
Hari-hari berikutnya. Seperti biasa aku berangkat sekolah berdua sama Lisa. Kita sudah berada di depan pintu kelas. Aku dan Lisa masuk ke kelas, baru saja 2 langkah dari pintu masuk, langkahku terhenti. Melihat kursi mejaku di duduki oleh Novi. Novi duduk berhadapan dengan Nuri yang duduk di kursinya sendiri. Mereka sedang asik mengobrol. Lisa berdiri di samping kananku.
"Udah, biarain aja. Kamu duduk sama aku di belakang." Ucap Lisa menenangkan aku, sambil mengelus pundak kiriku dangan tangan kirinya.
Akupun melangkahkan kaki menuju tempat duduk Novi ketika bersama Lisa. Aku hentikan langkahku sebentar, ketika sampai di tempat dudukku yang di duduki Novi. Aku menatap Nuri. Nuri membalas tatapanku dengan sinis. Sebentar. Novi pun menengok ke aku.
Aku lanjutkan langkah kakiku melewati Novi. Aku dan Lisa duduk. Ku taruh tasku. Sekarang aku duduk sebangku dengan Lisa, di belakang Novi. Nuri pergi keluar, meninggalkan Novi duduk sendirian.
Novi membalikkan tubuhnya ke belakang. Berhadapan dengan aku.
"Alesha. Maaf ya. Aku duduk di sini di suruh sama Nuri. Kamu gak apa-apa kan?" Novi meminta maaf.
"Iya, gak apa-apa." Kataku seraya memberi senyum palsu pada Novi.
Nuri kembali, Novi terburu-buru membalikkan lagi tubuhnya ke posisi awal, membelakangi aku.
"Lis, aku keluar sebentar ya." Aku pamit keluar kelas.
"Iya Alesha." Jawab Lisa.
Aku langsung pergi keluar, duduk di depan kelas. Ya memang di depan kelasku ada tempat untuk duduk yang memanjang. Sengaja di buat khusus.
Dari kejauhan, terlihat Sendi dan Ervan baru datang. Mereka jalan menuju kelas. Ervan langsung masuk ke kelas, sementara Sendi nyamperin aku. Dia duduk di sampingku.
"Sendiri aja neng?" Canda Sendi.
"Berdua." Jawabku.
"Sama?" Tanyanya.
"Kamu."
Sendi tersenyum.
"Kamu jangan deket-deket sama aku."
"Kenapa?" Tanyanya bingung.
"Aku lagi marah sama kamu."
"Marah aja pake bilang segala."
"Biarin." Kataku sedikit judes.
"Salah aku apa coba?"
"Salah kamu itu. Kemarin kamu ngingetin aku makan, tapi kamu gak ngingetin minumnya. Gara-gara kamu aku jadi keselek tahu." Omelku.
"Hahaha." Sendi malah ketawa.
"Terus kamu minum gak?"
"Enggak."
"Sampe sekarang?"
"Iya."
Sendi ketawa lagi.
"Kamu mau aku kasih perhatian lebih, kamu sampe segitunya?"
"Enggak juga. Pokoknya nanti kamu harus traktir aku es jeruk."
"Hahaha.. Dasar. Bisa modus juga ya kamu Alesha."
"Itu sebagai bukti pertanggung jawaban kamu ke aku saja."
"Iya-iya. Nanti aku traktir kamu, sekalian sama makannya. Biar marahnya berubah jadi sayang."
Aku hanya tersenyum, menatapnya yang memberikan aku senyuman.
"Masuk yuk. Bentar lagi jam pelajaran di mulai."
"Iya."
Aku dan Sendipun masuk ke kelas. Dia duduk di tempat duduknya. Aku duduk di tempat dudukku yang baru dengan Lisa. Sendi menengok ke belakang ke arahku. Dia melihat ke Novi dan Nuri, lalu melihat ke aku lagi. Mungkin dia bingung, kenapa posisi duduk aku dan Novi tertukar. Aku cuma memberi Sendi sedikit senyuman. Kode bahwa semuanya baik-baik saja.
