Kisah Pendekar Ramalan

Kisah Pendekar Ramalan
Fajar di Gunung Pasupati


__ADS_3

Pagi itu suasana di Padepokan Kencana Pasupati terlihat begitu ramai. Lebih ramai dari biasa, terdengar para pelayan di padepokan itu sibuk mempersiapkan sebuah persalinan dari seorang wanita. Wanita paruh baya dengan sehelai kain berlari ke dalam kamar persalinan. Di dalam kamar sudah ada dukun beranak. Dia dengan teliti memantau keadaan wanita yang sedang hamil tua itu.


Wanita hamil itu bernama Dewi Kembang, menantu dari Ki Pasupati pendiri Padepokan itu. Ki Pasupati sendiri merupakan pendekar hebat yang melatih ribuan muda mudi yang ingin menekuni ilmu bela diri silat. Sementara anak Ki Pasupati sudah lama mengabdikan diri sebagai pengawal di sebuah kerajaan kecil di dekat lembah Gunung Pasupati.


Kerajaan itu bernama Singa Mandala. Dan Prabu Singa Murti menjadikan Prayudha anak Ki Pasupati sebagai panglima perang.


Kembali ke Padepokan Kencana Pasupati, Ki Pasupati sangat gelisah karena proses persalinan yang begitu lama. Ia takut kalau terjadi apa-apa dengan menantunya. Sambil memegangi janggut putih panjangnya dia memanggil pelayan setianya.


"Juminten, Juminten", teriak Ki Pasupati di pendopo tempat dia biasa duduk melihat murid-muridnya latihan.


"Iya, iya Ki", sahut Juminten dari dalam kamar seraya berlari menemui Ki Pasupati.


Juminten menatap wajah kakek tua itu penuh hormat, betapa tidak wajah keriput dan penuh guratan-guratan itu, masih tampak menyisakan sebagian kecil cahaya kewibawaan. Juminten tidak berani bertanya duluan karena takut kalau dia salah. Karena itu dia masih menundukkan kepala di hadapan Ki Pasupati.


"Bagaimana keadaan menantuku, kanapa persalinannya belum selesai?" Ki Pasupati bertanya dengan napas yang terengah-engah karena menahan kecemasan di dalam hatinya.


"Belum ada tanda-tanda Ki", sahut Juminten masih dalam keadaan menunduk.


"Begitu ya", jawab Ki Pasupati dan menyuruh pelayan itu kembali.


Hari semakin gelap, tepat hari itu Purnama ke empat, di mana seharusnya bulan bersinar terang malam itu. Tetapi aneh hingga menjelang malam bulan tak kunjung bersinar. Tetapi sebuah awan gelap malah datang dan berkumpul di atas padepokan. Awan gelap itu mengeluarkan kilatan petir menyala seakan-akan dewa sedang marah dan membawa kiamat. Awan tebal itu juga terlihat dari kerajaan Singa Mandala, yang membuat Prayudha cemas dengan istrinya yang sedang hamil tua dan akan melahirkan.


Ki Pasupati segera berdiri mengumpulkan para muridnya kepercayaannya agar berjaga-jaga di sekitar padepokan. Ki Pasupati berjalan sambil mengamati langit dan sekitaran padepokan, ia menuju ke sebuah rumah. Di sana ia sudah di tunggu orang yang sebaya dengannya.


"Kakang, apa sedang terjadi, pertanda apa?" Ki Pasupati bertanya pada orang itu.

__ADS_1


"Kakang, mari kita duduk dulu, tenangkan dirimu, semoga ini adalah pertanda baik dari Dewata", jawab Ki Soma sambil menenangkan saudara seperguruannya itu.


Mereka ternyata adalah kawan seperguruan dan seperjuangan. Sama-sama sakti dan ahli bela diri ilmu Kanuragan. Namun Ki Soma lebih mendalami ilmu spiritual dan menjadi guru spiritual di padepokan itu.


"Kakang, aku tidak bisa tenang, aku cemas dengan keadaan, apalagi Prayudha tidak ada untuk menjaga istrinya", kata Ki Pasupati meyakinkan.


"Baiklah kakang, aku akan menemani kakang ke sana", jawab Ki Soma sambil menuju rumah persalinan Dewi Kembang.


Suasana malam itu sangat mencengangkan dan menakutkan. Aura magis mengitari padepokan diiringi lolongan anjing yang saling bersahutan. Burung-burung beterbangan menjauhi padepokan. Angin berhembus kencang mematahkan beberapa ranting pohon. Tanah mulai bergoyang seakan-akan gempa bumi sedang berlangsung. Kuda-kuda mulai riuh dan panik diiringi suara ternak yang histeris ketakutan.


