Kisah Pendekar Ramalan

Kisah Pendekar Ramalan
Belajar Ilmu Dasar


__ADS_3

Ki Soma berdiri memandangi lapangan luas di tengah-tengah hamparan yang hijau itu. Pagi itu Ki Soma akan memulai latihan dengan Satria. Dia telah menyiapkan semua peralatan termasuk membersihkan tempat latihan itu. Sebelum memulai latihan, kakek itu menunjukkan sebuah gerakan dasar dan mengeluarkan satu jurus pukulan jarak jauh.


"Duuuuuaaaarrrrr"


Satu bongkahan batu besar meledak dan langsung hancur berkeping-keping. Satria terperangah melihat kehebatan Ki Soma dengan matanya sendiri. Ki Soma langsung duduk bersila di tengah lapangan itu. Dia berkonsentrasi menurunkan tenaga dalamnya.


"Satria mendekatlah kemari" seru Ki Soma sambil menarik nafasnya dalam-dalam.


"Baiklah kakek" sahut Satria seraya bergegas menuju kakeknya. Dia duduk bersila di samping kakek tua itu.


"Satria apa kau memperhatikan semua gerakan kakek tadi?" tanya Ki Soma kepada cucunya itu.


"Iya kek" jawab Satria pendek.


"Itu adalah salah satu jurus Kakek yang menggunakan tenaga dalam dengan sedikit kombinasi gerakan sederhana. Sekarang kau akan belajar pengendalian Cakra atau tenaga dalam".


"Kakek, apa itu Cakra?" tanya Satria memotong penjelasan kakeknya.


"Satria, Cakra itu merupakan titik-titik pusat daripada sebuah energi yang berada dalam tubuh kita" jawab Ki Soma sambil menjelaskan pengertian dasar kepada cucunya itu.


Satria yang masih terlalu muda hanya bisa manggut-manggut antara mengerti atau tidak. Itu disadari oleh Ki Soma yang bisa menebak dari raut muka dan ekspresi yang mengkerut. Kakek itu memaklumi keadaan cucunya itu, sebab dia masih bocah yang belum berpengalaman.


Ki Soma cukup terkesan dia bisa mengerti teori dengan cepat, melebihi ayahnya Prayudha. Ki Soma semakin optimis dan bersemangat memberi dia teori tentang Cakra .


"Dengarlah Satria, ada tujuh bagian titik Cakra yang umum yang harus kau ketahui. Sekarang duduklah bersila, busungkan dadamu, dan tenangkan pikiranmu" kata Ki Soma memberi arahan kepada cucunya.


"Baik Kek" jawab Satria sambil membenahi posisi duduknya, dia menarik nafas panjang untuk membuat suasana hati dan pikirannya tenang.


"Ada tujuh titik Cakra pada manusia, yang pertama, Cakra Muladhara berpusat di tulang ekor" Ki Soma menyentuh bagian belakang Satria sehingga Cakra dasar ini terbuka.

__ADS_1


"Lalu yang kedua, ada Cakra Swadhisthana yang berpusat di bawah pusar. Cakra Maniphura berada di pusar. Cakra Anahata berada di dada. Cakra Wisudha terletak di tenggorokan. Cakra Adnya terletak di kening diantara alis mata. Dan yang terakhir Cakra Sahasra berada di ubun-ubun" kata Ki Soma menjelaskan semuanya tentang Cakra secara panjang lebar. Saat menjelaskan itu, Ki Soma dengan aliran energinya membuka secara gaib seluruh titik Cakra Satria tanpa ia sadari.


Ki Soma memberi semua pengetahuan yang dia punya, hingga Satria nampak kelelahan menerimanya. Wajahnya mulai kusut dan matanya mulai menyipit. Pandangan anak itu mulai kabur, dan mulai terhuyung. Secepat kilat kakek itu menangkap tubuh mungil cucunya.


"Aku lelah kek" anak itu lemas lalu pingsan. Ki Soma terkejut melihat kondisi Satria yang pingsan mendadak.


"Ya Tuhan, aku telah berlebihan, maaf kakek Satria. Tak kusangka dia belum kuat menerima semua ilmuku" kata Ki Soma dalam hatinya. Dia bergegas membawa Satria masuk kedalam rumahnya.


"Satria anakku, kenapa kamu nak? Ayah apa yang terjadi dengan Satria?" tanya Dewi Kembang panik dan ketakutan melihat anaknya dalam keadaan pingsan.


"Tenanglah Ni Dewi, anak ini hanya kelelahan. Aku akan mengobatinya" kata Ki Soma sambil merebahkan tubuh cucunya di sebuah ranjang kayu yang beralaskan tikar.


Ki Soma melafalkan beberapa mantra dan mulai mengusap wajah anak itu. Sebuah aliran tenaga dalam mengalir dari tangan kanan kakek tua itu. Sebuah usapan lembut mendarat di wajah Satria dan membangunkannya.


