Kisah Kekasih Di Sekolah

Kisah Kekasih Di Sekolah
Baikan


__ADS_3

Seperti biasa, aku melemparkan tasku ke atas kasur. Lalu aku bantingkan juga tubuhku ke kasur yang masih menggunakan seragam, dalam keadaan terlentang, menatap langit-langit.


Aku mencoba mengatur nafas, mengontrol emosi. Apa yang sudah aku lalukan tadi? Bagaimana jika ada ada orang yang melihat kejadian tadi? Bagaimana kalau kejadian tadi ada yang melihat dan di beritahukan ke pihak sekolah? Pikiranku seketika di penuhi dengan pertanyaan seperti itu.


Aku menghela berat. Ah sudahlah, tidak perlu di pikirkan apalagi sampai membuat aku yang malah jadi ketakutan. Seketika pikiranku terhenti ketika ponselku berdering, ada panggilan masuk. Aku mengambil ponselku yang ada di tas. Aku melihat layar ponselku, di situ tertera nama Sendi yang meneleponku. Aku langsung mengangkat telponnya.


"Halo."


"Kamu kenapa bohongin aku?"


Tiba-tiba saja suara dari sebrang sana memberiku pertanyaan yang membuatku seketika mengerutkan dahi, karena bingung dengan maksud pertanyaannya.


"Bohongin apa?" Aku bingung.


"Yang katanya pulang sekolah mau ke toko." Jawabnya.


Seketika aku diam, apa Sendi tahu kalau aku tadi habis melabrak Mika?


"Kamu tahu tadi aku..."


"Iya." Sendi memotong omonganku.


"Aku bisa jelasin." Aku mencoba ingin menjelaskan semuanya sama Sendi.


"Gak usah." Tolak Sendi.


"Kenapa?" Tanyaku cemas.


"Aku sudah dengar semuanya. Kamu dendam sama Mika?" Jawab dan tanya Sendi.


Jantungku berdetak lebih kencang, aku takut Sendi marah karena aku sudah bohongin dia. Aku tidak tahu apa yang akan aku katakan kepadanya supaya dia tidak marah sama aku.


"Aku gak pernah dendam sama siapapun. Aku cuma sakit hati dengan omongannya. Kadang orang punya mulut, tapi gak punya otak."


Aku menjawab pertanyaan Sendi seadanya. Aku perlahan menggigit bibirku. Aku takut dengan apa yang akan Sendi tanyakan lagi.


"Aku salut sama kamu." Ketakutanku tiba-tiba pudar ketika Sendi mengatakan itu.


"Maksud kamu?" Aku tidak mengerti dengan apa yang di katakannya barusan.


"Kamu bisa tegas sama orang kayak Mika. Yang bisanya cuma nyebarin rumor gak jelas tentang kamu."


Aku tidak menyangka Sendi bakalan ngomong seperti itu, dia yang awalnya membuatku sangat ketakutan.


"Jadi kamu gak marah sama aku?" Aku memastikan.


"Buat?"


"Aku sudah bohongin kamu."


"Kan kamunya gak bikin aku marah." Ucapnya.


"Kalau aku bikin kamu marah?" Tanyaku penasaran.


"Aku gak bisa marah sama kamu Alesha."


Keheningan seketika terjadi di antara kita berdua. Hanya senyuman yang masih tersisa di antara kita berdua.


"Tadinya aku takut kamu bakalan marah sama aku."


"Kamu tahu kenapa kamu mengkhawatirkan aku marah sama kamu?"

__ADS_1


"Kenapa?"


"Itu artinya kamu sudah mulai bangun cinta sama aku."


Kedua sudutku terangkat, membentuk sebuah senyuman.


"Kalau begitu kamu makan dulu sana, jangan lupa minum." Suruh Sendi.


"Iya. Kamu juga."


Kemudian kita saling diam sebentar, tapi senyuman ini tidak lepas bibir kita berdua.


*****


Keesokan harinya, aku berangkat sekolah berjalan kaki sendirian.


"Alesha."


Terdengar teriakan dari seorang wanita yang suaranya tidak asing di telingaku. Langkahku terhenti dan mematung, menunggu seorang wanita yang sepertinya mengejarku. Terdengar dari suara sepatu yang di hentakkan ke bumi dengan keras dan cepat.


Dia mensejajarkan dirinya denganku. Nafasnya yang tidak beraturan membuatnya ngos-ngosan.


"Ak.. Aku boleh bareng kamu?" Pertanyaan yang di lontarkan barusan sama aku adalah pertanyaan dari Lisa.


Aku lirikan mataku ke arahnya, kemudian aku melanjutkan langkahku dan fokus melihat ke depan. Lisa mengikuti aku dan masih mensejajarkan dirinya denganku.


"Alesha. Kamu masih marah sama aku."


"Gak." Jawabku datar.


"Jadi kamu sudah maafin aku?"


Aku meliriknya sebentar, kemudian kembali fokus melihat ke depan.


Aku langsung memberhentikan langkahku dan di ikuti oleh Lisa. Aku menghela berat.


"Aku gak pernah marah sama kamu?"


