
Siang yang panjang dan melelahkan pun berlalu menyisakan kehancuran hebat di dimensi tempat latihan Satria. Puing serta bekas ledakan masih terlihat menghiasi tempat itu. Asap hitam masih bermunculan di beberapa titik akibat hutan yang terbakar hebat.
Di kamar itu masih tergeletak tubuh Satria dan Ki Soma yang terlihat di penuhi dengan luka. Terutama tubuh kakek tua itu, hampir di sekujur tubuhnya darah mengalir tanpa henti. Dewi Kembang menampakkan raut wajah yang ketakutan sepertinya tak sanggup melihat tubuh ayahnya serta anaknya terluka.
Dewi Sekarwangi berusaha menghentikan aliran darah itu. Dengan sekuat tenaga berusaha dia menutup beberapa luka fatal dari Ki Soma. Dia menguras semua tenaga dalam yang tersisa hingga nafas tersengal dan kakinya lemas. Gadis itu terhuyung dan ambruk tepat di samping tubuh Satria.
Senja mulai menutupi hari itu dengan cahaya remang-remang di sekitar pondok. Dewi Sekarwangi berusaha meraih tubuh Satria lalu dengan tangis yang tersedu dia memeluknya. Keadaan yang mengharukan mewarnai senja itu, mereka tidak bisa berbuat apa-apa. Mereka diam tanpa bisa berpikir dan pasrah kepada sang pencipta.
Malam semakin larut, mereka masih dalam keadaan diam menunggui Ki Soma dan Satria terbangun dari pingsannya. Satria masih terbujur lemas kini dipangku Dewi Sekarwangi dengan belaian halus. Sambil memeluk Satria erat, air matanya terus mengalir membasahi pipinya. Tetes demi tetes air mata itu jatuh dan menerpa wajah dari Satria.
Satria terbangun dan mengamati sekelilingnya dengan perasaan bingung. Dia terbengong lama tanpa bisa bersuara. Lidahnya kaku dan suara yang keluar tak terdengar. Samar-samar dia melihat sebuah pondok tua di atas sebuah gunung. Satria mendekat dan melihat seorang kakek tua dengan janggut panjang yang menjuntai. Rambutnya juga panjang dan berwarna putih layaknya kakek yang sudah tua dan berumur.
Langkah Satria mengendap dan berusaha mengintip dari balik pohon. Dengan mata yang setajam elang dia berusaha melihat apa yang kakek itu lakukan. Bola matanya menangkap banyak benda dan peralatan yang tak lazim baginya. Ada berbagai macam tanaman aneh yang membuat Satria geleng-geleng kepala.
Dia memandanginya tanpa berkedip dan seakan takjub melihat kejadian itu. Sebelum akhirnya sebuah suara mengejutkannya dan membangunkan Satria dari lamunannya.
"Hai anak muda bila kau ingin menyembuhkan luka, datanglah kemari di puncak bukit di sebelah timur. Di sebelah air terjun, ada pondok kecil, masuklah!" kata suara misterius itu dan menghilang.
Satria terkejut dan benar-benar terbangun dari tidur panjangnya. Dia terperanjat seperti baru habis mimpi di kejar setan.
Dia akhirnya sadar sepenuhnya dan mendapati tubuh sedang di peluk Dewi Sekarwangi. Dalam hati, Satria sangat senang ternyata Dewi Sekarwangi memeluknya. Dengan hati berdebar dia membalas pelukan gadis itu yang membuat semua terkejut.
"Satria, kau sudah sadar?" tanya Dewi Sekarwangi seraya melepaskan pelukannya.
Satria tidak dapat menjawab, hanya mengangguk pelan dengan wajah merah menahan malu. Dewi Kembang yang sedari tadi bengong, segera memeluk kedua bocah itu.
"Ibu senang, kau sudah siuman Satria?" kata ibunya sambil menitikkan air matanya kembali.
Kedua anak itu balas memeluk Dewi Kembang dengan penuh rasa haru bercampur gembira. Mereka bercucuran air mata dengan pelukan yang semakin erat.
__ADS_1
"Ibu, dimana keadaan kakek?" tanya Satria kepada ibunya.
Ibunya melepaskan pelukan dan mengarahkan pandangannya ke arah Ki Soma yang masih terbujur dengan luka di sekujur tubuhnya.
Satri melompat dan menghampiri tubuh kakeknya itu. Dia menggenggam tangan kakeknya, seraya memeluknya erat. Air mata kembali jatuh bercucuran dari kedua mata bocah itu.
"Kakek, kakek bangun kek?" kata Satria memeluk dan menggoyang-goyangkan tubuh kakeknya yang lemas di penuhi darah.
Dewi Sekarwangi yang iba melihat kondisi Satria dan kakeknya datang menghampiri. Dia membalut luka kakek itu dengan kain selendang yang dia pakai.
