
Setelah kelahiran cucunya yang penuh dengan keajaiban den keanehan, Ki Pasupati berencana mengirim utusan ke Singa Mandala, sebuah kerajaan kecil di lembah Gunung Pasupati. Ki Pasupati berniat mengutus murid terbaiknya dua orang, sekaligus abdi setianya. Mereka adalah Si Punta dan Si Wijil yang telah lama mengabdi untuk Ki Pasupati.
Sore itu di pendopo Ki Pasupati duduk bersantai di temani oleh Ki Soma, mereka menikmati indahnya sore itu. Setelah sepakat akan menjemput Prayudha, maka Ki Pasupati memanggil Punta dan Wijil untuk menghadap.
"Mohon ampun tuanku, ada apa gerangan hamba berdua dipanggil menghadap", Punta bertanya dengan hormat di hadapan dua kakek sesepuh padepokan.
"Punta dan Wijil abdi setiaku, aku akan menugaskan kalian mengantar surat ini ke Prayudha di kerajaan Singa Mandala", jawab Ki Pasupati dengan penuh wibawa.
"Ampun tuan, hamba siap melaksanakan perintah tuan. Hamba mohon pamit", jawab Punya dan Wijil sembari memberi hormat.
Perjalanan pun mereka mulai menuju kerajaan Singa Mandala sore itu. Mereka berharap tidak kemalaman di tengah jalan. Maka langkah kuda mereka pun dipercepat. Ringkikan kuda mereka memecah hutan belantara di lembah kaki Gunung Pasupati.
Tiba-tiba Punta memberi isyarat untuk berhenti di tengah hutan dekat sumber air.
"Kakang, ada apa berhenti disini?" Wijil bertanya penuh keheranan.
"Wijil, kita istrhat sebentar, kita perlu minum air", sahut Punta sambil meminum air telaga yang bening itu.
"Baik Kakang, aku juga mau minum", kata Wijil sambil meminum air dari pancuran di atas telaga itu.
"Baiklah Wijil, dua jam lagi kita akan sampai di penginapan, perjalanan ke kota raja kita lanjutkan besok pagi" seru Punta dari atas kudanya.
Mereka melanjutkan perjalan dengan memacu kudanya cukup kencang. Hingga mereka keluar dari perbatasan hutan belantara hari mulai sedikit gelap. Di tengah senja yang remang-remang Punta dan Wijil beristirahat di sebuah penginapan.
"Wijil, cepatlah habiskan bekal kita, besok pagi-pagi sekali kita sudah harus berangkat!" seru Punta kepada Wijil.
"Baiklah Kakang, kita habiskan bersama", sahut Wijil.
__ADS_1
Punta duduk berhadap-hadapan dengan Wijil, sembari melahap bekal mereka. Sesekali Punta melempar pandangannya keluar jendela penginapan mengawasi keadaan sekitar. Punta memang dikenal sangat waspada dengan situasi, karena itulah Ki Pasupati sangat percaya padanya. Berbeda dengan Wijil, dia orang baik hati dan penurut, tapi kurang waspada. Keduanya memang partner yang tidak bisa dipisahkan. Akan selalu ada untuk memberi nasihat kepada orang yang dijunjungnya.
Malam semakin larut, Wijil sudah meringkuk tertidur pulas di sudut kamar penginapan itu. Sementara Punta masih belum terlihat tidur, dia sibuk memasang pelindung gaib. Dia memang selalu waspada dengan segala kemungkinan. Ia terlihat tertidur setelah ritualnya selesai.
Tengah malam itu, suasana hening menyelimuti hanya terdengar suara jangkrik dan belalang di sudut jalan. Tiba-tiba pelindung gaib itu bereaksi, Punta tersadar dan menghunuskan pusaka gaibnya berupa keris Mega Baya. Matanya mulai melirik ke kanan dan ke kiri. Nafasnya mendesis bagai ular, pertanda dia mulai memusatkan tenaga dalamnya.
"Bruuuaaakkk".
Dari arah kiri tiba-tiba sebuah tombak menghujam. Punta menangkis serangan itu dan menghindar ke arah tempat tidurnya Wijil. Beberapa kayu dinding kamar berjatuhan dan kamar penginapan itu mulai bergoyang seakan mau runtuh.
"hiaaattttt", "tringg, tring".
Suara mereka bertarung, benturan antara tombak dan keris itu menimbulkan bunyi nyaring. Percikan api mulai keluar bagai petir menyambar.
Wijil terbangun dari tidur karena kegaduhan suara malam itu. Belum sempat dia menarik nafas sebuah bogem melayang tepat ke arah perutnya. Seketika rasa mual yang amat sakit menerpanya, tubuhnya menggelinding terpental keluar penginapan. Dia masih bisa berdiri memegangi surat penting yang diberikan Ki Pasupati.