Wajah Ki Soma kembali tersenyum gembira melihat Satria yang sudah siuman. Dewi Kembang segera memeluk anaknya itu penuh kasih sayang. Air matanya kembali menetes di kedua belah pipinya. Suasana gembira menghiasi pondok itu hingga hari menjelang sore.


"Apa yang terjadi padaku ibu?" tanya Satria kebingungan seperti kehilangan ingatan.


"Jadi Satria tertidur ya" sahut anak itu dengan penuh kebingungan seakan dia tidak ingat apa-apa lagi.


Dewi Kembang yang sedari tadi mengamati keadaan akhirnya menarik lengan ayahnya menuju keluar pondok. Dewi Kembang prihatin dengan cara Ki Soma melatih hingga


menyebabkan Satria pingsan.


"Ayah, jangan terlalu keras melatih Satria, dia itu masih anak-anak" kata Dewi Kembang dengan nada yang sedikit marah.


"Iya ayah tahu, dulu ayah seumuran dia juga sudah latihan berat seperti ini Ni Dewi" sahut Ki Soma menenangkan anaknya yang sedang emosi dengan keadaan Satria.


"Ayah, jangan samakan Satria dengan ayah, beda waktu dan tempat" kata Dewi Kembang memperingati ayahnya.

__ADS_1


Ki Soma hanya bisa mengelus dada dan menarik nafas panjang melihat sikap anaknya yang begitu keras kepala. Dia sadar tidak akan berguna berdebat dengan anak semata wayang itu selain menuruti kemauannya.


"Baik Ni Dewi, besok ayah akan lebih berhati- hati" Ki Soma berjanji kepada Dewi Kembang.


"Ayah, jika terjadi sesuatu dengan Satria, aku tidak akan memaafkan ayah" kata Dewi Kembang mengancam ayahnya.


Setelah perdebatan panjang itu, Dewi Kembang segera masuk rumah dan mempersiapkan makan malam. Ki Soma seperti biasa duduk menyendiri memandangi langit sore yang kian remang. Cahaya merah jingga mulai meredup di ujung cakrawala pertanda malam akan datang.


Dia bernostalgia, mengingat-ingat kembali kenangan dengan teman seperguruannya Ki Pasupati yang menemaninya berlatih keras dari pagi hingga sore menjelang. Tidak menghiraukan teriknya panas matahari ataupun lebatnya hutan. Sahabatnya itu selalu ada disaat suka dan duka. Wajah tuanya kembali menampakkan kerutan-kerutan hitam dihiasi rambut yang kian memutih. Dia terus memandang langit jauh ke selatan hingga kedua matanya yang menyipit basah. Tanpa sadar dia telah menangis menyesali semua yang telah terjadi. Kenapa dia dulu menolak melatih Dewi kembang agar mau menjadi penerusnya.


Hingga petang menjelang, suara riuhnya kicauan burung tergantikan oleh suara belalang yang menyanyi di antara rerimbunan semak-semak. Kakek itu terkejut oleh sebuah sentuhan di bahunya, ternyata Dewi Sekarwangi menghampiri kakek itu.


"Kek, ibu memanggil kakek untuk diajak makan malam" kata gadis kecil itu sambil meraih tangan Ki Soma.


"Ayo Kek, ibu memasak masakan yang enak hari ini" kembali Dewi Sekarwangi berusaha menarik Ki Soma yang masih bengong merenung.


"Baik Ni Dewi" jawab Ki Soma terbata-bata seraya mengikuti langkah gadis kecil itu.


Gadis itu begitu kegirangan bersama Ki Soma dan keluarga barunya, sedikit pun dia tidak pernah ingat dengan keluarga raja. Ki Soma hanya pasrah mengikuti dari belakang lalu masuk menuju meja makan.


"Ayah, makan dulu, besok kalian akan latihan bukan" seru Dewi Kembang dengan ketus seakan tidak ada masalah di antara mereka.


"Iya Ni Dewi, Satria persiapkan dirimu besok latihan lebih berat lagi" jawab Ki Soma dengan nada bercanda.


" Iya Kek" Satria menjawab dengan girangnya sambil melahap semua hidangan malam itu.


"Ayah" Dewi Kembang kembali mengingatkan ayahnya agar jangan memberi porsi latihan berat kepada Satria.


" Tidak Ni Dewi, ayah hanya bercanda" sahut Ki Soma sambil tertawa terbahak-bahak.

__ADS_1


Mereka menikmati makan malam itu dengan penuh gembira. Hingga malam tiba mereka beristirahat dan menunggu fajar di esok hari.


Latihan di hari keduapun dimulai dengan latihan ilmu bela diri dasar.


__ADS_2