Kisah Kekasih Di Sekolah

Kisah Kekasih Di Sekolah
Pingsan


__ADS_3

Aku mengikuti langkah Sendi menuju ruang BP. Oh iya, yang tadi masuk ke ruangan kosong yang menyuruh aku dan Sendi untuk pergi ke ruang BP adalah Revi. Dia masih teman sekelasku, teman sebangku Mika.


Kita sampai di depan pintu ruang BP.


Toktoktok...


Suara Sendi mengetuk pintu ruang BP yang sedikit terbuka.


"Masuk."


Terdengar suara yang begitu tegas. Suara itu berasal dari Guru BP yang namanya Pak Aldan.


Sendi masuk, di ikuti oleh aku.


Di dalam ruangan ada satu orang laki-laki dan perempuan, yakni Pak Aldan dan Bu Laras.


Kita duduk berhadapan dengan Pak Aldan dan Bu Laras. Bu Laras terlihat seperti orang yang baru saja menangis. Kelihatan dari hidungnya yang memerah dan sisa air di pelupuk mata.


"Kalian berdua pasti sudah tahu kan alasan kalian di panggil ke sini."


"Iya pak." Jawab aku dan Sendi serentak.


"Sekarang jelaskan dan minta maaf sama Bu Laras." Pinta Pak Aldan.


"Saya minta maaf Bu. Semua salah saya. Kalau Ibu mau menghukum. Hukum saya saja, Alesha gak perlu di hukum." Sendi meminta maaf kepada Bu Laras.


"Enggak Bu, saya yang salah. Saya minta maaf, saya saja yang di hukum."


Aku meminta maaf kepada Bu Laras dan menolak permintaan Sendi kepada Bu Laras.


"Aku saja Alesha."


"Aku saja."


"Aku."


"Stop. Kalian semua saya hukum. Kalian tahu gak? Ibu Laras ini bela-belain mengajar di sini, dari jarak rumahnya yang sangat jauh untuk ke sini, dia rela demi mengajar kalian. Tapi apa balasan kalian? Bu Laras tadi di kelas menunggu kalian berdua masuk sampai jam pelajarannya habis. Kalian harusnya mikir, hargai Bu Laras." Pak Aldan menjelaskan mengenai Bu Laras.


Aku dan Sendi terdiam mendengarkan penjelasan Pak Aldan. Sementara Bu Laras mengusap air matanya yang terjatuh di pipinya.


"Sekarang kalian hormat di depan tiang bendera sampai jam pulang."


Aku dan Sendi sontak kaget, sekarang waktu sudah menunjukkan pukul 11:40 dan jam pulang itu 14:00. Ini bukan masalah waktunya yang lama. Tapi hari ini cuaca panas, matahari memancarkan sinarnya sangat terik. Bayangin saja sama kalian deh gimana panasnya.


******


Aku dan Sendi berdiri sejajar menghormat tiang bendera. Baru saja 5 menit, tapi kulit terasa seperti sudah mau mateng, sampai gosong mungkin. Tenggorokkan yang kering ini membuatku sangat kehausan.


"Maaf sudah membuatmu ikut di hukum juga." Kataku pada Sendi.


"Ini kemauanku. Kalau bisa aku ambil alih, aku mau mengambil alih hukuman kamu buat aku saja." Jawab dan harapnya.


Aku memutar kepalaku 90 derajat ke arah Sendi. Lalu aku mengangkat kedua sudut bibirku membentuk sebuah senyuman kecil. Melihat wajah Sendi yang penuh dengan keringat bercucuran.


Aku mengambil tissue bekasku tadi untuk mengusap air mataku yang tadi Sendi berikan untukku. Aku sempat memasukkan bekas tissue itu di saku baju seragamku.


Sendi masih berdiri melihat ke depan. Perlahan aku mulai mengusap keringat di dahi Sendi yang semakin deras. Kemudian Sendi menoleh, dia tersenyum.


"Tissue dari mana?" Tanyanya.


"Kamu." Jawabku.


"Kan udah kamu pakai."


"Biarin."