Lonceng pun bunyi, menandakan pelajaran akan di mulai. Semua teman-temanku duduk di tempatnya masing-masing. Tidak lama kemudian, Pak Kepala Sekolah masuk ke kelas kami. Kali ini dia masuk bukan untuk memberi pengumuman, tapi untuk mengajar. Selain menjadi Bapak Kepala Sekolah, beliau juga menjadi Guru Seni. Namanya Pak Daril.
"Selamat Pagi anak-anak." Sapanya.
"Pagi."
"Hari ini Bapak tidak akan memberi kalian materi."
"Alhamdulillaah..." Jawab kami semua senang.
"Tunggu dulu, Bapak belum selesai bicara. Sekarang kalian praktek nyanyi, satu orang satu orang ke depan."
"Haaaah.." Kita semua sontak kaget.
"Lagu apa pak?" Tanya Susi sambil mengangkat tangannya.
"Bebas. Terserah kalian saja. Bapak kasih waktu kalian 5 menit untuk memilih lagu apa yang akan kalian nyanyikan. Nanti yang maju ke depan, Bapak tunjuk, tidak sesuai dengan urutan absen."
"Haaahhh.." Kita semua lebih kaget lagi.
Teman kelasku semuanya memang pada demam panggung. Termasuk aku. Hehe. Kemudian semuanya sibuk, sibuk dengan lagu apa yang akan di nyanyikan nanti depan. Kelaspun jadi berisik, oleh suara kami semua yang menghafal lagu. Memang nyari lagu itu yang sudah hafal. Tapi ketika sudah di depan nanti, semua jadi blank. Yang tadinya sudah hafal di luar kepalapun pasti jadi lupa.
Tidak terasa, 5 menit berlalu.
"Waktunya habis, sekarang siap tidak siap, yang pang Bapak panggil harus maju ke depan." Perintah Pak Daril.
"Iya Pak.."
"Yang pertama, Lisa maju ke depan."
Semuanya melihat ke arah Lisa. Lisa memang memiliki suara yang lumayan bagus.
"Semangat ya, Lis." Aku menyemangati Lisa.
"Iya Al." Jawabnya.
Lisa langsung berdiri ke depan. Dia mulai menyanyikan lagunya dari New Syclon yang judulnya dirimu berarti untukku.
Sungguh tak ku sangka
Dirimu berarti untukku
Detik demi detik
Kau selalu ada disisiku
Ku berjanji kepada dirimu
Ku akan menjagamu
__ADS_1
Sampai akhir nanti
Ku kan selalu bersama
Walau cobaan kan datang
Ku kan selalu bersama
Dan sampai bila nanti
Akhir nafasku ini
Aku minta dirimu
Jangan lupakan aku
Cinta dan kasih sayang
Semuanya kau beri untukku
Ternyata dirimulah
Yang pantas menemani di setiap langkahku
Ku berjanji kepada dirimu
Ku akan menjagamu
Sampai akhir nanti
Ku kan selalu bersama
Walau cobaan kan datang
Ku kan selalu bersama
Dan sampai bila nanti
Akhir nafasku ini
Aku minta dirimu
Jangan lupakan aku
Sampai akhir nanti
Ku kan selalu bersama
Walau cobaan kan datang
Ku kan selalu bersama
Dan sampai bila nanti
Akhir nafasku ini
Aku minta dirimu
Jangan lupakan aku
Lisa selesai menyanyikan lagunya. Semua memberinya tepuk tangan. Lisa kembali duduk.
"Selanjutnya, Nuri." Sebut Pak Daril.
Nuri langsung berjalan ke depan ketika namanya di panggil. Dia menyanyikan lagu dari Souqy yang berjudul Sahabatku Cintaku.
