Kisah Kekasih Di Sekolah

Kisah Kekasih Di Sekolah
Jangan Benci


__ADS_3

Lisa membalikkan tubuhnya, kemudian berjalan kembali menuju kelas. Tangannya sibuk mengusap air matanya yang masih tersisa di pipi dan pelupuk matanya.


Langkah Lisa terhenti ketika sampai di depan pintu kelas. Dia berpikir untuk tidak bertemu Fachmi yang membuatnya tidak bisa kemana-mana lagi setelah bersamanya.


Kemudian Lisa memilih untuk duduk di depan kelas yang di bangku khusus yang di buat oleh pihak Sekolah. Tidak ada siapa-siapa selain dirinya. Pandangannya kosong, pikirannya di penuhi oleh kejadian yang ia lihat di taman barusan. Lisa sepertinya belum bisa move on dari Sendi.


Tiba-tiba datang Ervan, keluar dari kelas membuyarkan pikiran Lisa. Lisa sontak kaget ketika Ervan menepuk pundak Lisa yang lumayan keras. Karena sebelumnya Ervan sudah menepuk pundaknya pelan dan memanggil-manggil namanya berkali-kali tapi Lisa tetap saja mematung karena lamunannya.


"Ervan, Ngagetin aja." Decak Lisa.


"Ngagetin? Kamu yang ngelamun aja." Balas Ervan.


"Eng enggak kok, aku gak ngelamun." Jawab Lisa gugup.


"Mata kamu kok sembab? Kamu habis nangis?" Tanya Ervan yang sembari memperhatikan mata Lisa.


"Oh ini, tadi mata aku kelilipan." Jawab Lisa mengerjapkan mata berkali-kali.


"Oh." Jawab Ervan tidak percaya.


Kemudian aku dan Sendi datang mengahampiri Lisa dan Ervan yang sedang ngobrol berdua.


"Ehem." Deham Sendi pada mereka berdua.


"Apa?" Tanya Ervan.


"Berduaan terus sekarang." Sindir Sendi.


"Kata siapa? Kita berempat kali."


Kemudian aku duduk di sebelah Lisa. Aku juga melihat mata Lisa yang sembab.

__ADS_1


"Kamu kenapa Lis?" Tanyaku.


"Gak apa-apa." Jawab Lisa datar.


"Yakin?" Aku memastikan.


"Iya." Jawabnya datar lagi.


******


Tiba-tiba lonceng di bunyikan beberapa kali. Itu tanda agar semua siswa berkumpul di lapangan. Aku, Sendi, Lisa dan Ervan yang duduk di bangku depan kelas segera pergi ke lapangan setelah mendengar lonceng yang beberapa kali di bunyikan.


Semua siswa sudah berada di sana dan berbaris. Kemudian di pimpin oleh Pak Daril selaku Bapak Kepala Sekolah di Sekolah kita. Pak Daril meraih mik yang di berikan oleh Kak Aldi sang Ketua Osis. Pak Daril menekan tombol on/off pada mik tersebut dan sesekali menepuk kepala miknya untuk mengecek bahwa mik sudah menyala. Pak Daril mulai mengangkat miknya dan memposisikan kepala mik tepat di bawah bibirnya.


"Assalaamu'alaikum warrahmatullaahi wabarakaatuh." Ucap Pak Daril membuka pengumuman.


"Walaikumussalaam warrahmatullaahi wabarakaatuh." Jawab kami serentak.


Semua siswa bersorak senang.


"Tidak ada yang keluyuran, semua harus langsung pulang ke rumah masing-masing. Mengerti?"


Kemudian anak kelas sebelah mengacungkan tangan.


"Pak, kalau pulang ke rumah calon mertua boleh?" Tanyanya sompral menyebabkan semua orang yang berada di sana tertawa dengan pertanyaan yang di ajukannya barusan.


"Emangnya kamu punya pacar?" Balas Pak Daril.


"Hehe, enggak Pak." Jawab siswa yang mengajukan pertanyaan ke Pak Daril barusan dengan tangan yang menggaruk kepalanya yang tidak gatal dan mulutnya yang cengengesan.


Semua mata tertuju padanya dan mentertawakannya.

__ADS_1


"Sudah-sudah. Ada-ada saja kamu ini." Ucap Pak Daril.


"Sekarang juga kalian pulang ke rumah masing-masing. Itu saja yang Bapak sampaikan. Wassalamu'alaikum warrahmatullaahi wabarakaatuh." Pak Daril menutup pengumuman.


"Waalaikumussalam warrahmatullaahi wabarakaatuh." Jawab semua serentak.


Kemudian semua siswa bubar dari lapangan dan kembali ke kelas masing-masing untuk mengambil tas.


Aku mengambil tasku yang berada di atas meja dan menggendongnya. Satu persatu teman kelasku sudah keluar untuk pulang. Di kelas hanya ada beberapa orang lagi. Lisa baru saja masuk ke kelas dan mengambil pula tasnya.


"Alesha. Pulang bareng ya." Pinta Lisa.


"Iya pasti." Jawabku.


Kemudian aku dan Lisa pergi keluar dari kelas dan berjalan. Kita sampai di depan pintu gerbang sekolah. Baru saja 2 langkah kita keluar dari pintu gerbang. Tiba-tiba ada motor melewatiku dan berhenti, akupun fan Lisa menghentikan langkah. Dia mengedikkan dagunya ke arah jok belakang yang masih kosong, memberi kode kepadaku untuk menaiki motornya, mengisi kekosongan jok belakangnya. Dia siapa lagi kalau bukan Sendi.


"Lisa gimana?" Tanyaku pada Sendi.


Tiba-tiba datang lagi satu notor melewati Lisa dan berhenti juga.


"Ayo Sa. Tadi kan udah janji mau pulang bareng." Ucap Fachmi pada Lisa.


"Tuh, udah sama pangerannya." Ucap Sendi menjawab pertanyaanku tadi.


Kemudian aku segera naik ke motor Sendi.


"Lis, aku duluan ya. Kamu kan udah ada Fachmi." Pamitku pada Lisa.


Wajah Lisa langsung berubah jadi badmood ketika harus pulang bersama Fachmi, apalagi melihat aku yang pulang bersama Sendi.


Sendi langsung menghidupkan mesin dan menjalankan motornya. Dengan terpaksa, mau tidak mau Lisa harus pulang bareng Fachmi. Naik ke motornya dengan wajah yang tidak suka dan tidak rela dirinya di antar pulang oleh Fachmi.

__ADS_1


Jangan terlalu benci sama orang, ujungnya bisa jadi cinta. Dan jangan terlalu cinta sama orang, ujungnya bisa jadi benci.


__ADS_2