Kisah Pendekar Ramalan

Kisah Pendekar Ramalan
Racun Kala Pisaca


__ADS_3

Seketika itu, tubuh Satria dan Dewi Sekarwangi jatuh dan menggelinding di antara semak belukar dengan kondisi tangan yang masih berpegangan. Wajah Satria meringis menahan sakit akibat benturan dengan sebuah batu sebelum menyentuh tanah. Dewi Sekarwangi terlihat memegangi lengan dan kakinya yang lecet dan berdarah. Tidak itu saja, pelipis dan lutut Satria mengalami luka yang cukup dalam. Mereka dengan susah payah berdiri meraih batang pohon yang dekat dengan mereka.


Mereka terus merangkak naik dan mengatur nafas agar bisa stabil. Setelah mendapatkan tempat yang landai mereka berhenti sejenak dan menyandarkan tubuh mereka yang kelelahan. Mereka saling memandang dengan perasaan iba. Tangan Dewi Sekarwangi mengusap pelipis yang berdarah itu. Namun dengan cepat Satria mengelak dan menjauhkan pelipisnya.


" Jangan kau kotori tanganmu dengan darahku, itu tidak sopan", kata Satria sambil memandang Dewi Sekarwangi dengan wajah lemas.


"Tapi kenapa?" wajah Dewi Sekarwangi kebingungan dan membuang muka dari pandangan Satria.


Dewi Sekarwangi ingin sekali mengelus wajah tampan milik Satria. Dia ingin sekali mengusap darah yang menetes itu, lagi-lagi tangannya digemang oleh Satria. Suasana kikuk mulai terasa, apalagi Dewi Sekarwangi merasa tak di hargai oleh Satria. Hanya hembusan angin yang memecah keheningan diantara mereka. Tatapan wajah mereka bisu tanpa ada makna yang tersirat.


"Maafkan aku, bukan maksudku...", Satria mencoba menjelaskan dan memulai sebuah percakapan namun dia sendiri sulit untuk mengungkapkan sesuatu yang ada di hatinya.


"Sudah, jangan dibahas lagi", sahut Dewi Sekarwangi dengan ekspresi yang judes seakan sudah tidak mau lagi mendengarkan Satria.


Dengan keadaan seperti itu, Satria menyadari kalau tidak mungkin berdebat di tengah hutan belantara yang tidak diketahui tempatnya. Dia menarik tangan Dewi Sekarwangi dan berjalan tak tentu arah. Dalam perjalan mereka tak bicara soal apapun. Mereka hanya diam, keduanya di kejutkan oleh suara yang mengerikan.


"Hai anak muda, serahkan dirimu baik-baik kepadaku", kata suara dari arah depan yang membuat bulu kuduk berdiri.


Satria yang terkejut menghentikan langkahnya diikuti oleh Dewi Sekarwangi. Matanya mulai melepaskan pandangan ke segala arah mencari sosok suara itu. Raut wajah Dewi Sekarwangi mulai pucat mendengar suara aneh itu. Dia berdiri di belakang Satria dengan badan yang sedikit gemetar.


"Cepat mundur, sepertinya ada yang mengintai", seru Satria berbisik di telinga Dewi Sekarwangi.


Dengan pelan Dewi Sekarwangi melangkahkan kakinya mundur ke arah belakang pohon. Nafasnya sesak dan ada firasat buruk di dalam hatinya. Dia terus mengamati sekitar walaupun dengan badan yang masih gemetar.


Sementara itu, mata tajam Satria menangkap sosok tinggi besar sedang melesat di antara rerimbunan pohon. Dengan tubuh tinggi besar dia mendekati Satria.


"Hai, keluarlah kau, hadapi aku. Jangan jadi pengecut", Satria berteriak memanggil sosok yang bersembunyi di kegelapan.


"Hahaha, berani juga kau bocah ingusan", sahut makhluk itu dan segera menampakkan wujudnya.

__ADS_1


Angin dingin disertai hawa negatif yang berbau busuk menyeruak seiring kabut pekat itu mendekat. Dari pekatnya kabut itu muncullah sesosok raksasa dengan mata mendelik berwarna merah. Rambut kusut dan panjang serta kuku dan taring tajam siap menerkam Satria.


"Trrriiiiiiinnnnggggg".


Sebuah cakaran dari raksasa itu di tangkis oleh Satria menggunakan tenaga dalam. Dia sudah menyiapkan dan memusatkan aliran cakra emas untuk menjadi tameng di lengannya. Seketika raksasa itu terpental ke belakang. Dia sama sekali tidak menyangka kalau Satria bisa menangkis serangannya.


"Anak muda, tak kusangka cakra emas itu melindungi tubuhmu", raksasa itu semakin ngiler melihat aroma lezat dari tubuh Satria.


Air liur mulai menetes dan memenuhi mulut raksasa itu. Dia memandangi Satria dari ujung rambut hingga ujung kaki.


"Hehh....siapa kamu, kenapa kau menyerangku?" tanya Satria dengan nada marah dan bersiap memasang kuda-kuda menyerang.