"Satria kakek tidak apa-apa, hanya perlu diobati", kata Dewi Sekarwangi menghibur Satria yang histeris memeluk tubuh kakeknya.
"Siapa, siapa yang berani melukai kakek?" tanya Satria dengan sedikit berteriak sambil memuntahkan semua emosi yang ada di dalam dirinya. Semua mata tertuju kepada arah Satria seakan menunjuk dirinya adalah pelakunya.
"Kaulah pelakunya", sahut Dewi Sekarwangi sambil menunjuk Satria dengan jarinya.
"Aku, tapi kenapa?", jawab Satria kebingungan seperti tidak ingat apa yang telah terjadi. Dia belum sadar dengan kekuatan yang mengendalikan dirinya hingga menjadi monster ganas penuh amarah.
Satria menggelangkan kepalanya tanda masih tak percaya dengan apa yang terjadi. Dia begitu kesal kenapa bisa dia mengamuk dengan jubah emas Garuda dan hampir membunuh kakeknya. Dia berpikir dirinya benar-benar konyol.
"Sudahlah, kita jangan berdebat lagi. Kita sebaiknya memikirkan obat untuk menyembuhkan luka kakek", kata Dewi Sekarwangi lagi memecah keheningan malam itu.
"Tapi bagaimana caranya? Ibu tidak mengerti tentang masalah pengobatan", kata Dewi Kembang sambil memegangi dagunya tanda sedang berpikir keras.
Suasana kembali hening, hanya hembusan angin yang menerbangkan dedaunan di luar jendela.
"Apakah di dimensi ini ada seorang tabib? Ataukah ada tanaman obat yang bisa digunakan?" Dewi Sekarwangi kembali bertanya dan membuat suasana menjadi kian hening.
Satria teringat pada mimpinya yang aneh tentang seseorang yang sudah tua di puncak bukit di timur. Dia masih mengingat kata-kata orang itu.
__ADS_1
"Aku ingat dengan mimpiku, mungkin ada hubungannya dengan pengobatan", kata Satria di tengah-tengah kebingungan yang melanda.
"Mimpi, mimpi apa?" Dewi Sekarwangi menatap Satria dengan sinis seakan tidak percaya dengan kata-katanya tadi.
Satria dengan wajah sedikit menengadah berusaha mengingat-ingat mimpinya kala itu. Dia percaya mimpinya tadi bukan mimpi biasa, sebab kejadiannya begitu nyata dan ada sebuah energi yang menariknya ke sana.
"Iya aku ingat, di puncak bukit sebelah timur di sebelah air terjun ada pondok yang di huni kakek tua. Kakek itu menyuruhku datang ke sana. Mungkin ada hubungannya dengan obat yang kita cari", kata Satria menceritakan semua mimpi yang dia alami saat pingsan.
Semua mata menatap Satria, seakan mereka tidak percaya dengan kata-kata yang keluar dari mulut bocah. Dewi Kembang malah tertawa tidak percaya dengan mimpi seperti itu .
"Satria, apa kau percaya dengan mimpi konyolmu itu?" tanya Dewi Kembang sambil meledek Satria.
"Tentu saja aku percaya, Bu. Aku akan pergi ke sana", kata Satria membujuk ibunya yang menunjukan gestur tubuh tidak percaya.
"Kau mau pergi ke sana? Bagaimana kalau ibu melarang?" Dewi Kembang bertanya dengan penuh rasa jengkel pada anaknya.
"Walaupun Ibu melarang, aku akan tetap pergi. Aku bertanggung jawab atas apa yang terjadi pada kakek", jawab Satria meyakinkan ibunya yang tidak setuju dengan jalan pikiran anaknya.
Semua terdiam dengan keputusan Satria yang bertekad untuk mencari obat. Malam semakin larut mereka masih berdiam diri.
"Jika kau pergi, aku akan ikut Satria", Dewi Sekarwangi menyela di tengah-tengah keheningan percakapan malam itu.
"Aku akan pergi sendiri, aku tidak mau melibatkan dirimu", jawab Satria sambil melirik Dewi Sekarwangi di sebelahnya.
"Aku ikut, karena hanya aku yang bisa menghentikan amukan cakra emas itu", kata Dewi Sekarwangi dengan nada kesal.
"Tapi?" suara Satria terhenti dan tidak bisa menolak permintaan Dewi Sekarwangi.
"Baiklah kalau begitu, Ibu tidak akan menghalangi kalian lagi. Berangkatlah kalian berdua besok pagi", kata Dewi Kembang menyudahi semua perdebatan panjang malam itu.
__ADS_1
Satria dan Dewi Sekarwangi tersenyum gembira dan bertekad akan mencarikan kakeknya obat. Mereka melakukan persiapan kecil malam itu. Bekal dan perlengkapan di jadikan satu untuk dibawa sat perjalan besok.
Tepat ketika fajar menyingsing Satria dan Dewi Sekarwangi memulai perjalan ke arah bukit timur, mencari tabib yang ada di mimpi Satria.