
Sendi membawaku ke arah lain, bukan arah jalan pulang. Padahal jelas-jelas Pak Daril sudah memberi pesan untuk segera pulang ke rumah, dan jangan keluyuran.
"Kita mau kemana?" Tanyaku pada Sendi yang sedari tadi fokus mengendarai motor kesayangannya.
"Ke jalan yang benar." Jawabnya.
"Aku serius." Desis aku.
"Aku lebih serius Alesha." Jawab Sendi malah bercanda.
Aku mendecak, Sendi emang satu-satunya orang yang paling ngeselin, tapi gak tahu kenapa, orang kayak gitu banyak juga ya yang tergila-gila cinta sama dia. Satu-satunya alasan karena dia memiliki wajah yang tampan pastinya. Tapi kelakuannya yang seringkali buat aku naik darah, kadang juga bikin aku seakan-akan terbang melayang di atas awan. Haha, kok aku jadi lebay kayak gini ya.
Dan sekarang, gak tahu aku mau di bawa kemana sama dia. Yang bisa aku lakukan hanyalah duduk dan memeluk pinggangnya sambil menyenderkan kepalaku di punggungnya.
******
Tiba-tiba Sendi memberhentikan motornya di sebuah kedai bakso. Lalu aku turun dari motornya, dan masih bingung, kenapa Sendi membawaku ke sini. Kemudian Sendi mengunci stang motornya terlebih dahulu dan memasukan kunci motornya ke dalam saku baju seragamnya. Lalu Sendi turun juga dari motornya.
Sendi masuk ke dalam kedai bakso itu dan aku mengikutinya. Kemudian kita duduk berhadapan. Kedai baksonya tidak terlalu ramai. Hanya ada beberapa pembeli saja. Sendi mengangkat tangannya untuk memesan bakso kepada mas penjual.
"Mas, yang biasa." Ucap Sendi kepada mas penjual bakso itu.
Dari ucapan Sendi barusan, sepertinya dia sudah sering ke kedai ini.
Tidak lama, mas itu menyodorkan satu mangkuk bakso yang ukuran baksonya jumbo. Satu mangkuk di penuhi oleh bakso itu sendiri. Hanya ada sedikit kuah, tanpa mie. Sendi langsung mengambil pisau kecil untuk membelah bakso ukuran besar itu, tidak lupa dia juga mengambil garpu.
Sendi mulai membelah bakso itu. Setelah terbelah, di dalamnya terdapat beberapa bakso kecil dan beberapa telur puyuh.
"Ini namanya bakso beranak." Sendi memberi tahu aku sambil menunjuk basonya menggunakkan garpu yang sedang di pegang oleh tangan kirinya. Seolah-olah aku tidak tahu kalau itu memang bakso beranak.
"Iya aku tahu." Jawabku.
__ADS_1
"Bakso aja beranak, kaya manusia aja."
Aku tersenyum mendengar apa yang Sendi omongin barusan.
"Jangan cuma di lihatin, cobain kuy." Suruh Sendi.
"Iya."
Aku meraih sendok garpu yang ada di depan kita. Kemudian aku dan Sendi memakannya semangkuk berdua.
"Kamu tahu, kenapa aku pesan semangkuk buat berdua?" Tanya Sendi setelah mengunyah dan menelan baksonya.
"Biar romantis?" Tanyaku yang masih mengunyah bakso.
"Salah."
"Terus?"
Aku tersenyum lagi mendengar gombalan Sendi yang demi apapun tidak bisa aku tebak pikirannya.
Mas penjual bakso itu kembali lagi dan menyodorkan 2 gelas teh tawar ke meja kita.
"Makasih Mas." Ucap Sendi.
Mas penjual bakso itu menganggukkan kepalanya dan tersenyum ramah kepada sang pembeli.
"Kamu sering makan bakso di sini?" Tanyaku ketika Mas penjual bakso sudah meninggalkan meja kita.
Sendi berusaha menelan baksonya.
"Iya."
__ADS_1
"Sama?" Tanyaku lagi penasaran.
"Sendiri."
Aku merasa lega ketika mendengar jawaban Sendi barusan, gak tahu kenapa.
"Bakso di sini terkenal enak. Makanya aku sering ke sini. Tapi karena ukuran baksonya yang besar ini, aku suka gak habisin baksonya. Kan sayang. Makanya aku ajak kamu ke sini." Sendi menjelaskan.
"Jadi itu alasan kamu ajak aku ke sini?" Tanyaku sedikit kecewa dengan alasan Sendi mengajakku ke sini.
Sendi memberhentikan mulutnya yang sedang mengunyah bakso itu.
"Ma maksud aku bukan begitu Alesha. Kamu jangan salah paham dulu." Sendi mencoba menjelaskan.
"Terus?"
Sendi terlihat panik dan gugup ketika akan menjelaskan maksud alasan sebenarnya. Tapi, tiba-tiba aku tertawa melihat Sendi yang sedang panik itu. Sendi makin aneh dan memandangiku. Tidak mengerti apa yang barusan aku lakukan.
"Ya ampun Sendi. Aku bercanda kali. Sampe segitu paniknya."
"Maksud kamu?" Tanya Sendi yang masih tidak mengerti.
"Mana mungkin aku merusak jalan-jalan perdana kita."
Sendi merasa lega, dia membuang nafas panjangnya. Sedangkan aku terus mentertawakannya.
"Aku pikir kamu bakalan marah." Ucap Sendi.
"Ya nggak lah." Jawabku tersenyum.
Kemudian kita melanjutkan makan bakso nya yang masih bisa di bilang utuh itu. Karena baru beberapa potong yang kita makan.
__ADS_1
Terkadang kesalahpahaman yang mampu menghancurkan sebuah hubungan yang telah terjalin erat.