Kisah Kekasih Di Sekolah

Kisah Kekasih Di Sekolah
Bertanya-tanya


__ADS_3

Aku membenamkan kepala di meja dengan tangan di lipat sebagai bantalannya.


Baru saja 5 detik, tiba-tiba ada seseorang yang mencolek pundak sebelah kananku. Aku mengangkat kepalaku dan aku putar kepalaku 90 derajat ke arah asal pelaku pencolekan. Sementara tangan masih di lipat di meja. Aku pikir itu Lisa, ternyat dia Fachmi, masih teman sekelasku juga. Dia menyodorkan Ponsel ke arahku.


"Gue boleh minta nomer Lisa gak?" Pintanya.


"Buat apa?" Tanyaku mengerutkan dahi.


"Emangnya lo harus tahu?" Jawabnya agak sinis.


Aku membuka lipatan tanganku yang masih di lipat di meja, lalu duduk dengan posisi nyender ke belakang kursi.


"Kenapa gak minta langsung sama orangnya?"


"Kalo gue berani, mana mungkin gue minta sama lo?"


Aku mengambil ponsel Fachmi yang masih di sodorkan sedari tadi. Aku sudah hafal nomer hp Lisa, jadi aku tidak perlu repot-repot nyalin lewat hpku.


"Nih."


Aku menyodorkan ponselnya kembali kepada pemiliknya.

__ADS_1


"Terimakasih Alesha yang baik hati tidak sombong rajin menabung. Nanti gue traktir es jeruk deh." Rayu Fachmi, dia senyum kegirangan.


"Kapan?" Tanyaku tidak percaya.


"Kapan-kapan."


Jawabnya sambil beranjak dari tempat duduk Lisa.


"Huhhh dasar." Sunggut aku.


Aku mengalihkan pandangan mataku ke arah pintu. Di sana terdapat sosok laki-laki yang berdiri dengan kedua tangan di lipat. Matanya seperti orang yang sedang mengawasi gerak gerikku. Entah dari kapan dia berdiri di sana. Ya, itu Sendi.


Ketika mataku bertemu dengan matanya yang gak tahu dari kapan dia ada di sana. Di langsung membuka lipatan tangannya lalu pergi keluar. Wajahnya datar tanpa ekspresi, tapi seperti orang yang sedang menyembunyikan sesuatu.


Datang lagi 2 orang dari luar, sosok laki-laki dan perempuan. Itu Ervan dan Lisa. Mereka berjalan ke arahku. Lisa duduk di tempat duduknya, tepat di samping sebelah kananku. Sementara Ervan menarik kursi dan duduk di sebelah kiriku.


"Sendi mana Al.?" Tanya Ervan.


"Gak tahu, barusan dia cuma berdiri di depan pintu, setelah itu keluar lagi."


"Oh. Katanya dia mau nyamperin kamu." Tanya Ervan bingung.

__ADS_1


"Enggak kok." Aku menggelengkan pelan kepalaku.


"Gimana sih tuh anak." Desis Ervan.


Aku membelaikan tubuhku ke arah Lisa.


"Oh iya Lis, barusan..."


Belum selesai aku berbicara, suara lonceng sudah memotong pembicaraanku.


"Apa?" Tanya Lisa.


"Gak jadi. Nanti aja pulang sekolah aku omongin."


Aku mengembalikan tubuhku yang sempat terbelai ke arah Lisa seperti semula, menghadap lurus ke depan. Semua teman-temanku duduk kembali pada tempatnya. Karena sebentar lagi jam pelajaran akan di mulai.


*****


Jam pelajaran sudah berakhir, lonceng kode pulangpun sudah di bunyikan. Aku dan Lisa berjalan untuk pulang, baru sampai di parkiran.


Tiba-tiba saja motor melintas dari samping kananku. Ternyata itu motor Sendi, seperti biasa dia pulang pergi Sekolah bersama Ervan. Dia melewatiku begitu saja, tidak seperti biasanya. Aku menatap kepergiannya sampai hilang di telan kejauhan. Sebenarnya ada apa dengan Sendi? Dia kenapa?

__ADS_1


Aku dan Lisa terus saja berjalan tanpa ada sepatah pembicaraan. Sementara pikiranku masih di penuhi pertanyaan mengenai Sendi. Aku harus menanyakannya nanti. Harus.


Lisa sesekali menengokkan wajahnya padaku, dia juga pasti merasakan ada hal aneh. Tapi kita berdua tetap saja tidak membuka suara. Kita memilih terus jalan untuk segera sampai di rumah masing-masing.


__ADS_2