"Namaku Kala Pisaca, aku akan memakan daging mu", sahut Kala Pisaca dan menyilap-nyilapkan lidahnya membayangkan daging lezat dan aroma cakra dari Satria.


"Untuk apa?" Satria kembali melontarkan pertanyaan dengan jengkel kehadapan Kala Pisaca


"Agar aku bisa menjadi sakti dan menguasai dunia, ha ha ha ha ha....!" jawab Kala Pisaca diiringi suara pekik tawa yang menyeramkan.


"Cuih, setetes darahku pun takkan kuberikan kepadamu. Hiiiaaaaaaatttt", Satria terbang dan melesat dengan sebuah pukulan di tangannya.


"Brruuuuukkkk".


Sebuah pukulan mendarat tepat di pelipis raksasa itu yang membuat tubuh besarnya terpelanting dan menerpa batu besar. Dengan susah payah Kala Pisaca berdiri dan mengamuk dengan mengeluarkan seluruh kekuatannya.


Dia memburu dan menerkam tubuh Satria kemanapun Satria menghindar. Satria tidak tinggal diam, beberapa kali dia menendang dan memukul raksasa itu dengan keras. Namun pukulan dan tendangan itu tidak berpengaruh.


"Hai Kala Pisaca, tangkap aku kalau bisa", teriak Satria yang mengejek raksasa itu dari atas tebing.


Bukannya membuat raksasa itu menyerah, malah kini dia meraung-raung dengan ganasnya. Batu dan batang pohon di lempar sekuat tenaga ke arah Satria. Satria yang masih minim pengalaman dalam segala hal sontak mendelik dan melompat dari atas tebing.

__ADS_1


"Sialan, awas kau raksasa jelek, akan aku cincang tubuhmu itu", kata Satria dengan wajah geram.


Dia mulai bersiap dan memejamkan matanya, dan memusatkan konsentrasi pada cakra emas mengalirkannya ke semua tubuh. Perlahan tubuh Satria menguning dialiri kekuatan itu lagi.


Dewi Sekarwangi terkejut dan menjadi cemas dengan Satria. Kejadian itu persis seperti awal saat Satria mengamuk dan tak terkendali. Gadis itu tambah menggigil melihat dua monster akan bertarung hebat di depan matanya.


Cakra emas itu mengalir dan mulai memadat membentuk jubah emas. Cakra emas itu memenuhi dan menutup seluruh tubuh Satria kecuali wajahnya yang masih kelihatan normal. Anak itu berteriak sekencang-kencangnya membuat bukit itu tergoncang bak gempa yang melanda.


Dari atas tebing bongkahan batu besar jatuh menggelinding. Pohon besar bergoyang dan angin kencang berhembus memenuhi area itu. Seperti badai di siang hari, matahari tiba-tiba tertutup oleh kabut hitam.


Satria yang telah mengumpulkan tenaga dalamnya segera melompat ke udara. Dia melesat dengan kecepatan tinggi dan melepaskan beberapa pukulan dan tendangan. Gerakan yang brutal itu membuat Kala Pisaca tidak dapat menghindar. Beberapa pukulan dan tendangan mendarat mulus di badannya. Satu persatu taring dan kukunya lepas, tidak kuat menahan serangan dari Satria.


Satria mundur untuk menarik nafas, dan mengatur ulang serangannya. Dia melihat raksasa itu masih mampu berdiri meskipun tubuhnya dipenuhi luka akibat serangannya. Dia mengamati tubuh gempal itu, dan menemukan kelemahannya.


"Oh, jadi di sana titik lemahnya. Baiklah jika dengan serangan biasa tidak akan bisa, tapi dengan pukulan cakra emas sempurna, monster ini akan hancur. Tapi aku akan mengamuk lagi", pikir Satria di dalam benaknya.


"Tapi apa boleh buat, monster ini lebih berbahaya dari pada aku", gumam Satria seraya memejamkan matanya.


Cakra emas kembali berkumpul dan melapisi seluruh tubuh Satria hingga wajahnya. Mirip seperti ketika dia mengamuk tempo hari lalu. Pemuda itu membusungkan dada lalu menarik nafas panjang. Semua tenaga dalam dialirkan dan berkumpul di tangan kanannya.


"Hiiiaaaattttt".


Satria membungkuk dan melesat maju memukul monster itu tepat di jantungnya.


"Brrrruuuukkkk".


Tubuh Kala Pisaca ambruk dan tewas seketika. Bau amis dan busuk segera muncul memenuhi area itu. Aroma busuk yang disebabkan energi negatif raksasa menyebar dengan luas.


Ternyata selain berbau busuk, area itu sekarang menjadi beracun akibat tubuh Kala Pisaca yang mengandung racun. Dewi Sekarwangi lemas seketika dan terkapar di bawah pohon. Satria yang masih di udara pun terkena dampaknya. Dia mulai merasakan aroma busuk yang dipenuhi racun telah masuk ke dalam tubuhnya.

__ADS_1


Seketika pandangan matanya mulai kabur dan kepalanya pusing. Tubuh perkasa itu jatuh melayang dari ketinggian di atas tebing itu.


__ADS_2