Sendi tersenyum kembali dengan menggeleng-gelengkan kepalanya pelan. Tangannya masih ia gunakan untuk menghormat tiang bendera.

__ADS_1


Aku kembali memasukkan tissue ke dalam saku baju seragamku.


"Kenapa gak di buang?" Tanya Sendi lagi.


"NYAMPAH." Jawabku.


Kita kembali ke posisi awal, menghadap tiang bendera dan menghormat.


15 menit kemudian. Jam tepat menunjukkan pukul 12:00. Tubuhku tiba-tiba melemas. Penglihatanku buram bahkan gelap, kepalaku terasa pusing. Wajahku memucat.


BRUKKKK...


Suara berasal dari tubuhku yang terjatuh tergeletak. Aku tidak sadarkan diri. Aku pingsan di hadapan Sendi.


Sendi sontak kaget dan panik melihat aku yang terbaring di lantai lapangan sekolah.


"ALESHA."


Sendi mencoba memanggil namaku.


Kemudian Sendi berjongkok dan menggoyang-goyangkan tubuhku.


"Alesha, bangun Al. Al, Alesha."


Sendi sangat panik dan ketakutan. Di sana hanya ada aku dan Sendi saja. Tidak ada siswa lain satupun, karena mereka sedang belajar di kelasnya masing-masing.


Sendi segera membopongku dan berjalan cepat membawaku ke arah UKS.


Sendi memasuki UKS, ada seorang dokter volunteer dan 2 petugas PMR di sana. Sendi membaringkan tubuhku di salah satu kasur kabin. Aku masih tidak sadarkan diri.


"Dia kenapa?" Tanya Dokter Firman, yang segera memeriksa kedua mataku menggunakan pen-light.


"Alesha pingsan dok. Tadi saya sama Alesha di hukum untuk berjemur menghormat di depan tiang bendera. Dia pingsan setelah 20 menit berdiri di sana."


"Tolong ambilkan minyak angin sekarang." Suruh Doktef Firman pada kedua petugas PMR yang bergegas melakukan perintahnya.


"Alesha baik-baik saja kan Dok?"


Dokter Firman memberikan sedikit minyak angin ke ujung hidungku. Kemudian memeriksaku kembali.


"Dia baik-baik saja. Hari ini cuacanya terik sekali. Jangankan untuk berlama-lama berjemur di tengah hari, di pagi hari saja apabila cuacanya terik seperti ini akan menyebabkan dehidrasi." Jawab Dokter Firman atas pertanyaan Sendi tadi.


"Biarkan dia istirahat, mungkin beberapa menit lagi dia akan sadar." Jelas Dokter Firman lagi dan di angguki oleh Sendi.


Dokter Firman dan kedua petugas PMR keluar dari kabinku, membiarkan aku terbaring di sana. Hanya ada Sendi yang menemani berdiri di sampingku. Sendi menghela sangat lega, setidaknya tidak terjadi apa-apa denganku. Jujur saja, Sendi sangat panik tadi. Sendi sangat memperdulikan aku.


Tiba-tiba saja pintu UKS terbuka, Lisa masuk dengan langkah yang terburu-buru.


"Alesha gimana? Dia nggak apa-apa kan?" Tanya Lisa juga mencemaskan aku.


Sendi hanya menggelengkan kepalanya.


"Dia nggak apa-apa."


Lisa bernapas lega, kakinya langsung lemas dan tubuhnya langsung terjatuh dan terduduk di sampingku. Lisa merasa bersalah atas apa yang membuatku pingsan hari ini. Lisa merasa pasti ada hubungannya dengan apa yang tadi Mika lakukan untuknya. Lisa memegangi tanganku.


"Alesha dan aku di hukum Pak Aldan."


Sendi menghela berat lalu melanjutkan kalimatnya.


"Alesha gak mau masuk pelajaran Bu Laras setelah kejadian tadi sama Mika di toilet. Kamu pasti tahu kan apa yang sudah di bicarakan Mika ke Alesha."


Lisa menunduk dan menganggukkan kepalanya.


"Ini semua salah aku, gak seharusnya aku biarkan semua ini terjadi seperti ini." Lisa merasa bersalah.