Ki Pasupati dan Ki Soma mempercepat langkahnya. Mereka saling berpegangan satu sama lain untuk menghindari goncangan.


Tengah malam mereka sampai di rumah persalinan. Terdengar Dewi Kembang menangis dan meringis menahan sakitnya. Dia meronta dan meremas bantalnya sendiri. Di luar kamar Ki Pasupati dan Ki Soma bersiap.


"Kakang, aku akan memasang penghalang gaib, aku khawatir ada mahluk gaib yang ingin mencelakai Dewi Kembang", kata Ki Soma meminta ijin kepada Ki Pasupati.


Namun tak sampai di situ, sosok astral mulai bermunculan dan menampakkan diri. Sosok itu astral itu adalah siluman pencuri bayi.


"Kakang mereka datang, aku akan menghadapinya", kata Ki Pasupati seraya memanggil pusakanya berupa tombak sakti sambil mengucapkan mantra-mantra khusus.


Ki Pasupati menerjang maju dan mengibas-ibaskan tombak saktinya. Ujung tombaknya mengeluarkan api yang menyambar dan membakar apa saja di dekatnya. Tombak sakti Ki Pasupati bernama Ki Buru Semang yang memburu musuhnya hingga mati di ujung tombak itu.


Seekor siluman bermata satu dan berbadan besar menyerang dari arah kiri.


"Matilah kau orang tua, jangan halangi kami", kata siluman itu sambil melompat dan siap memukul punggung Ki Pasupati.

__ADS_1


"Tidak semudah itu", Ki Pasupati melompat menghindari pukulan siluman tadi.


Secepat kilat Ki Pasupati menombak siluman itu tepat di kepalanya. Melihat rekannya tewas menjadi debu, beberapa siluman mulai ada yang mundur ke dalam hutan dan bersembunyi. Ki Pasupati menyerang dengan garang, gaya bertarung dengan menggunakan tombak adalah keahliannya. Ribuan siluman lenyap di habisi tombak Ki Buru Semang.


Siluman-siluman itu tidak kalah licik, mereka merangsek dari arah berbeda, mencoba menerobos penghalang gaib Ki Soma. Ki Soma tidak tinggal diam, hanya mengancungkan ujung kerisnya siluman itu roboh semua menjadi abu.


"Kakang Soma, awas di belakangmu", teriak Ki Pasupati.


Seketika Ki Soma terpental jauh ke semak-semak belukar padepokan. Sesosok siluman dengan wujud tinggi besar berwajah kerbau memukulnya dengan keras. Sosok siluman itu adalah Gegendu Kebo. Dia ganas dan kejam.


Ki Pasupati melesat menangkap tubuh ringkih Ki Soma, darah segar mengalir dari mulutnya. Ki Pasupati menutup sementara aliran darahnya dengan menotok titik nadi Ki Soma.


"Kakang Soma, apa kau baik-baik saja, aku akan menghadapi siluman itu", kata Ki Pasupati, yang segera melesat dan menendang siluman itu.


"Hati-hati Kakang Pasupati, dia bukan siluman sembarangan", kata Ki Soma sambil memegang dadanya yang sesak.


Beberapa ranting pohon telah patah dan berjatuhan. Angin dingin dan menakutkan terus berhembus kencang.


"Ki Pasupati, biarkan aku masuk", kata Gegendu Kebo memaksa masuk dan menghancurkan penghalang gaib dari Ki Soma.


"Takkan ku biarkan kau menyentuh cucuku itu", kata Ki Pasupati melesat dan melempar tombak Ki Buru Semang, sebelum siluman itu menghancurkan tembok penghalang gaib itu.


Seketika tombak itu menerjang dan memburu siluman itu. Siluman itu memang sakti, dia masih bisa menangkis tombak Ki Buru Semang dengan tameng sakti siluman itu.


Tapi celakanya tameng sakti siluman itu hancur, melihat itu dia menghilang dalam kegelapan. Suasana kembali tenang dan lolongan anjing tak bersuara lagi. Diikuti oleh meredanya angin dan hilangnya awan gelap yang menyelimuti langit. Ki Pasupati terlihat lega, dengan raut wajah gembira dia memapah Ki Soma ke rumah persalinan itu. Bulan Purnama ke empat kembali bersinar menerangi Padepokan Kencana Pasupati.

__ADS_1


Dari dalam Dewi Kembang terlihat bahagia, dia sudah menyelesaikan proses persalinannya yang menegangkan malam itu.


__ADS_2