"Terus selama ini?"


"Semua orang berhak kepada siapa dia akan menaruh harapan. Tidak ada orang yang lebih berhak memberhentikan harapannya selain dirinya sendiri."


Seketika Lisa diam. Mungkin Lisa mengerti dengan apa yang aku omongin barusan. Tapi, apa kalian ngerti juga dengan apa yang aku omongin barusan?? Hehe. Semoga mengerti juga ya.


Kemudian aku melanjutkan langkahku untuk cepat-cepat sampai ke sekolah yang sempat terhenti barusan. Sementara Lisa masih mematung di tempat untuk mencerna baik-baik omonganku.


*****


Hari ini sekolah sedang bebas, tidak akan ada Guru mata pelajaran yang masuk ke semua kelas. Mereka sedang mengadakan rapat untuk persiapan Ujian Tengah Semester (UTS) yang waktunya sudah tidak lami. Jadi, siswa bebas berkeliaran di lingkungan Sekolah. Ada yang memilih diam di kelas, ada yang memilih untuk pergi ke kantin, ada juga aktivitas lainnya yang mereka pilih. Dan aku memilih untuk pergi ke kantin saja. Di temani oleh Sendi dan Ervan yang duduk bersamaku di kursi dalam satu meja.


Kita melaksakan ritual seperti biasa. Ervan yang asik mengunyah roti dan sebotol air mineral di hadapannya. Es jeruk yang ku aduk-adukan menggunakan sedotan. Dan segelas es teh manis milik Sendi yang masih utuh, menunggu pemiliknya yang masih sibuk dengan mie rebus berpadu dengan telur.


Kemudian datang Lisa mengampiri kita bertiga.


"Aku bisa duduk di sini?" Tanyanya kepada kita bertiga.


"Duduk aja Lis, fasilitas kursi masih milik kantin sekolah kok." Jawab Ervan sedikit bercanda.


"Makasih."


Kemudian Lisa duduk di samping Ervan, berhadapan denganku. Lisa menatapku dan Sendi bergantian.

__ADS_1


"Kamu gak pesan makanan Lis? Atau minuman?" Tanya Ervan.


"Aku lagi gak haus sama lapar." Jawab Lisa.


Aku dan Sendi acuh tak acuh dengan kehadiran Lisa di sana.


Sesekali aku menyedot es jerukku yang sedari tadi ku aduk-adukkan. Sendi menghabiskan mie rebus yang berpadu dengan telur itu, kali ini tinggal suapan terakhirnya. Kemudian meraih es teh manisnya. Dia teguk sampai habis. Dan meletakkan kembali gelas yang sudah kosong pada tempatnya.


Aku berdiri dari tempat dudukku.


"Mau kemana?" Tanya Sendi.


"Aku mau toilet sebentar."


"Ikut."


"Kemana?" Tanyaku.


"Toilet." Jawab Sendi.


"Ngapain?" Tanyaku lagi.


"Siapa tahu butuh orang untuk untuk nemenim."


Aku tersenyum. Aku tahu Sendi cuma bercanda. Karena dia orangnya suka gombalin dan bercandain aku. Tapi kalau masalah perasaan kira-kira bercanda atau serius ya.


Kemudian aku keluar dari area meja barusan, baru saja 2 langkah, Lisa memanggilku.


"Alesha." Panggil Lisa.


Aku berhenti dan menengok ke Lisa.


"Aku ikut ke toilet."


"Iya." Jawabku datar, kemudian melanjutkan langkahku menuju toilet.


Lisa berjalan mengikutiku, dia mensejajarkan dirinya denganku.


Kemudian kita sampai di toilet. Aku masuk ke dalam toilet. Tidak lama, 2 menit kemudian aku keluar lagi. Aku mendapati Lisa yang menungguku di depan pintu toilet yang aku masukki. Dia awalnya membelakangi, tapi setelah ia sadar bahwa aku telah keluar dia langsung membalikkan tubuhnya.


Lisa mendekatkan dirinya denganku.


"Alesha. Kamu masih marah?"


Aku mendecak.


"Aku gak pernah marah sama kamu." Jawabku datar.


"Tapi kamu masih ngediemin aku."


Aku memegang pundak Lisa.


"Aku gak pernah marah Lisa." Aku mengangkat kedua sudut bibirku membentuk senyuman, memastikan bahwa aku gak pernah sama dia. Kemudian aku menurunkan tanganku yang memegangi pundak Lisa.


"Sekarang aku percaya kamu gak marah sama aku." Lisa pun tersenyum senang, dia merasa lega.


"Kita ke kantin lagi yuk." Ajakku pada Lisa.


"Ayo." Jawab Lisa.


Kemudian aku dan Lisa pergi meninggalkan toilet untuk pergi ke kantin kantin lagi.

__ADS_1


Lisa terlihat sangat senang dan lega.


Janganlah bersahabat jika kita belum saling memahami, dan janganlah memutuskan persahabatan karena salah paham. Keadaan yang sulit seringkali menjadi ujian dalam sebuah persahabatan, termasuk mencintai orang yang sama.


__ADS_2