Wahai sahabat aku yang baik
Karna aku telah jatuh
Jatuh hati padamu
Sejak aku bersahabat denganmu
Rasa ini tak bisa ku pendam
Memang ku bukan seseorang yang memendam
Ku begini adanya hanya seorang manusia
Yang ingin mencinta dan di cinta
Padamu telah kuputuskan
Cinta dan ketulusan
Terakhir ku labuhkan di hatimu
Reff :
Yang penting aku sudah katakan
Sebuah perasaan yang tumbuh di hatiku… ini
Tertanam yang ku mulai
Mungkin hari sebuah kisah persahabatan
Iya atau tidak jawabanmu ku serahkan semua
Ikutilah kata hatimu
Ku tak akan memaksa
Namun aku sungguh sangat mencintaimu
Mencintaimu
Sahabatku Cintaku
Nuri juga selesai menyanyikan lagunya. Aku paham dengan lagu yang di nyanyikan oleh Nuri. Maknanya dia mencintai temannya sendiri. Yang bisa jadi itu adalah Sendi.
Pak Daril memanggil kembali orang yang akan tampil di depan.
"Selanjutnya Alesha."
Ketika namaku di panggil. Aku langsung keringat dingin, lututku bergetar, melihat teman-teman sekelasku yang melihat kepadaku. Ku langkahkan kakiku perlahan, sampailah di depan. Aku langsung nervous, down, blank. Apalagi Sendi yang duduk di depanku. Dia terus melihat dan menatapku dengan senyuman. Aku mencoba mulai nyanyikan laguku. Lagu dari D'paspor yang judulnya Pertama Kali.
Pertama kali bertemu
Ku selalu ingat dirimu
Meski hanya dalam angan
Kau selalu terbayang
Engganku melupakanmu
__ADS_1
Karena ku mencintaimu
Meski hanya dalam mimpi
Hiasi tidurku
Hanya dirimu kasih
Buatku bahagia
Meski kau telah berdua
Ku kan menanti
Hadirmu selalu
Membuatku tabah tuk menjalani semua... derita
Meski kau telah berdua dan belalu
Namun ku kan berdoa... selamanya
Untukmu
Senyummu selalu terbayang
Hiasi indah hariku
Meski terkadang perih menusuk kalbu
Hanya harap dan doa
Moga engkau bahagia
Lagu ini tercipta
Hanya untukmu... Sayang
Begitu aku selesai nyanyi, Sendi langsung memberi tepuk tangan seraya memberikan senyuman. Semuanya memberiku tepuk tangan.
Aku langsung menuju tempat dudukku, sampai di samping tempat duduk Sendi, dia menghentikan aku.
"Alesha. Suara kamu bagus." Pujinya dengan senyuman.
Aku langsung salah tingkah.
"Terimakasih" Jawabku dan langsung bergegas menuju tempat dudukku.
"Sendi." Pak Daril memanggilnya.
"Iya Pak". Jawabnya.
"Sekarang giliran kamu."
Sendi langsung ke depan. Dia mulai menyanyikan lagunya.
Resah dan gelisah
Menunggu disini
Di sudut sekolah
Tempat yang kau janjikan
Ingin jumpa denganku
Walau mencuri waktu
Berdusta pada guru
Malu aku malu
Pada semut merah
Yang berbaris di dinding
Menatapku curiga
Seakan penuh tanya
"Sedang apa disini?"
"Menanti pacar", jawabku
Sungguh aneh tapi nyata
Takkan terlupa
Kisah kasih di sekolah
Dengan si dia
Tiada masa paling indah
Masa-masa di sekolah
Tiada kisah paling indah
Kisah kasih di sekolah
Malu aku malu
Pada semut merah
Yang berbaris di dinding
Menatapku curiga
Seakan penuh tanya
"Sedang apa disini?"
"Menanti pacar", jawabku
Sungguh aneh tapi nyata
Takkan terlupa
Kisah kasih di sekolah
Dengan si dia
Tiada masa paling indah
Masa-masa di sekolah
Tiada kisah paling indah
__ADS_1
Kisah kasih di sekolah
Sepanjang dia menyanyikan lagu, dia terus melihatku. Rasanya, lagu yang dia nyanyikan itu bukan hanya sekedar lagu, tapi juga memiliki makna tersendiri. Semua teman-teman memberinya tepuk tangan.