Sontak warga sekita bangun dan berlarian keluar rumah sambil membunyikan kentongan. Wijil bersembunyi ke arah rumah warga dengan wajah ketakutan. Beruntung warga mulai berdatangan dan prajurit penjaga juga datang mengamankan situasi. Melihat situasi yang kurang menguntungkan para begal itu melarikan diri ke tengah hutan. Beberapa prajurit mengejarnya.
"Tidak tuan, sama sekali tidak", jawab Punta pendek.
Punta segera mencari Wijil di tengah kerumunan warga. Situasi malam itu kembali tenang, beberapa pasukan penjaga memperketat penjagaannya. Punta dan Wijil kembali ke penginapan itu dan melanjutkan istirahatnya.
Suara kokok ayam jago pagi itu mulai bersahutan, tanda hari mulai pagi. Punta dan Wijil bergegas berangkat menuju arah kota raja. Mereka tetap dalam keadaan waspada walaupun sudah dekat dengan kota raja.
Sebelum siang hari, mereka sudah sampai di alun-alun kota, suasananya begitu ramai. Penduduknya ramah menandakan sebuah peradaban yang sudah maju. Kota raja itu tidak terlalu megah, juga tidak terlalu luas. Hanya suasana dan penataannya kotanya yang rapi membuat kota itu indah dipandang.
Punta dan Wijil menyempatkan diri untuk sekedar melepas pandangan ke sudut kota melepas lelah. Tak begitu lama mereka sampai di gerbang istana yang kokoh terbuat dari batu bata merah lengkap dengan ukiran sehingga terlihat megah. Ada dua penjaga gerbang yang bersiap di sana dan menghentikan laju kuda mereka.
__ADS_1
"Maaf Ki Sanak, apa tujuan Anda kemari?" tanya salah seorang penjaga yang berperawakan besar.
"Mohon maaf tuan, kami utusan dari Padepokan Kencana Pasupati, bermaksud menemui tuan Prayudha", jawab Punta dengan tenang menjelaskan tujuan kedatangan mereka.
"Mohon tuan-tuan menunggu disini, kami akan melapor kepada atasan", kata salah satu penjaga.
"Baik tuan", Punta dan Wijil menjawab dan menunggu dengan sabar.
Cukup lama mereka menunggu, hingga matahari benar-benar berada di atas kepala. Barulah penjaga itu datang menjemput mereka. Mereka berjalan menuju sebuah rumah kediaman pribadi tuan Prayudha. Di teras rumah itu, tuan Prayudha telah menunggu di kawal beberapa prajurit khusus.
Memang jabatan Prayudha bukanlah main-main, dia adalah Mahapatih dari kerajaan Singa Mandala. Perawakannya tinggi besar dan tegap berotot menandakan dia bukan orang sembarangan. Ilmu kanuragan dan ilmu kawisesan sudah setara dengan Ki Pasupati ayahnya dan Ki Soma guru spiritualnya.
Prayudha menyambut mereka dengan ramah dan penuh sendagurau. Punta dan Wijil di jamu bak tamu kehormatan.
"Punta, apakah ada hal yang penting sehingga paman datang ke sini?" tanya Prayuda sambil menikmati hidangan yang di sajikan dayang istana.
"Ampun, tuanku", Punta dan Wijil menyembah dan memberi hormat kepada Prayudha.
"Ampuni kelancangan hamba datang ke sini, tiada lain untuk menyampaikan pesan dari ayahanda tuan, Ki Pasupati", sahut Wijil memberikan surat itu kepada Prayudha.
Prayudha segera membuka dan membaca surat itu dengan seksama. Dari raut mukanya dia begitu bahagia dan senang.
"Baiklah, Punta dan Wijil besok aku akan pulang". "Untuk sementara kau bisa menginap di rumah ku ini" kata Prayudha dengan sopan.
"Terima Kasih tuanku" jawab Punta dan Wijil untuk segera memohon untuk duduk kembali.
Suasana begitu gembira terpancar dari pertemuan mereka, sembari menikmati langit sore yang cerah hingga menjelang malam. Prayudha mempersiapkan semua perlengkapannya dan menulis surat resmi untuk cuti satu Minggu kepada Sang Raja. Kepada sang raja, Prayudha bilang akan segera kembali secepatnya. Semua tugas tanggung keamanan dan Kepatihan di serahkan kepada Senopati Brajamusti di bawah komando langsung sang Raja.
__ADS_1
Dengan berat hati sang raja melepas dan merelakan Prayudha cuti seminggu. Sang Raja sampai mengantarnya ke perbatasan kota raja. Begitu besar perhatian raja kepada Prayudha saat itu membuat semua terharu.
Prayudha yang di temani Punta dan Wijil di kawal ketat oleh lima puluh orang prajurit khusus berjalan menyusuri lembah dan menaiki pegunungan untuk sampai di Padepokan Kencana Pasupati.