"Aku keluar sebentar." Pamit Lisa kepada Sendi, ia beranjak dari kursinya.

__ADS_1


Kemudian Sendi yang berdiri sedari tadi menduduki kursi yang tadi di duduki Lisa. Sendi menghela berat.


Kesunyian terjadi di ruangan ini. Sendi melirik jam dinding yang ada di sana. Hampir 20 menit aku pingsan dan masih belum juga sadar. Sendi memegang tanganku dan membenamkan kepalanya.


Merasa tanganku perlahan bergerak, Sendi segera mengangkat kembali kepalanya. Mendapati aku yang sedang berusaha membuka kedua mataku.


"Alesha. Kamu nggak apa-apa kan?" Tanya Sendi merasa lega melihatku sudah sadarkan diri.


Kedua sudut bibirku terangkat membentuk sebuah senyum kecil.


"Aku nggak apa-apa kok, cuma masih pusing saja. Kamu jagain aku dari tadi?" Jawab dan tanyaku.


"Iya Alesha. Aku jagain kamu." Jawab Sendi.


"Makasih ya."


"Iya. Tadi Lisa kesini."


"Ngapain dia?" Tanyaku masih sedikit kesal mendengar namanya.


"Mastiin kalau kamu baik-baik saja."


"Oh."


Kemudian Sendi membantuku yang berusaha mengangkat tubuhku yang masih lemas ini untuk duduk.


"Kamu tunggu sebentar di sini. Aku ambilin minum buat kamu." Pesan Sendi.


"Iya."


Kemudian Sendi pergi mengambil minum di belakang, kebetulan di sana ada air dari galon dispenser. Setelah selesai mengambil air minum, Sendi segera kembali.


Dia membantuku meminum air putih. Sebenarnya tidak perlu di bantu sih. Tapi mungkin itu hanya inisiatifnya saja untuk memberiku perhatian.


Aku meminumya sedikit. Setelah itu, Sendi meletakkan gelas itu di meja kecil samping kasurku.


"Nanti aku antar kamu pulang ya." Pinta Sendi.


Aku hanya menganggukkan kepalaku.


*****


Lonceng kode pulang sekolahpun bunyi. Semua siswa bersorak senang karena jam pelajaran sudah berakhir.


Kini aku dan Sendi sudah ada di parkiran sekolah. Sendi yang sudah menaiki motornya kemudian menghidupkannya.


"Ayo naik." Suruh Sendi mengedikkan dagunya ke jok belakang.


Aku yang sedari tadi berdiri di samping Sendi langsung menaiki motornya. Kemudian Sendi langsung menjalankan motornya dan keluar dari pintu gerbang sekolah.


Kedua tanganku memeluk erat pinggang Sendi dan kepala yang ku sandarkan di punggungnya, di belakang bahu sebelah kiri.


Tubuhku masih terasa lemas. Sendi menoleh ke belakang, dia tersenyum. Sendi merasa senang, ini pertama kalinya dia membonceng aku sampai harus memeluknya.


Tidak lama kemudian, sampailah di depan rumahku. Aku mengangkat kepalaku dan berusaha melepaskan tanganku yang memeluk erat pinggang Sendi. Aku turun dari motornya dengan tubuh yang masih lemas. Aku berdiri di samping Sendi.


"Kamu istirahat ya. Makan dan jangan lupa minum." Pesannya.


"Iya." Jawabku datar.


"Kejadian tadi gak usah kamu pikirin."


"Iyaaaa."


"Sekarang kamu masuk. Baru aku pergi."


"Kamu hati-hati."

__ADS_1


"Iya Alesha."


Kemudian aku membalikkan tubuhku, membuka pintu gerbang rumahku. Ku tutup kembali. Aku berjalan menuju pintu rumah. Sampai di depan pintu, aku membalikkan tubuhku kembali. Sendi terus mengawasiku. Aku melambaikan tanganku. Sendi membalas lambaian tanganku. Kemudian dia menghidupkan motornya dan pergi menjalankan motornya.


__ADS_2