk ia jadikan teman ngobrol.


"Hay Van." Sapa gadis yang baru saja duduk di depannya.


Ervan melepaskan topangan dagunya kemudian tersenyum sebagai jawaban sapaan dari seorang gadis yang tidak lain dan tidak bukan adalah seorang Mika.


"Tumben sendirian. Sendi mana?" Tanya Mika.


"Ngapain nanyain Sendi? Jangan-jangan lo suka juga suka sama dia?" Tanya Ervan menyipitkan matanya mencurigai Mika.


"Enggaklah. Aku sukanya sama kamu Van."


Ervan sedikit terkejut mendengar pengakuan Mika barusan.


"Lo udah minta maaf sama Alesha?" Tanya Ervan mengalihkan pembicaraan.


"Belum"


"Mending lo cepetan minta maaf sama dia. Lagian lo apaan sih mengada-ada, nyebarin rumor yang gak jelas."


Mika tertunduk mendengar nasihat Ervan.


"Jangan-jangan lo juga yang ngasih tahu Bu Laras waktu Sendi sama Alesha gak masuk. Ngaku lo!" Tuduh dan desak Ervan.


Kemudian Mika mengangguk pelan.


"Jangan ngejatuhin nama teman biar nama lo naik."


"Iya Van, maaf." Jawab Mika pelan yang wajahnya masih dalam keadaan tertunduk malu.

__ADS_1


"Minta maafnya ke Alesha, bukan ke gue."


"Iya, nanti aku minta maaf sama Alesha. Dan janji, gak bakalan ngelakuin kayak gitu lagi."


"Bagus." Jawab Ervan mengangguk-anggukkan kepalanya.


"Gue ke kelas dulu ya." Pamit Ervan pada Mika yang sudah beranjak dari kursinya. Kemudian pergi meninggalkan Mika sendiri di sana.


*****


Sementara di pojok kelas, mendapati Lisa yang sedang merasakan gerah dan risih terhadap Fachmi. Fachmi yang bukannya membawa Lisa ke tempat yang sedikit pas untuk waktu berduaan, malah membawa Lisa ke kelas dan duduk di pojokkan.


"Sa. Aku senang bisa berduaan sama kamu di sini. Walaupun di pojok kelas, tapi rasanya terasa sangat indah karena ada kamu." Gombal Fachmi pada Lisa.


Lisa menanggapi Fachmi dengan sebuah senyuman yang di penuhi keterpaksaan.


"Kamu nanti pulang bareng aku ya" Tawar Fachmi tapi sedikit memaksa supaya Lisa menerima tawarannya.


"Gimana nanti aja." Jawab Lisa.


"Aku mau keluar dulu ya." Pamit Lisa yang sudah berdiri dari kursinya.


Kemudian Fachmi menarik lengan Lisa dan mendudukkan Lisa kembali di kursinya.


"Kamu di sini aja, temenin aku. Gak boleh kemana-mana."


Terpaksa Lisa duduk kembali. Demi apapun Lisa sudah tidak tahan lagi ingin cepat-cepat pergi dari sana, meninggalkan Fachmi. Karena ketika kalian bersama dengan orang yang kalian tidak suka juga pasti bakalan tahu gimana rasanya. Gak enak banget iya kan? Semenit saja rasanya sudah satu jam.


Kemudian Lisa melihat Ervan masuk ke kelas. Ini kesempatan emas baginya untuk terbebas dari tahanan Fachmi.


"Van." Panggil Lisa pada Ervan yang baru saja masuk melewati pintu.


Ervan menoleh ke pojok kelas paling belakang.

__ADS_1


"Iya Lis." Jawab Ervan.


"Alesha mana?" Tanya Lisa.


"Pergi sama Sendi."


"Kemana?"


"Gak tahu juga tuh." Jawab Ervan.


Lisa mendecak. Sepertinya kesempatan emasnya hilang begitu saja. Tapi tenang, Lisa masih mempunyai good idea untuk segera bebas dari tahanan Fachmi.


"Fachmi." Panggil Lisa lirih.


"Iya Sa." Jawab Fachmi semangat.


"Aku ke toilet bentar ya." Pamit Lisa yang segera pergi dari kursi tahanan Fachmi.


"Sa." Tetiak Fachmi memanggil Lisa yang pergi mau melewati pintu untuk keluar.


Akhirnya Lisa terbebas juga dari ruangan yang membuatnya merasa terpenjara. Hanya gerah dan risih yang ia rasakan ketika berada sana bersama Fachmi.


******


Lisa berjalan dengan mata yang melihat ke sana kemari, seperti sedang mencari seseorang. Padahal tadi dia bilang mau ke toilet. Dia cuma jadikan itu sebagai alasan untuk bisa pergi dan terbebas dari tahanan Fachmi saja.


Langkah Lisa terhenti ketika ia melihat 2 orang yang duduk di bangku taman sekolah. Yakni aku dan Sendi.


Lisa terus menatap kebersamaanku dengan Sendi yang saat itu kita sedang bercanda tawa.


Seketika pelupuk mata Lisa di penuhi air bening yang tidak lama lagi akan jatuh dan mengalir. Lisa tidak dapat menahan rasa cemburunya terhadapku. Ia tidak dapat membendung lagi aliran air yang semakin menderas di pipinya.


Begitulah cinta. Tidak harus memiliki, tidak harus menguasai, tidak harus menuntut, dan tidak harus memaksa. Menikmati keindahan yang tercipta di setiap detiknya. Mengalir begitu saja. Merelakannya bersama dengan orang yang tepat, dengan orang yang memang pantas untuk dia milikki.

__ADS_1


Jika akhirnya seseorang yang kita cinta tidak bersama dengan kita. Mungkin kita akan di bersamakan dengan orang yang mencintai kita.


__ADS_2